Memorabilia

Jingga membangun bisnis majalah online Memorabilia bersama Januar dan Karsha. Media ini memuat beragam kisah kenangan di dalam barang-barang yang hendak dijual atau diberikan kepada pembaca yang tertarik.

Namun, bisnis itu sedang diujung tanduk. Jumlah pembaca menurun seiring dengan berkurangnya pemasukan iklan yang menjadi tuang punggung Memorabilia. Di saat sulit itu, datang Pak Pram membawa proyek besar. Ia ingin menjual gedung biskop tua miliknya lengkap dengan segudang kisah kenangan. Semua bersemangar, kecuali Jingga. Ia selalu berusaha menolak tawaran Pak Pram. Di matanya, bioskop itu menyimpan trauma yang sangat mengerikan, yang selalu ia simpan sendirian.

Sebenarnya Jingga dilema, antara ingin menyelamatkan Memorabilia, atau terus melayani ketakutan masa lalunya. Selama ini, Jingga membantu banyak orang melepaskan kenangan pahit, tetapi tak mampu menolong dirinya sendiri. Dalam kalutnya Jingga, Januar mencoba masuk lebih dalam ke kehidupan gadis itu. Ia berusaha meyakinkan Jingga agar berani melepas kepedihan selama ini, bersamanya.


Jadi, sekitar 10 hari yang lalu, saya mampir ke library cafe di daerah Cinere. Nama tempatnya, Moco Library Cafe (InsyaAllah, bila tidak tergilas kesibukan lagi, saya akan buat ulasan tempatnya terpisah). Di sana lah saya menemukan novel ini.

Sheva, penulis novel ini sudah bukan nama asing buat saya dan pembaca omnibus Blue Romance lainnya. Ditambah lagi saya suka dengan tulisannya yang rapi dan kisah-kisah yang dibawakannya itu yang membawakan warm feelings. Berkat tulisannya di Blue Romance juga akhirnya saya menemukan My Blueberry NIghts.

Kembali ke Memorabilia, saya suka sekali bagian awal hingga tengah novel ini. Di bagian awal, ada rasa-rasa omnibus-nya karena beberapa kisah pemilik benda kenangan yang ceritanya beragam. Selain itu, latar Memorabilia yang adalah sebuah startup membuat saya bisa relate dengan ambience-nya, dengan orang-orang yang bekerja untuk Memorabilia hingga struggling moments yang mereka hadapi. I don’t mean that every startup has that but along reading Jingga and Memorabilia story’s here somehow gets you in the way that the story mirroring your story in some way.

Ide Sheva untuk membuat sebuah medium untuk melupakan dalam bentuk Memorabilia juga terasa baru karena sepengetahuan saya juga jarang ada yang mengangkat tema agak dreamy tapi ternyata bisa terasa real ini. Tema tentang kenangan, yang meski sudah banyak diadopsi dalam banyak kisah fiksi lain, di novel ini berhasil diangkat dan didramatisasi dengan cukup lihai oleh Sheva, lewat kisah om Pram yang cukup dalam dan meng-influence banyak orang.

Yang kurang buat saya cuma karena saya menemukan sedikit datar jalan cerita saat menjelang akhir novel ini. Struggle yang dirasakan oleh Jingga, yang sebenarnya mungkin traumanya cukup signifikan, menjadi melodrama yang dibesar-besarkan. In some way I thought that Jingga is pretty annoying in a way that she’s stubborn and a bit egoist. Though I knew that it was some kind of self-defense mechanism that she had. Still ..

Lo punya dua pilihan, Jingga. Terus-terusan merasa bersalah dan takut, atau ikut bergerak dengan hidup.

The romance is pretty much come in slowly. Not much but pretty sweet dengan karakter Januar yang di bagian akhir terbukti memang book-boyfriend-able . Hehhe. Aside from all the things I’ve mentioned above, this novel is so good and pretty much a nice reading. I wish you’ll read it when you feel like reading a novel with a bit of melodrama mixed with a familiar warm feelings in it -because it is also has a homey vibes with characters you’ll love to befriend with.

Kesedihan nggak bisa dipindahtangakan atau dilimpahkan kepada orang lain. Perasaan kayak duka itu justru harus selalu ada… supaya manusia jadi makin … manusia? Makanya kenapa shared sorrow is a half sorrow, karena yang sebagiannya lagi memang nggak akan pernah hilang.

Have a nice week and keep reading!


Title: Memorabilia
Author: Sheva
Release Date: Maret, 2016
Publisher: Bentang
Format: Paperback
Page Count: 300 pages
Genre: Indonesian Lit, Contemporary, Romance, Family, Melodrama

5 thoughts on “Memorabilia

  1. Apakah ini hanya perasaan saya saja, cerita Memorabilia ini sempat rilis dalam bentuk cerpen nggak sih? Kayaknya kenal plotnya. Ide ceritanya masih fresh. Menggali kenangan dari benda. Bisa dibayangkan seandainya benda-benda bisa bercerita tentang kenangan-kenangan itu.

    Like

    • Jadi ini tuh kayak medium bwt orang yg mau menjual benda yg penuh kenangan baginya. Valuenya dibalikkan ke calon pemilik yang baru dan setiap akan dijual, cerita dari benda kenangan itu yg juga mempengaruhi valuenya.

      Like

  2. Hi there! I just came across this post of yours and your blog in general and I couldn’t help but comment and tell you how much I adore your blog and love this post! Keep up the great work, I am going to follow you so I can keep up with all your new posts!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s