[Weekend Talks] Recovering

20160508_113816Sesi ‘weekend talks’ adalah hal baru di blog ini. Sesi ini saya gagas untuk bisa menampung blog post yang nantinya uncategorized karena isinya di luar review/meme/giveaway/listopia. Selebihnya juga karena saya kehabisan ide untuk ngasih judul buat postingan ini :peace:

Tahun ini, saya buat gol 66 buku untuk dibaca via GR reading challenge. Angka tersebut tercipta setelah saya cukup banyak angka yang dikurangi dari gol di tahun-tahun sebelumnya di mana saya biasanya membuat gol 100 buku dibaca dalam satu tahun. Tapi, angka tersebut sudah sesuai dengan perkiraan bahwa aktivitas dan kecepatan membaca saya tidak akan se-prima tahun-tahun sebelumnya karena kesibukan kerja dan mengajar.

Perkembangannya sejauh ini? Saat saya cek goodreads saat ini, saya baru membaca 15 dari 66 buku yang saya targetkan dan yang mengecewakan adalah angka tersebut baru tercapai di bulan Mei ini artinya saya ketinggalan 8 buku dari kecepatan rata-rata yang seharusnya. Can I still claim myself as a bookish? ๐Ÿ˜ฆ

20160508_114151

Bila kecepatan membaca saya menurun, lain halnya dengan kegiatan membeli buku yang rasanya tidak menunjukkan pengurangan. Berkat obralan yang ada saat saya mengunjungi tobuk Gramedia dan beli online di betterworldbook sampe periplus online, juga yang masih hangat, gelar obral buku impor BBW, saya malah progresif ke arah Tsundoku. Ha!

Oia, beberapa waktu lalu saya buat gallery post yang isinya foto-foto Rimba Baca. Sudah dua bulan saya menjadi anggota di perpustakaan pribadi yang terbuka untuk umum itu. Perpustakaan yang cozy banget dan punya koleksi yang kebanyakan judul yang sama dengan selera saya. Berasa jodoh jadinya. hehhe๐Ÿ˜€

Berkat bolak-balik Rimba Baca di hari Sabtu, tiap dua minggu sekali, saya jadi bawa pulang novel-novel paperback dan berkurang frekuensi untuk baca ebook. It’s a good thing, I’m sure of it. Karena kalau ngga salah saya pernah baca di sebuah post bahwa membaca buku paperback itu jauh lebih bagus untuk otak kita dibanding baca ebook. Yah secara sains-nya gitu, duh saya agak sama-samar mengingatnya ^_^;

Ngomong-ngomong soal mengingat, kemarin saya baca artikel menarik, judulnya: Why Read What We Can’t Remember? via Book Riot.

For many books, I forget even reading the book. For the better books, I remember hazy generalities and impressions.

Tulisan guest post dari James Wallace Harris di atas, somehow, pas banget dengan keresahan akan keterbatasan saya dalam meng-absorb apa yang saya baca dari buku dan memprosesnya menjadi pengetahuan yang useful, baikย untukย pribadi atau dituliskan kembali dan dibagikan ke publik.ย So far,ย what I think I had from every time I’ve finishied a book is a short conclusion and impressions.ย Dan saya terus bertanya-tanya, gimana ini caranya biar saya jadi tambah cerdas (in and out) seiring dengan bertambahnya buku yang saya baca?

This tells me if I want to remember a book I need to take notes, write a review immediately after I finish, link internet resources to document my points, and publish it somewhere my future self can find.

Potongan di atas akan jadi panduan saya. It is the least I can do for next time. Setidaknya sudah saya praktikkan dengan langsung buat review Playing for Pizza setelah saya selesai membacanya semalam.

Konklusi dari artikel Why We Read What We Can’t Remember kurang lebih seperti ini: Reading is about the moment. Reading is about being fully immersed in a book, and not memorization. Reading is about the experience of reading. Like listening to music, or seeing a painting, or going on vacation.

Sampai sini, saya udah curhat kalau; (satu)ย saya mengalami reading slump yang cukup lama, (dua) sayangnya saya one step closer to being a real tsundoku -not that I complain about it, (tiga) saya gabung di Rimba Baca dan sedikit banyak itu membantu recovery saya dalam mengklaim status bookish yang begitu saya banggakan, (empat) artikel bagus yang patut di baca di atas, membukakan mata saya akan pentingnya menulis review (setidaknya membuat jurnal baca) tiap selesai membaca buku. Tapi jauh lebih penting lagi untuk immersed ke dalam buku saat kita membacanya.

What a talk!๐Ÿ˜€

source: blinkist.com

Last thing though, saya baru menginstall aplikasi Blinkist. Productivity apps yang patut dicoba juga oleh bookish karena apps ini menyediakan summary (dan summary versi audio juga) dari buku-buku nonfiksi yang bisa membuat kita lebih pintar (kata iklannya). Berkat Blinkist saya jadi tahu insights di dalam buku Quiet by Susan Cain dan saat ini sedang membaca insights dalam autobigrafi Malcolm X. Sayangnya, free period penggunaan apps ini hanya 3 hari dan selebihnya disarankan untuk upgrade ke versi Plus atau Premium yang chargenya dikenai per tahun. Let’s see, kalau emang oke saya akan coba subsribe apps ini bulan depan.

That’s all for this weekend. See you around!

2 thoughts on “[Weekend Talks] Recovering

  1. “Perkembangannya sejauh ini? Saat saya cek goodreads saat ini, saya baru membaca 15 dari 66 buku yang saya targetkan dan yang mengecewakan adalah angka tersebut baru tercapai di bulan Mei ini artinya saya ketinggalan 8 buku dari kecepatan rata-rata yang seharusnya. Can I still claim myself as a bookish? ๐Ÿ˜ฆ”

    aduh ini jleb banget! apalagi akuuu >,< kakak aja segitu kurang. Yosh! baca postingan ini jadi bikin darah naik! aku harus bikin target serius juga ah. Makasih postingannya kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s