#183 Hujan Bulan Juni: Novel

hujan bulan juni

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

Tahu puisi Hujan Bulan Juni milik SDD? Perlu di-refresh?πŸ˜€

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak=jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Judul novel ini memiliki judul yang sama dengan puisi di atas, apakah lantas isinya juga sama? Merupakan pengembangan puisiΒ Hujan Bulan Juni? Truth be told, saya bahkan ngga tau jawabannya. Karena rasa-rasanya memang ada kemiripan antara keduanya. Ada bagian di mana novel ini adalah tentang rindu yang terpendam dan terpelihara. Tapi, yang saya lebih yakin adalah novel ini merupakan kisah cinta dua anak manusia yang cukup berkarakter. Sarwono yang zadul dan Pingkan yang easy going. Sarwono yang sedemikian menyukai Pingkan dan Pingkan yang terlihat tenang menghadapi (kadang) eksentriknya Sarwono.

Kisah mereka berdua diceritakan dengan gaya yang khas. Narasinya tidak mudah dinikmati, karena penuturan yang gamblang dan tak selayaknya novel umum yang kadang banyak basa-basinya. Singkatnya, narasinya cukup to the point. Meski narasinya to the point, topik bahasannya (khususnya saat Sarwono menjadi PoV) bisa melebar, mulai dari penelitian Sarwono yang adalah seorang dosen muda Antropologi lalu lompat ke selera zadul musiknya hingga membahas asal-usul keduanya yang memang bersebrangan: Sarwono yang jawa tulen dengan Pingkan yang punya darah Menado meski besar di Jawa.

Kalau ada lagu yang agak sedih, duh lupa judulnya -pokoknya yang tentang perbedaan jadi prahara, di novel ini justru Sarwono dan Pingkan berusaha sebisa mungkin tidak menjadikan perbedaan di antara mereka sebagai isu. Yah, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kerabat mereka yang malah menyoal perbedaan suku dan agama keduanya.

Over all, seperti kesan singkat yang saya tuliskan di goodreads, di saat yang lain gagal paham dengan novel pendek SDD yang satu ini, saya justru bisa menikmati sepenuh cerita: ikut tertawa dan sedih sepanjang menyaksikan kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Tidak biasa. Dan karenanya, saya tidak rela ketika novel ini berakhir dengan Tiga Sajak Kecil. Saya ingin tahu kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan.


Title: Hujan Bulan Juni
Author: Sapardi Djoko Damono
Release Date: September 2015, Cetakan Kelima
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback
Page Count: 144 pages
Genre: Indonesian Lit, Sastra, Romance.

8 thoughts on “#183 Hujan Bulan Juni: Novel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s