#181 Aksara Amananunna

IMG_20150514_000544

12 manusia
12 zaman
12 cerita
Semua berusaha menghadapi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.

Amananunna di zaman Sumeria harus merasakan pahitnya karma. Tokoh ‘aku’ di zaman modern berusaha lari dari sistem komunitas sadomasokis yang bagai apel terlarang. Kevalier d’Orange di Prancis abad pertengahan mencoba berkompromi pada sistem masyarakat dan keadaan dirinya. Seorang pemuda di Ginekopolis, suatu negeri di tahun 8475, diculik dan dipaksa melawan takdir. Ada juga kisah seorang gadis remaja yang terpaksa menyamar jadi laki-laki karena keadaan, mengikuti lika-liku nasib, dan akhirnya terempas dalam situasi tak terduga

 

Ngga bisa lebih setuju lagi dengan review-nya Selvi tentang buku kumpulan cerpen ini. Ya bagus, ya mengeksplor banyak hal, ya sangat pantas bertengger di 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2014 lalu. Dan membaca review-review lain yang bisa sangat mengupas buku ini, saya jadi minder duluan malah sempat mau mengurungkan niat untuk memposting review ini.

Dua belas cerita dengan dua belas karakter dengan 12 latar waktu serta tempat yang sama sekali berbeda, kesemuanya dipulas dengan lihai oleh Rio Johan. Dibuka dengan sebuah cerpen berjudul Undang-Undang Antibunuhdiri -bahkan judulnya saja sangat menarik! Tentang seorang Perdana Menteri yang kalang kabut akibat angka bunuh diri yang sangat tinggi di negeranya, macam wabah menular saja! Lalu, Rio berkisah tentang seorang laki-laki tampan yang terjerumus ke dalam sebuah Komunitas yang memfasilitasi eksplorasi aktivitas seksual di luar. Lalu, cerpen berikutnya memiliki judul yang menjadi judul utama penghimpun 12 cerita yakni Aksara Amananunna. Yang berkisah tentang amananunna yang berusaha menanamkan dan menyuburkan sebuah bahasa baru dan bermaksud membangun generasi.

Itu baru tiga cerita pertama, selebihnya kalian bisa menikmati cerita yang mengeksplor tema gender di cerita yang berjudul Kevalier D’Orange dan Ginekopolis (cerpen ini mengingkatkan saya akan sebuah tempat yang disebutkan dalam komik Saga meski tempat itu lebih tentang prostitusi sedangkan cerpen ini bukan). Dan pada cerpen-cerpen yang mengekplor hal-hal yang berbau seksual, keterbukaan Rio sangat terasa. Narasinya vulgar dan erotis. Apalagi di cerpen (panjang) yang diurutkan menjadi penutup dalam buku ini, saya sampai mual. Judulnya Susanna, Susanna yang mengeksplor tema gender sekaligus seks dan praktek homoseksual di latar tempat negeri Barat di abad 18 -di mana saat itu perilaku homoseksual mengundang hukuman yang tidak manusiawi. Meski itu saya merasa mual lebih secara subjektif, tidak kuat dengan cerita semacam itu, namun saya akui narasinya tetap saja bagus.

Tapi Rio yang lihai berkisah dan ceritanya berselera sastra ini juga mampu menghadirkan cerita yang sangat kontemporer seperti Tidak Ada Air untuk Mikhail atau kisah tragis dalam Riwayat Benjamin yang alih-alih absurd justru mengangkat ironi yang berusaha menarik empati. Ahh, bagaimana ini? Saya tidak punya favorit dalam buku kumcer ini karena semua cerpennya unggul.

Dan biarkan saya mengakhir postingan ini dengan menyimpulkan bahwa buku kumpulan cerpen ini adalah debut yang bagus. Semoga Rio Johan mampu melanjutkan kejeniusannya dalam memintal aksara di karya-karya selanjutnya.

Sudah baca Aksara Amanunna? Bagaimana menurutmu?

2 thoughts on “#181 Aksara Amananunna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s