#177 Kata Kota Kita

IMG_20150405_095945

Yang menyatukan kumpulan cerpen Kata Kota Kita justru adalah perbedaan latar kota. Seolah mengajak kita berjalan-jalan ke berbagai tempat dengan kisah-kisah yang berbeda. Setidaknya ada 14 kota yang akan kita kunjungi bersama dengan 17 cerita yang ada. Buat saya sendiri, ceritanya mulai menarik lepas cerita ke-empat (cerpen-cerpen diurutkan berdasarkan alfabet nama penulisnya).

Berikut adalah Kata Kota yang saya sukai,

New Orleans, Let Good Times Role karya Emha Eff. No offense tapi baru saat saya sampai di cerpen ini saya antusias dan mengekspektasi cerpen-cerpen selanjutnya. Berlatar french quarter New Orleans dan berusaha menyerasikan latar waktunya dengan perayaan Mardi Gras, menurut saya penulis berhasil mengangkat karakter internasional dengan narasi yang rasanya macam ditulis penulis luar saja. Cerpennya ringan dan pesannya terbaca, meski saat saya melihat bio penulis, saya rasa penulis menitipkan sebagian β€˜dirinya’ yang menyukai superhero ke dalam karakter utamanya; Maddie.

New York, Sparks karya Emilya Kusnaidi. Adalah sebuah cerpen romens yang manis. Latar New York yang gemerlap dan metropolitan, membuat cerpen ini punya rasa chick-lit.

Semarang, Mamon, Cintaku Padamu karya Idawati Zhang. Not until later pembaca akan tahu apa arti dari Mamon. Cerpen Idawati Zhang ini ditulis dengan bagus, saya diseret ke dalam drama kehidupan seorang ibu yang bertakdir dengan kemalangan yang mengeraskan hatinya hingga ia melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan para ibu dalam kisah Grimm bersaudara.

Strausbourg, Frau Troffea karya Lily Marlina. Adalah artsy short-story, memadu kisah misteri dengan memasang karakter yang memiliki kemampuan indigo dan sebuah lukisan berkekuatan magis. Menurut saya, Frau Troffea ini adalah cerpen paling intens.

Bandung, Di Balik Tirai Rindu karya Rizky Novianty. Adalah cerpen romens yang sedih, sedikit heart-breaking. Kehidupan rumah-tangga yang mesti berjalan dalam bayang ibu mertua yang mengendalikan suami dari karakter utama lebih dari batas kewajaran. Sampai ketika sang suami kembali, justru hanya untuk berpisah.

Ankara, Ankara Di Bawah Purnama karya Tsaki Daruchi. Adalah sebuah kisah yang membuat ngilu. Secara pribadi, buat saya purnama adalah momen yang paling ditunggu. Keindahan purnama selalu meneduhkan apapun gejolak yang terjadi dalam hati saya. Kini, cerpen ini mematahkannya, purnama yang adalah sebuah panorama laik untuk dinikmati, ternyata bagi sebagian orang lain adalah pemantik pilu. Well, cerpen yang, surprising.

Banjarnegara, Amerta karya Yulikha Elvitri. Sampai di cerpen terakhir ini, saya mendapati bahwa di samping romens, beberapa kontributor dalam kumcer ini memilih membuat kisah thriller. Cerpen ini adalah yang paling rapi dalam case-building. Elemen surprise-nya dapet banget. Well done.

Selain dari cerpen-cerpen yang saya sebutkan, kalian bisa menikmati cerpen romens yang sendu, cerpen yang bertema LGBT bahkan cerpen yang mengambil sudut pandang sang kota sebagai sudut pandang orang ketiga, membuat seolah kota-nya yang bernarasi dan mengontrol cerita. Menarik, bukan?

Selamat membaca!πŸ™‚


Informasi buku:

Title: Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project
Author: 17 Penulis Gramedia Writing Project Batch 1
Release Date: April 2nd, 2015
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: paperback
Page Count: 272 pages
Genre: Indonesian Lit, Contemporary, Thriller, Romance.

One thought on “#177 Kata Kota Kita

  1. Pingback: [Monthly Recap] April ’15 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s