#174 Belzhar

belzharIf life were fair, Jam Gallahue would still be at home in New Jersey with her sweet British boyfriend, Reeve Maxfield. She’d be watching old comedy sketches with him. She’d be kissing him in the library stacks.

She certainly wouldn’t be at The Wooden Barn, a therapeutic boarding school in rural Vermont, living with a weird roommate, and signed up for an exclusive, mysterious class called Special Topics in English.

But life isn’t fair, and Reeve Maxfield is dead.

Until a journal-writing assignment leads Jam to Belzhar, where the untainted past is restored, and Jam can feel Reeve’s arms around her once again. But there are hidden truths on Jam’s path to reclaim her loss.


Anak jaman sekarang, depresi atau galaunya karena cinta. Masih muda tapi sudah berani mengklaim diri merasakan cinta sejati. Maaf kalau saya agak sinis, tapi buat saya cinta sejati itu datang bersama kedewasaan bukan cuma gejolak dan letupan perasaan.

Nah, heroine kita di novel ini -Jam Gallahue-  mengklaim bahwa cinta yang dirasakannya kepada Reeve adalah cinta yang tak biasa, cinta yang sesungguhnya. Hingga saat Reeve meninggal, hidup Jam berantakan dan hampa. Kedua orangtuanya akhirnya memutuskan Jam untuk pindah ke The Woodern Barn. Sekolah asrama yang terkenal menangani anak-anak yang terjebak PTSD. Di sana, Jam tergabung di kelas spesial literatur Inggris dan bertemu dengan 4 anak-anak istimewa seperti dirinya. Tak hanya itu, lewat kelas spesial tersebut ia menemukan Belzhar. A magical place where she can reunite with Reeve and their memories.

my thoughts

“..that everyone had something to say, but not everyone could bear to say it. Our job was to find a way.”

Ide Meg Wolitzer oke sih. Lewat novel ini, ia berusaha untuk mengajak remaja yang senasib sepenanggungan Jam atau remaja mana pun yang sering terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, untuk mengobati diri mereka sendiri dengan menulis. Karena menulis itu berarti membebaskan dirimu. Another way to say something. A process of healing.

“Belzhar lets you be with the person you’ve lost, or in Casey’s case with the thing she’s lost, but it keeps you where you were before the loss. So if you desperately want what you once had, you can write in your red leather joural and go to Belzhar and find it. But apparently you won’t find anything new there. Time stops is Belzhar; it hangs suspended.”

Ada sentuhan fantasinya sedikit, yakni Belzhar itu sendiri. Gimana ngga interesting? Dengan menulis di sebuah jurnal, kamu bisa kembali ke masa lalu namun lebih baik. Hal seperti itu tentu saja sangat menggoda. Apalagi buat Jam, karena dengan menulis di jurnal yang diberikan Mrs. Quenell ia bisa bertemu kembali dengan Reeve dan mengulang indahnya kebersamaan mereka. What’s more interesting is that by revisiting the days-before-terrible-thing-happened, Belzhar also a release. Writing in the red journal was a way to put behind the past.

Meski ide ceritanya begitu menarik, apalagi sedikit banyak novel ini mengajak berpikir tentang karya-karya Sylvia Plath yang exceptional, sayangnya saya tidak jatuh hati pada karakter-karakter yang ada di dalamnya. I’m cheering them from here equally but also not fall for them equally. Dan twist yang disajikan penulis di bagian akhir cerita (tentang Jam dan apa yang sesungguhnya terjadi), saya akui sempat membuat saya kaget namun tidak menjadi faktor buat saya untuk menyukai Jam. Surprisingly, I’ve found the twist was weird.

“You’re all equipped for the world; for adulthood, in a way that most people aren’t,” she continues. “So many people don’t even know what hits them whe they grow up. They feel clobbered over the head the minute the first thing goes wrong, and they spend the rest of their lives trying to avoid pain at all costs. But you all know that avoiding pain is impossible. And I think having that knowledge, plus the experiences you’ve live through, make you definitely not fragile. They make you brave.”

Eh, tapi, Mrs. Quenell ini pengecualian. Lewat kelasnya dan insight-nya juga sharingnya atas asam-garam kehidupan yang penulis tampilkan di novel, mau ngga mau membuat novel ini thought-provoking. I guess we all need more Mrs. Quenell figure in this life.

Have you read Belzhar? What do you think about it?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s