#168 Galila

IMG_20150310_163959“Galila.”

“Hanya Galila?”

“Tanpa nama belakang.”

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. Menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antar agama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?


my thoughtsOke, ini karya Jessica Huwae berikutnya setelah saya membaca Javier (yang sebenarnya terbit jauh setelah Galila). Lagi, saya suka dengan penulisannya. Hanya, kali ini saya tidak begitu suka dengan cerita-nya itu sendiri.

Dari sinopsis, pertanyaan tentang mengapa Galila tidak memiliki nama belakang itu membuat saya berasumsi bahwa masa lalu (yang nanti perlahan akan terkuak) adalah tentang ayahnya. Dan sebenarnya ya, ada part di mana masa lalu Galila tentang ayahnya diputar kembali dalam cerita tapi ternyata oh ternyata, masa lalu Galila lebih lebar dari asumsi saya tersebut. Yang sayangnya, bagi saya, masa lalu yang dialami Galila itu cliche. I mean, buat standar saya terlalu drama dan ngga begitu baru.

Lokalitas yang diangkat dalam novel ini, ngga perlu dipertanyakan. Penulis mencoba menggarap nuansa dan ragam orang Indonesia Timur melalui Galila dan mengangkat karakter suku Batak melalui Eddie dan keluarganya. Somehow, it succeed in gaining the complication over the conflict that sewed in between Galila x Eddie relationship.

Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang statis. Doa harus dicari dan ditemukan terus-menerus. Diusahakan. Diperjuangkan. Komitmen. (hlm. 161)

Saya juga ngga ada masalah dengan karakter buatan Jessica, somehow saya malah suka. Baik dengan karakter Galila atau karakter pendukung lain seperti: Eddie dan Marco. And despite the drama, Galila x Eddie couple ini berhasil mengklaim soft-spot di hati saya #uhuk. Eddie adalah rich-boy pengecualian, because he’s a good guy at heart #sokpalingngerti, and how natural they ended up together, that’s where Jessica Huwae got me #whiteflag

Mungkin benar pengalaman hidup bisa mematangkan manusia. Bukan hanya pikiran namun juga fisik mereka. Akan tetapi waktu adalah penguasa yang bisa melakukan apa saja. Membebat luka, menghapus kenangan, mempertebal jarak, dan menguapkan rasa yang dulu pernah dengan tekun dipupuknya setiap hari. (hlm. 316)

To sum it up, I do love reading Galila but I wish for more from the story. Still, I’ll look up for another work of Jessica Huwae and maybe her next novel.


Title: Galila
Author: Jessica Huwae
Release Date: March 17th, 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback
Page Count: 331 pages
Genre: Adults, Contemporary Romance, Indonesian Lit.

Submitted for:

  • Lucky No.15 #7: Category – One Word Only!
  • 100 Days of Asian Reads – Book #2

One thought on “#168 Galila

  1. Pingback: [Monthly Recap] March ’15 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s