#167 Bulan Nararya

IMG_20150309_145301

"We are all mad, Dr.Newgate. 
Some are simply not mad enough 
to admit it." -Silas Lamb, 
Stonehearst Asylum (2014).

Mungkin kutipan tersebut terdengar sedikit ekstrim, namun saya percaya bahwa memang setiap kita, manusia, memiliki bibit untuk menjadi ‘gila’. TinggalΒ  seberapa besar ‘faktor luar’ merangsang potensial tersebut.

Dalam Bulan Nararya, pembaca disuguhkan kisah hidup Rara (Nararya) yang merupakan seorang terapis di sebuah klinik kesehatan mental di Surabaya. Lebih personal, Rara sebenarnya sedang bertarung dengan masa lalunya, bertarung dengan kesendirian yang ia rasakan paska bercerai dari Angga. Masalahnya, setelah bercerai dengan Angga (bahkan sebelum mereka bercerai), Angga menjalin hubungan dengan sahabat dan rekan kerjanya Moza. Mengenyahkan memori akan pasangan yang telah bertahun-tahun hidup bersama, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika mantan pasangan hidupmu kemudian melabuhkan cinta berikutnya pada seseorang yang selama ini menjadi tempat curahan hatimu.

Di klinik kesehatan tempat Rara mengabdi, setidaknya ada tiga klien (tidak menggunakan kata pasien untuk mereduksi aura negatif kata tersebut) yang ditanganinya dan mewarnai keseharian pekerjaannya. Sania, gadis menjelang remaja yang menghuni klinik dengan trauma yang bersumber dari kondisi keluarga yang disfunctional dan merupakan korban kekerasan. Residivis tanpa nama (lalu kemudian diberi nama Pak Bulan) yang kewarasannya tercerabut. Dan Yudhistira, a (former) fine gentleman sebelum mengalami mental breakdown akibat pernikahan yang bermasalah hingga terdeteksi mengalami skizofrenia. Berhadapan dengan mereka secara berkelanjutan, tak lagi hanya menjadi tanggung jawab melainkan sebuah habit yang terbentuk karena bagi Rara, kadang mereka menjadi sumber kebahagiaannya. Karena kadang senyumnya terkembang dan kepenatannya terurai akibat gestur tak sengaja yang didapatkannya dari mereka.

Tapi mungkin karena Rara tidak berusaha mengakhiri melankoli yang dialaminya paska perceraian, dan ada saja tantangan yang hadir dalam bekerja di klinik kesehatan mental, beban pikiran Rara malah menumpuk. Ia hampir-hampir mengira dirinya mengalami episode.

Lebih cepat lelah. Sulit memejamkan mata. Fokus berkurang. Cepat lupa. Sering terkejut oleh hentakan suara yang sebetulnya tak terlalu menyentak. Apa aku demikian tertekan? Apa aku memiliki ilusi tak wajar dari tirai yang melambai di jendela, seperti seseorang tengah mengintai? Saat menajamkan penglihatan, sosok itu menghilang, hanya bayang di kegelapan. (hlm. 73)

Bagaimana Rara memecahkan pertanyaan akan kewarasannya sendiri tersebut?


my thoughtsUntuk pembaca yang berpendapat bahwa belum ada novel psikologis yang bagus yang lahir dari penulis lokal, saya akan segera membungkamnya dengan menyodorkan novel ini. Karena demikianlah novel ini. Pembahasan psikologi manusia, di novel ini, memiliki pijakan yang kuat karena penulis sendiri merupakan mahasiswa psikologi (dan saya percaya) karya fiktif ini pun lahir tak luput dari pengalamannya mengimplementasikan ilmu psikologi yang dipelajarinya. Opini saya juga akan diluruskan dengan jawaban penulis tentang tujuan pembuatan novel ini, di sini.

Mempelajari pikiran manusia mungkin adalah hal yang paling menantang. Oleh karenanya, saya selalu terkesima dan jatuh hati dengan karya-karya fiktif (buku atau tontonan) yang menawarkan untuk mengekplorasi potensi sekaligus kerumitan pikiran manusia, termasuk novel ini.

Rara adalah karakter yang tak mudah dilupakan. Pertama, ia adalah seorang heroine yang tough but also vurnerable. Kebaikan hatinya adalah poin kekuatan sekaligus kelemahannya. Mengapa? Karena kebaikan hatinya lah yang diakui sebagai charm-nya meski kemudian kebaikan hatinya disalahpergunakan oleh orang terdekatnya dan, surprisingly, oleh Rara sendiri.

“Terapis yang hebat,” suara Bu Sausan lamat, “bukan mereka yang mampu menangani segala. Tapi yang tahu kapan harus meminta bantuan dari orang lain, di titik tertentu.” (hlm. 101)

Kedua, Rara adalah seorang yang terkontrol, salah satu kehebatannya adalah menyembunyikan emosi dan kelemahannya dengan rapi.Β  Kadang kita berpikir bahwa itulah caranya menghadapi persoalan, tapi kadang kehati-hatiannya dalam mengekspresikan kondisi hatinya itu seperti telah otomatis dilakukan karena ia terbiasa mengandalkan dirinya sendiri daripada menggantungkan diri pada orang lain. Was it good or not? Well, I think it depends.

Ketiga, Rara memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Terindikasi dari visinya akan pendekatan transpersonal (disinggung di permulaan cerita) untuk mengobati penderita sakit mental secara menyeluruh -meski membutuhkan waktu yang lama. Saya yang membaca novel ini, melihat Rara sebagai sosok akan terus saya semangati (meski hanya dalam hati) karena ia memenuhi dirinya dengan harapan dan visi yang solutif.

Sebenarnya, dalam novel Bulan Nararya ini bisa dikatakan ada sentuhan thrillernya. Yakni pada misteri kejanggalan-kejanggalan yang disaksikan Rara dan hampir membuatnya mengira pikirannya telah berhalusinasi dan berkonspirasi melawan kewarasannya. Pengemasannya menarik. Meski tahu bahwa Bulan Nararya adalah novel psikologi, saya tak mengira bakal digiring ke sebuah segmen dalam plot yang mampu memantik rasa penasaran akan kemana cerita ini dibawa..

Mataku basah. Orang-orang dengan hati bersih dan rapuh ini akan senantiasa membutuhkan dorongan ke arah kebaikan. Bila teman perjalanan tak memahami, saraf mereka semakin rapuh, retak, dan hancur sama sekali. Mampukah Diana? Mampukah Pak Robin atau Pak Bulan? Mampukah orang-orang di sekeliling Yudhis dan Sania memahami, membantu mereka tetap utuh sebagai manusia? (hlm. 164)

Ahh, there’s so much that I want to say (>.<). Tentang Sania, gadis yang kesehatan mentalnya terganggu dan di saat bersamaan mengalami fase pubertas. Bagaimana menyikapi pubertas bisa begitu menyulitkan bagi mereka yang mentalnya tak sehat. Tentang Pak Bulan, yang misterius namun kadang kata-katanya macam cenayang yang melihat ke dalam suasana hati Rara. Atau tentang Yudhistira, yang dibalik penyakit skizofrenia katatonik yang dideritanya, ternyata adalah karakter laki-laki yang husband material #eh.

Saya setuju dengan Rara, bahwa mereka justru adalah manusia dengan hati yang bersih sekaligus rapuh. Dan dengan apa adanya mereka, justru manusia yang lebih waras dari mereka seharusnya mampu belajar banyak dan mengambil kearifan hidup.

“Aku belajar satu hal dari Diana, Angga. Juga dari Yudhis. Kadang, sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak kita pahami.” (hlm. 205)

Last but not least, I want to thank Mba Sinta for giving us -reader- another thoughtful piece of work. Semoga makin produktif dalam melahirkan tulisan yang bermanfaar bagi orang banyak ya, Mba. Ditunggu loh kelanjutan serial Takudar-nya :wink


Informasi buku

Title: Bulan Nararya
Author: Sinta Yudisia
Release Date: September, 2014
Publisher: Indiva
Format: Paperback
Page Count: 256 pages
Genre: Psychology, Mental Health Issue, Indonesian Lit.

*diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku FLP

9 thoughts on “#167 Bulan Nararya

  1. Pingback: 100 Days of Asian Reads Challenge | lustandcoffee

  2. Pingback: [Movie Review] Two Days One Night « Faraziyya

  3. Pingback: Beragam Resensi Novel BULAN NARARYA | Journey of Sinta Yudisia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s