#166 Sophia & Pink

IMG_20150309_125253Sophia & Pink adalah novel yang berkisah tentang kehidupan Sophia, seorang gadis remaja yang energetik. Ia bersekolah di SMA Utama, di pusat kota Surabaya dan memiliki teman yang banyak karena kepribadiannya yang hangat. Sophia hidup bersama Bundanya, single parent, dan tinggal bersama mereka adalah Nenek Run. Di keluarganya dari garis Ibu, ada juga Tante Yuna. Ya, dalam keluarga Sophia, yang kurang hanya sosok laki-laki dewasa.

Kehidupan Sophia sebenarnya adalah kehidupan yang menyenangkan untuk disimak. Sophia memiliki seorang nenek yang exceptional, teman-teman yang menyenangkan, bundanya yang baik dan penyayang serta seorang tante yang baik hati namun skeptis terhadap laki-laki. Warna lain yang mungkin dialami Sophia, yang sebenarnya dialami remaja lainnya dalam masa pubertas adalah perasaan suka terhadap lawan jenis. Sophia sendiri tidak pernah benar-benar memikirkan hal tersebut sebagai hal yang memusingkan melainkan kawan-kawannya lah, dan Nenek Run, yang cerewet. Sophia punya hal-hal lain yang lebih menyita perhatiannya: ketidaknyamanannya terhadap keberadaan siswa baru bernama Pink yang serba sempurna dan kesedihan yang sedang menggelayuti sang bunda yang sangat dicintainya.

Bagaimana Sophia melewati semua itu?


my thoughtsMembaca Sophia & Pink, saya seperti ditarik kembali mengenang masa-masa SMA. Saya mungkin cukup energetik saat SMA dulu tapi tidak se-positif Sophia. Narasi yang digunakan Mba Sinta pun sangat enak untuk dinikmati. Membaca kehidupan sekolah dan keluarga Sophia adalah sebuah hiburan.

Asril cari posisi, Novan ikut-ikutan. Vandes tercelup dalam situasi heboh mencari perhatian. Teman-teman perempuan juga ikut-ikutan kompak mendatangi Pink. Kenapa bisa begini, sih? Apa yang salah? Sophia sewot sendiri. Selama ini, dia toh tak pernah jadi perhatian atau cari-cari perhatian. Semua orang di sekolah ini mendapatkan porsi sama. Memang, ketika ada anak baru datang, memancing perhatian. Tapi yang satu ini beda.

Si wajah Oriental.

Ramah atau pura-pura ramah? (hlm. 68)

Antara Sophia dan Pink terjalin rivalitas yang tak kasat mata. Wajar saja seorang Sophia yang ceria, jatuh cemburu kepada pendatang baru Pink yang inner dan outer-nya terlihat sempurna. Bagusnya, Sophia tidak terjerembab ke dalam perasaan benci atau mendendam. Toh, ketika ia berdiri di pijakan yang sama dengan Pink dan bisa melihat sesuatu dari persepektif Pink, Sophia menyadari banyak hal yang pada akhirnya malah membuka persahabatan baru antara ia dan Pink.

Dari Sophia juga, kita diajak untuk menjadi dewasa dalam menyikapi tantangan-tantangan yang kehidupan berikan kepada kita. Karakter Sophia berkembang dengan menyaksikan kehidupan rumah tangga kedua orangtuanya yang mesti kandas di tengah jalan. Dan ketegaran Sophia tak hanya terbangun dari hal itu tapi juga dari kenyataan bahwa ibunya mengidap kanker (spoiler).

Sedikit banyak, saya bercermin kepada Sophia. Dalam hati, saya bersorak untuk menyemangati Sophia. Karena saya tahu bahwa sosok Sophia adalah sosok yang tak bisa saya gapai meski saya dan Sophia menghadapi persoalan yang sama –semacam pelampiasan (duh maaf, kenapa jadi personal begini T.T).

Sophia adalah pribadi penyayang dan lebih memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Terlihat saat ia siaga menolong persoalan yang dialami sahabatnya. Meski pada akhirnya ia mesti memikirkan dirinya sendiri karena cobaan yang dihadapinya pun menguras semangatnya, setidaknya ia menemukan orang yang tepat untuk berbagi. Hingga kemudian ia beralih untuk berkeluh kesah melalui medium blog (tentu saja setelah berdoa dan berkeluh kepada Yang Mahakuasa) dan merasa terbantukan karena perspektifnya jadi lebih jernih dan ia jadi tidak gegabah dalam melihat persoalan.

Apa Bito tak memahami bahwa di dunia ini ada ratusan atau bahkan ribuan bahasa? apa di kepalanya hanya ada satu ragam bahasa komunikasi: bahasa orang tuli? Sesepi apa dunia dalam sunyi, tanpa orang lain dapat memahami dan kita pun tak dapat menyampaikan pendapat? (hlm. 62)

Seperti dikatakan Mba Sinta, meski Sophia & Pink adalah novel bersegmen remaja, ia juga merupakan novel psikologis. Dimasukkannya tema psikologis tersebut melalui karakter Bito yang tuna rungu (sahabat Sophia) dan mama Pink yang depresi dan memiliki OCD. Mba Sinta mengajak kita melihat lebih jernih, berusaha memahami kondisi manusia yang memiliki kekurangan atau tidak stabil mentalnya. Mungkin juga (saya katakan mungkin karena ini adalah asumsi saya sebagai pembaca) untuk mengajak kita -yang membaca novel ini atau ajak secara lebih luas lagi-, untuk berbuat kebaikan lebih dari yang dibutuhkan.

Last but not least, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca para remaja. Namun, sangat pantas pula bila pembaca dewasa mengambil pelajaran atau sekadar nostalgia masa-masa SMA karena membaca novel ini. Jadi, apa lagi yang kamu tunggu?!

Cinta tidak mudah dimengerti.
Sebab, selain sisi kebahagiaan, cinta juga menyimpan rasa sedih, pengorbanan, dan rasa tulus untuk memaafkan. (hlm. 176)


Informasi buku

Title: Sophia & Pink
Author: Sinta Yudisia
Release Date: June, 2014
Publisher: DAR! Mizan
Format: Paperback
Page Count: 180 pages
Genre: Young Adults, Contemporary, Indonesian Lit.

*diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku FLP

One thought on “#166 Sophia & Pink

  1. Pingback: Update Peserta Lomba Resensi Milad FLP ke-18 - FLP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s