#165 Javier

Javier Mahel, penulis best seller yang karya-karyanya pernah meraih penghargaan sastra dan diterjemahkan ke beberapa bahasa, mengalami “writer’s block” panjang. Javier hanya punya sisa waktu 30 hari untuk menunaikan kewajibannya menyetor naskah kepada penerbit. Atau, tamatlah riwayatnya.

Masalahnya, bagaimana bisa menulis novel roman kalau hidupnya sendiri jauh dari cinta?

Bernadus Tirto, seorang prajurit muda, terantuk pada pilihan mengejar karier yang bisa menyelamatkan dirinya–juga masa depan keluarganya–atau pilihan untuk memperjuangkan kekasihnya yang jelas-jelas berasal dari latar belakang dan status sosial yang berbeda dengannya?

Ada rindu yang tak sanggup terucapkan, ada jalan-jalan panjang berliku yang harus ditempuh dan keputusan-keputusan berbuah sesal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kunjung usai. Benarkah bahwa sesungguhnya, cinta, tak pernah sesederhana kelihatannya?


Ini kali pertama saya membaca karya Jessica Huwae. Akhirnya! Lalu, kesannya? Saya suka writing style Jessica Huwae yang neat. Lincah dengan diksi dan tata bahasa yang baik dan benar. She had me there.

Novel ini berkisah tentang Javier, penulis tersohor, yang mengalami writer’s block. Lalu, demi menyelesaikan naskahnya yang harus rampung dalam waktu kurang dari satu bulan, ia mengasingkan diri dan tinggal di sebuah vila di Puncak. Di sana ia mendapatkan ceritanya, yang nanti akan kita dapatkan juga diceritakan dalam novel ini yang merupakan kisah Bernardus Tirto. So, yes, ada dua kisah cinta dalam novel ini. How it goes and how it ends, kalian baca novelnya aja yaπŸ˜‰

Menulis sebagai profesi

Javier berbagi banyak insight tentang menulis dan menjadi penulis. Inspiring buat writer wanna-be yang kebetulan membaca novel ini. Antara lain:


Kami ini, penulis, seperti orang yang berjalan dalam tidur dengan mata terbuka.Ada yang bilang menjadi penulis adalah kutukan. Masalahnya, menjadi penulis itu tidak pernah segampang kelihatannya. Kau duduk, menatap layar komputer, dan berharap kata-kata akan segera membanjiri kepalamu. Kenyataannya tidak begitu. Menulis itu butuh stamina panjang. Kau melakukan rutinitasmu untuk memancing ide seperti cara orang menyiapkan canang saji. Kau atur jadwal pada jam-jam produktifmu, mengatur lampu baca, musik yang kau putar, secangkir teh jahe, lantas mematikan semua alat elektronik dan koneksi internet yang sering menjadi distraksi, lalu berharap inspirasimu akan datang seperti roh yang menunjukkan penampakannya.Β  Sayangnya, lagi-lagi tak semudah itu. Kadang dia muncul dan membuatmu mengetik seperti kesetanan. Kadang dia tidak menampilkan dirinya bahkan sampai berminggu-minggu. (hlm. 13)


Pada dasarnya memilih hidup di dunia seni berarti kita telah sepakat untu hidup di jalan yang sunyi, kadang mencipta dalam senyap, karena berkarya lagi-lagi sebenarnya bukan perkara laku atau tidak laku, digemari oleh pasar atau tidak, melainkan perkara mengendapkan dan menuangkan rasa. (hlm. 19)


“Kamus itu nyawa,” ujar Rosi sedikit bertempo. “Dia bisa jadi panduan saat kau hilang arah dan siraman air segar saat kau merasa lahan tulisanmu mulai kering. Saat kau menggunakan suatu kata terlalu sering atau kau mulai bosan dengan apa yang kau tulis, mungkin kau kurang banyak membaca. Sebuah buku tidak akan kehilangan nyawanya bila kau rajin membuka kamus dan piawai menggunakan kata-kata yang terdapat di dalamnya.”

Rosi mengajarkanku untuk tidak menjadi penulis malas dan manja, yang selalu menggantungkan segala sesuatu pada kerja keras editornya. Malas mencari tahu tentang bagaimana penulisan yang benar, kata serapan yang dipakai, atau bagaimana membedakan penggunaan kata berawalan. (hlm. 22)


Selain inside kehidupan penulis dari karakter Javier, Jessica Huwae juga menciptakan karakter yang juga penulis untuk menjadi teman Javier yakni Saosan. She’s a sophisticated writer. Far brighter than Javier, dan adalah seorang penulis yang karyanya selalu laris manis di pasaran. Dan untuk menyeimbangkan atmosfer dunia penulis, Jessica Huwae juga menghadirkan karakter Rosi yang merupakan seorang editor andal dan Herman Harahap si kritikus sastra yang pena-nya tajam. Kurang apa lagi coba?

Maaf kalau review ini lebih menghadirkan poin-poin tentang profesi dalam dunia kepenulisan. Hal ini demi menyesuaikan tujuan review ini yang diikutsertakan ke posbar BBI bulan Februari yang bertema profesi. Lebih dari itu, novel ini menghadirkan kisah cinta. Yang buat saya sebenarnya idenya ngga terlalu baru. I’ve read it somewhere, but unfortunately can not recall much about it.

However, saya suka banget dengan narasinya Jessica Huwae (diulang lagi impresinya. hehheπŸ˜€ ). I’ll read more of her works.


Title: Javier
Author: Jessica Huwae
Release Date: December 6th, 2014
Publisher: Bentang Pustaka
Format: Paperback
Page Count: 264 pages
Status: Read in February 2015
Genre: Contemporary Romance, Indonesian Lit.

Tema: Profesi

Also submitted for:

  • NARC: Category – What’s In a Name
  • Lucky No.15 #6: Category – Something Borrowed

5 thoughts on “#165 Javier

  1. Pingback: [Monthly Recap] February ’15 | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: #168 Galila | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: NARC 2015: January – April Update | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s