#164 Just One Day (Satu Hari Saja)

Impuls, menurut KBBI daring adalah rangsangan atau gerak hati yang timbul dengan tiba-tiba untuk melakukan sesuatu tanpa pertimbangan. Dan salahkan impuls, Allison Healey memilih menjadi Lulu dan mengiyakan ajakan Willem untuk ke Paris. Selain itu mungkin karena memang Paris selalu ada dalam benaknya, hanya saja tur yang diikutinya saat itu membatalkan rencana ke Paris karena alasan mogok kerja. Jadi, keinginan itu telah ada dan ‘kebetulan’ seseorang memintanya.

Willem yang menarik dan menebarkan feromon ke wanita-wanita yang ditemuinya (effortlessly) juga mungkin adalah alasan kuat lainnya. Seumur hidupnya, Allison adalah gadis dengan hidup yang monoton dan terkendali. Wajar saja bila gagasan-gagasan untuk mencoba hal yang baru atau impulsif itu tiba. Willem adalah sebuah kecelakaan yang meninggalkan noda indah, pikir Allison. Sampai keesokan harinya, Willem menghilang tanpa jejak. Meninggalkan Allison sendirian di tempat yang asing dan .. ketakutan.

Aku sudah merasa kosong sejak lama. Lama sebelum Willem datang dan pergi mendadak. –halaman 243

Liburan selesai dan Allison terhempas kembali ke kehidupan nyata. Allison yang hatinya terluka, tak kunjung sembuh patah hatinya dan membuat kuliahnya berantakan. Ia jadi lebih pemurung dan hubungannya dengan sahabatnya Melanie pun merenggang. Beruntung salah satu pembimbing mahasiswa di tempatnya berkuliah berinisiatif untuk mengajaknya bicara dan mengevaluasi aktivitas perkuliahannya. Hasilnya, ia merombak mata kuliah yang diambil dan masuk ke kelas Shakespeare Out Loud.

Shakespeare dan Twelfth Night adalah dua topik yang berpotensial membuka luka lamanya namun, di kelas itu ia berteman dengan Dee dan itu cukup membuat harinya sedikit berwarna. Sayang, kadang cobaan selalu ada di ujung jalan fase-fase kehidupan dan itulah yang terjadi: persahabatannya dengan Dee pun teruji. Tapi itu tak berlangsung lama karena Allison berbaikan dengan Dee, terima kasih kepada simulasi drama Twelfth Night di kelas Shakespeare Out Loud.

Barangkali itulah maksudnya kebebasan. Ada harga yang harus dibayar. Empat puluh tahun melintasi gurun pasir. Atau menghadapi amukan orang tua yang sangat jengkel. –halaman 279

Allison membuka diri, menunjukkan identitasnya yang sebenarnya, kepada Dee. Dan sudah saatnya juga untuk Allison membuat keputusan yang sama kepada kedua orangtuanya, meski mungkin hasilnya tidak akan bagus terlihat. Sedikit lega telah mengutarakan segalanya ke orang-orang terdekat, setelah itu Allison bertekad untuk kembali ke Paris di liburan akhir semesternya. Mencari Willem … dan mencari jawaban atas keterpurukan yang menghampirinya selepas pengalamannya menghabiskan waktu sehari bersama Willem.

“C’est courageux d’aller dans l’inconnu,”


my thoughtsWell, untuk segi cerita dan petualangan yang terdapat didalamnya, saya sih suka. Siapa yang ngga akan suka “diajak” jalan-jalan ke Paris (dan nanti di 1/3 akhir adalah petualangan ke Amsterdam). Konflik batin-nya sih, agak nyangkut sedikit -tentang krisis identitas. TAPI whiny-nya Allison ini ngga nahan deh. Dia bisa jadi adalah heroine yang unlike-able (at least for me). Saya bahkan mengangguk-angguk mengiyakan opini di salah satu review tentang novel ini di Goodreads kalau Allison ini Mary Sue -iya banget. Untungnya karakternya berkembang dan di bagian akhir saya sudah ngga terlalu geregetan lagi sama Allison. Hehhe.

Lalu, tentang karakter Willem. Entah ya, Willem ini seems likely to be everybody’s boyfriend tapi sayang hal itu ngga tersampaikan dengan baik. Maksud saya, Willem was just great in Allison’s mind. But to us, reader, he (just) sounds great. Period. We never really got to know him. Well, sekalipun karakternya ngga ada yang bener-bener nyangkut dan bisa difavoritkan. Bahkan Dee sekalipun -yang terlihat lebih menarik daripada yang lain. But I admitted that, the ending makes me couldn’t wait any longer to continue reading the sequel: Just One Year. Bon chance!


Title: Just One Daya (Satu Hari Saja)
Author: Gayle Forman
Release Date: Februari 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: paperback
Page Count: 400 pages
Status: Read from February 01 to 05, 2015
Genre: Contemporary Romance, New Adult, Realistic Fiction, Travel
Source: Borrowed from Kak Luna @ Clair de Lune

atmb_add_book-70x25


Submitted for: Lucky No.15 #5: Category – Something Borrowed

One thought on “#164 Just One Day (Satu Hari Saja)

  1. Pingback: [Monthly Recap] February ’15 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s