#158 Before I Go To Sleep

Title: Before I Go To Sleep (Movie Tie-In Edition)
Author: S.J. Watson
Release Date: September 9th, 2014
Publisher: Harper
Format: Mass Market Paperback
Page Count: 363 pages
Genre: Adults, Contemporary, Psychological Thriller


 “What are we, if not an accumulation of our memories?” -page.156

Before I Go To Sleep adalah sebuah thriller drama yang menceritakan Christine, seorang perempuan penderita amnesia. Amnesia yang dideritanya bukan amnesia biasa. Jenis amnesia, yang menurut buku, termasuk langka. Christine berada dalam kondisi tidak bisa mengingat apa yang terjadi di masa lalunya dan hanya hidup di ‘hari ini’ dan esoknya, kondisinya kembali total amnesia. Begitu seterusnya. Otak Christine kehilangan kemampuan untuk membentuk memori baru atau mengingat memori lama. Yang ada di dalam bank memorinya, terakhir, adalah ingatan saat ia berusia 20 tahun. Sedangkan kini, ia telah menjadi wanita berusia akhir 40an. 

“I can’t imagine going on like this for much longer. I know I’ll go to sleep tonight, then tomorrow I will wake up and not knowing again, and the next day after that, forever. I can’t imagine it. I can’t face it. It’s not life. It’s just an existance. Jumping from one moment to the next with no idea of the past, and no plan for the future. It’s how I imagine animals nust be. The worst thing is that I don’t even know what I don’t know. There might be lots of things waiting to hurt me. Things I haven’t even dreamed about yet.” -page.196

Setiap pagi, ia akan kebingungan tentang siapa laki-laki yang menemani tidurnya; tentang mengapa wajahnya menua dan tidak seperti yang ia ingat terakhir kali, tentang apa yang sebenarnya menimpa dirinya. Namun Ben selalu di sana. Menjelaskan poin-poin penting tentang kenyataan yang terlewatkan Christine. Mengulang penjelasan singkat itu setiap hari. Tapi kemudian muncul telepon dari orang yang mengaku sebagai Dr. Nash; seorang dokter yang sedang (bersamanya) menjalani treatment untuk jenis amnesia langka yang dideritanya.

Don’t trust Ben, begitulah yang tertulis di halaman pertama di jurnal harian yang dimilikinya. Tapi Ben-lah yang selalu berada disampingnya setiap pagi, saat semua kembali menjadi memorinya menjadi lembaran putih. Kosong. Lebih dari itu, yang Christine rasakan adalah getir dan duka yang terbarui setiap pagi. Setiap hari. Masih ada kah hari esok untuknya bila tidak ada masa lalu yang bisa mendorongnya mengekspektasi masa depan?


My Thoughts: Kesan pertama saya saat menutup lembar terakhir novel ini adalah capek. Exhausting. Kecemasan, ketakutan, kesedihan dan melankoli Christine menjalari saya. Seolah saya ada di posisinya. Its a sign that the novel was a good piece to read. It is.

Saya tidak mengerti dengan sugesti Christine: Don’t trust Ben. Kenapa? Bukankah ia yang selalu mendampingi Christine? Meski kemudian Christine mendapati Ben banyak berbohong, bukankah itu dilakukannya agar Christine tidak kesal dan menyalahi dirinya sendiri atas kemalangan yang dia alami? Kemudian diulanginya lagi, Don’t trust Ben. Dan saya berhasil terbawa arus yang diciptakan plot novel besutan S. J. Watson ini. Dibawa hingga ke puncak konflik untuk kemudian dihempaskan kembali ke dalam tanya dan keraguan, BenWhat?

Ini pengalaman yang bagus buat saya untuk tenggelam ke dalam cerita yang sebenarnya tergolong genre yang tidak biasa saya baca. Nuansa gloomy dan melankolis-nya dapet. Saya jatuh simpati ke Christine, well, who would not? She’s been through a lot. Almost to the point that life’s being cruel to her.

My name is Christine Lucas. I’m 40 years old and I’m an amnesiac.Tonight, as I sleep, my mind will erase everything that I know, everything that I did today. And I will wake up tomorrow like I did this morning, thinking that I have my whole life ahead of me. And the truth is, the truth is half my life is over. 

The AdaptationHow lucky is S. J. Watson for his debut become a movie! Not only that, the casts are high-profile actor/actress, see, Nicole Kidman & Colin Firth! I just watched the movie two days ago and I should say that it was good. Nicole Kidman brought Christine to life and Colin Firth was so handsome we couldn’t believe he’s some psychopath.

christine

Meski akting mereka bagus dalam menghidupkan karakter Christine & Ben, saya tetap harus bilang bahwa nuansa suffocating-nya kurang. Lebih baik pembangunan nuansa misteri yang dilakukan oleh novelnya ketimbang apa yang terdeskripsikan oleh film. Plusnya, pilihan Rowan Joffe untuk mengganti buku harian Christine dengan jurnal berupa rekaman video dan juga pemotongan lamanya sakit yang diderita Christine (menjadi lebih singkat) dan usianya di film ini lebih muda dibanding Christine yang di buku, sangat relevan untuk adaptasi film. Dan yang berhasil di-capture oleh film ini, tapi agak sulit bisa kita rasakan di novelnya adalah anti klimaksnya (mungkin karena karakter Adam masih remaja dan innocent). Di akhir film, saya tersentuh sekali dengan bersatunya Christine dengan Adam. At least, the end was a new beginning to her.
image

3 thoughts on “#158 Before I Go To Sleep

  1. Pingback: [Monthly Recap] January ’15 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s