#155 Kemuning Jeddah

Sudah hampir tiga belas tahun Ibrahim meninggalkan istrinya, Umi dan anak-anak tercintanya, Amar dan Aisyah. Ibrahim meninggalkan keluarganya untuk bertugas menjadi relawan kemanusiaan di negara-negara konflik, Timur Tengah. Sambil terus berharap suminya akan pulang, Umi membesarkan kedua buah hatinya sendirian sambil menanami bunga hias untuk dijual.

Di belahan benua yang lain, Ibrahim sedang berjuang. Hatinya berkecamuk. Perasaan ikhlas membantu sesama, rindu keluarga, dan di saat yang sama ia dipertemukan dengan Halimah yang menaruh hati padanya. Apakah Ibrahim akan kembali pada keluarganya ataukah ia melabuhkan hatinya kepada Halimah yang juga mencintainya?


Kita tak bisa mengajukan permintaan mengenai takdir. Kita hanya bisa menjalaninya. (halaman 49)

Antara Kemuning dan Jeddah, terbentang kerinduan seorang ayah kepada istri dan anaknya. Sebuah perjalanan yang mulanya diniatkan hanya sebentar dan bertujuan sebuah misi kemanusiaan, malah berujung nasib ‘tersandera’ di negeri orang. Begitulah yang terjadi pada Ibrahim.

Terlalu mudah bagi manusia melupakan kebahagiaan yang telah lalu, saat ia melihat kebahagiaan lain. Padahal belum tentu kebahagiaan yang mereka kejar sekarang lebih baik dibanding kebahagiaan yang mereka tinggalkan. (halaman 55)

Begitulah, Ibrahim menuruti suara lirih nafsunya dan berusaha menggapai kemungkinan yang tercipta dalam cinta yang dimiliki Halimah. Hanya kemudian ia sadar, Umi dan anak-anaknya lah yang sejatinya ia butuhkan untuk menjadi bahagia dengan sebenarnya.

Memang, jiwa yang gamang untuk memilih menuju kebenaran, hati yang sulit untuk tunduk pada perintah Tuhan dan raga yang mulai malas menjalankan syariat agama adalah pertanda bahwa nafsu mulai menguasai jiwa manusia. (halaman 72)

Karena itu lah ia justru tersandera dalam cinta Halimah dan suratan takdir yang membuatnya tak bisa meninggalkan Jeddah hingga 13 tahun lamanya. Dalam penyesalannya, Ibrahim terus menuliskan surat yang tak pernah dikirimkannya kepada Amar, anak laki-lakinya. Semacam jurnal tempat ia melabuhkan kerinduannya.

Di sisi lain, kita akan melihat kesetiaan Umi kepada Ibrahim yang menjadi penyelamat kehidupan rumah tangga keduanya. Agak tidak biasa, memang. Siapa sih yang tahan ditinggal suami selama tiga belas tahun, membesarkan kedua anaknya sendirian tanpa nafkah lahir dan batin? Tapi kemudian sebuah karakter cinta sejati malah muncul dari Umi. Itu lah yang membuatnya sesosok karakter hebat sehingga kedua anak yang dibesarkannya pun tidak tumbuh memendam kebencian kepada sang ayah. Bagi sebagian besar orang, kesetiaan Umi terasa tak logis namun saya malah melihatnya sebagai sesuatu yang indah yang hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita yang tulus.

Novel ini, masuk dalam kategori drama keluarga; roman; sekaligus religi. Karya besutan Endri Kustanto ini mengolah ketiganya dengan narasi yang apik, mengalir dan mengandung banyak nasihat kehidupan.


Judul: Kemuning Jeddah
Penulis: Endri Kustanto
Penerbit: Emir (lini penerbit Erlangga)
Cetakan: I, 2014
Tebal: 408 halaman
ISBN: 9786027031920
Harga: Rp. 70.000 (Disc 15%) Rp. 59.500
Bisa dibeli di erlanggashop.com

 

3 thoughts on “#155 Kemuning Jeddah

  1. Pingback: [Monthly Recap] December ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s