#142 Rindu Tanah Jeruk: Palestina!

credit: erlangga.co.id

 

Judul: Rindu Tanah Jeruk: Palestina! | Author: M. Thoha Anwar | Page Count: 125 hlm | Publisher: Emir (divisi Erlangga) | Release Date: 2014 | Source: from the publisher, in exchange for honest review | You can get it, here |


Buku ini merupakan kumpulan cerpen, terdiri dari 18 cerita bernafaskan Islam. Cerpen unggulan yang sekaligus judulnya dipakai untuk mengikat ke-18 cerita yang ada adalah kisah tentang Pramono dan seorang gadis Palestina bernama Hala.

Hala, gadis yang besar dengan menyaksikan kehilangan demi kehilangan, rindu untuk kembali ke tanah kelahirannya. Dan hal itu tidak bisa terwujud jika ia menerima ajakan Pram untuk tinggal bersamanya di Indonesia. Maka kisah cinta yang tumbuh di antara keduanya mesti kandas karena jalan perjuangan yang berbeda.

Pram merasa kehilangan, merindukan sosok Hala untuk kembali dalam kesehariannya. Namun Pram sangat tahu bahwa Hala, meski lembut hatinya, adalah gadis yang keras dalam memperjuangkan kemerdekaan untuk tanahnya. Tak ada yang bisa Pram perbuat ketika Hala, tak hanya menjemput kerinduannya tapi juga akhirnya membesarkan nama Tuhannya dengan aksi jihadnya melawan zionis.

Selama bumi Palestina masih bergolak dengan perjuangan jihad melawan zionis, kisah heroik akan terus mengharum dan terdengar hingga ke telinga kita, saudara seiman mereka. Selama itu pula, kita akan cemburu, dengan keberanian dan kukuhnya iman mereka. Cerpen ini pun, ditulis penulis untuk mengingatkan kita kembali akan perjuangan rakyat Palestina yang belum juga selesai.

Di samping membawa kita mengingat perjuangan rakyat Palestina, penulis menghadirkan cerpen-cerpen lain yang sebagian besar menunjukkan hikmah betapa manisnya hakikat kehidupan saat kita mengembalikannya kepada Sang Pengatur, Allah swt.

Kupersembahkan ini kepada mereka yang resah mencari sinar Ilahi, serta manis lezatnya iman di balik awan topan dan gempa-gempa kehidupan.

Dari cerpen yang berjudul Senyum dan Duka, kisah Maman mengajarkan saya bahwa dengan berpasrah diri yang sebenar-benarnya, kita akan sanggup bertahan terhadap cobaan yang berat sekali pun. Sedangkan melalui Burhan Tidak Jadi Bunuh Diri, awalnya saya dibuat heran dengan karakter Burhan yang kok ringan saja ingin mengakhiri hidupnya. Tapi kemudian pergulatan batin Burhan berujung pada usaha kerasnya menghapus rasa putus asa yang menggelayuti benaknya.

Cerpen Melawan Arus merupakan dokumentasi periode awal tahun 80an saat gadis berjilbab merupakan pemandangan asing. Memutuskan untuk berhijab pun membuat mereka terasing. Dari cerpen ini, saya bersyukur hidup di zaman ketika jilbab tak lagi menjadi suatu keanehan dan syiar Islam mudah didapatkan.

Satu cerpen, yang berjudul Dukamu Tak Abadi, ditulis dengan format monolog sekaligus muhasabah. Merupakan cerpen yang saya suka karena cerpen tersebut seperti menegur saya di tiap kalimatnya. Kalimat-kalimat yang dirangkai penulis, tak hanya di cerpen Dukamu Tak Abadi sebenarnya, memang bergaya demikian sehingga selipan nasihat dari fiksi ciptaan penulis merasuk dan membuat yang membacanya bersama berdzikr mengingat kebesaran Allah. Bacaan ringan yang patut dibaca, terlebih di saat kita membutuh kisah-kisah penyemangat jiwa.

Submitted for:

One thought on “#142 Rindu Tanah Jeruk: Palestina!

  1. Pingback: [Monthly Recap] October ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s