#141 Bintang di Atas Alhambra

Title: Bintang di Atas Alhambra
Author: Ang Zen
Release Date: November 2013
Publisher: Bunyan Bentang
Format: Paperback
Page Count: 358 pages
Status: Read from October 07 to 09, 2014
Genre: Indonesian Lit, Islamic Novel.

(Hadiah dari Edisty)


Dari pondok nyaris roboh ini, aku telah menetapkan kepemilikanku atas satu bintang. Menahbiskan diri menjadi pengembara impian. Mengumpulkan kebijaksanaan atas tiap rencana yang datang dari genggaman Tuhan.

Dari kejauhan, aku melihat begitu banyak masa depan yang ditaklukkan dengan keberanian. Ia tumbuh dari benih do’a dan ketekunan sepanjang siang-malam. Akarnya membentang sepanjang ratusan tahun cahaya di Langit Selatan.

Lantas, apakah masa depanku juga akan sama? Walau bermodal kitab kuning dan kopiah lusuh? Perut yang penuh dengan kangkung ikat dan ikan asin? Mungkinkah ku pergi jauh melompati desa yang dipeluk erat bukit dan gunung Ciremai ? Tetapkah bintang itu setia menunggu, untuk tetap hidup dan menyala-nyala di atas Alhambra sesampaiku disana nanti?


Sinopsis yang ada di belakang novel, sudah memberikan sinyal atau membuat mereka yang memegang novel ini menduga bahwa novel ini akan mirip dengan Negeri 5 Menara, yang lebih dulu telah booming dan menjadi fenomena. Memang, bisa dikatakan novel ini memiliki unsur N5M; anak pesantren dengan mimpi besar. Tapi, setelah saya membacanya, buku ini juga memiliki unsur 99 Cahaya di Langit Eropa; nostalgia situs sejarah kebudayaan Islam. It makes the novel even better, you know, N5M blended with 99 Cahaya di Langir Eropa and pooff, its Bintang di Atas Alhambra.

Narasinya cukup membuat novel ini pageturning.Terselip banyak obrolan-obrolan serius, yang membuat saya berpikir are you really have a serious conversation like occupation, great expedition, and culture in between sipping a cup of coffee with your friend like that? Tapi dari adegan obrolan-obrolan serius itu, penulis menyelipkan banyak pengetahuan baru secara perlahan. Berusaha menghindari selipan tersebut terdengar seperti lecture.

Aku tidak suka datang ke suatu kota hanya untuk melihat apa yang tampak saja. Gedung-gedung yang kita lewati telah menjadi saksi bisu peradaban manusia ratusan tahun. Sayang kalau kita tidak mengetahui roh setiap kota yang kita kunjungi.

Saya suka banget, sebenarnya, bahwa tokoh utama kita di novel ini Iip suka bermelankoli dengan kota-kota yang dikunjunginya. Membuat perjalanannya tidak hanya mengeruk keindahan visual tapi juga sejarah yang membangun kota tersebut. Lalu tentang nostalgianya dengan sisa-sisa peradaban Islam di Granada. Kadang Iip seperti terobsesi. Good obsession though, yang menambah keimanannya karena apa yang disaksikan semakin membuktikan kebesaran Allah swt.

Satu hal yang saya tidak sreg, sungguh, adalah teman perjalanannya yang adalah seorang perempuan. Berdua. Mengapa tidak ajak teman laki-laki lain, Ip? Di beberapa narasi yang menyiratkan konflik batinnya membersamai wanita bukan muhrim tapi sahabatnya itu, saya jadi tahu kalau konflik itu ia sendiri yang buat. Duh. Hmm… tapi mungkin selingan semacam ini memang sengaja, agar kisahnya tak lurus-lurus saja.

Sekali bermimpi, bersiap-siaplah untuk hal-hal yang mengejutkan. Kadang mimpi itu menjelma lebih cepat dari dugaan kita.

Submitted for:

2 thoughts on “#141 Bintang di Atas Alhambra

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge: September & October Update | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: [Monthly Recap] October ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s