#140 Fever 1793

Title: Fever 1793 | Author: Laurie Halse Anderson | Release Date: August 16th, 2011 | Publisher: Atheneum Books for Young ReadersFormat: ebookPage Count: 272 pages | Status: Read from July 7-8th, 2014 | Genre: Young Adult, Historical FictionLiterary Award: Rebecca Caudil Young Readers Book Award (2003) |


“Some days felt like we were trapped in a nightmare,”

Mimpi buruk itu adalah yellow fever. Dengan teknologi kedokteran yang terbatas di akhir abad ke-18, epidemi ini mewabah dengan cepat dan menelan korban hingga ribuan manusia. Salah satu yang terombang-ambing dalam gelombangnya adalah Matilda ‘Mattie’ Cook.

Yellow fever datang secara tiba-tiba di musim panas tahun 1793 saat Mattie berusia 15 tahun. Yang direnggut pertama kali dari sisinya adalah Polly, sahabatnya. Dalam hitungan hari, atmosfer Philadelpia saat itu pekat dengan aroma pesakitan. Dalam hitungan hari pula, Lucille, ibunda Mattie jatuh sakit. Sadar bahwa potensi menularnya demam ini begitu tinggi, Lucille meminta Mattie dan Grandpa untuk pergi ke pedesaan, berlindung sementara di kediaman keluarga Luddington.

Sayangnya, di tengah perjalanan, Grandpa pun jatuh sakit. Dan tinggal hitungan jam saja sebelum akhirnya Mattie pun terpapar yellow fever. Lantas, bagaimana dengan peluangnnya untuk hidup dan bertemu kembali dengan ibunya?

—–

Pertama – tama, saya mesti bilang kalau horor yang dihadirkan oleh penulis, rasanya megang banget. Narasinya mudah divisualisasikan sekaligus membuat saya meringis pilu. Belum lagi wajah-wajah manusia yang muncul saat bencana itu datang menjadi begitu beragam (termasuk dalam konteks yang lebih luas). Manusia menjadi gila, manusia mementingkan pribadinya tak mengenal keluarga, sisi jahat manusia tersulut akibat kekacauan yang tak ketahuan penyebabnya. Aroma kematian yang menguar, begitu menyesakkan siapapun yang menghirupnya.

“Saints. Angels. They’re from the Free African Society, God bless them.”

Tapi di dalam gelombang kekacauan semacam itu, selalu ada manusia selfless menjelma menjadi penolong meskipun jumlahnya tak banyak. Usaha mereka membuat kekacauan buatan yellow fever menjadi bisa dilewati dengan bergantung pada harapan bahwa epidemi itu akan berakhir dan kehidupan akan kembali seperti biasanya. Di antara kelompok penolong itu, ada Eliza -koki masak di coffeehouse milik keluarga Cook. Dan dalam keterombang-ambingan, akhirnya Mattie bertemu kembali dengan Eliza dan bergabung dengannya menolong korban-korban yellow fever yang masih butuh perawatan.

Kelompok ini adalah black people yang meski di zaman itu, abad ke-18, mereka ditempatkan di kelas terbawah dan biasanya menjadi budak, tapi mengalami pengecualian di Philadelpia. Di kota ini, black people diperlakukan lebih manusiawi dan memiliki kebebasan. Saat yellow fever melanda, black people memiliki peluang yang kecil untuk terpapar yellow fever sehingga banyak dari mereka yang bertahan hidup melewati epidemi tersebut. Alasan itu pula yang menjadikan mereka kelompok yang bisa merawat pasien-pasien yellow fever. Selain itu, terjunnya mereka menjadi penguat eksistensi mereka di kalangan kulit putih saat itu.

“Don’t listen to words of despair, Mattie. You must be strong and have faith.”
“When will it end?”
“For everything there is a season, remember? When the frost comes, the fever will vanish. We just have to find a way to make it until then.”

Perubahan signifikan, katakanlah character development dari Mattie menjadi pelajaran paling gamblang yang bisa ditarik dari novel mengharukan ini. Sekaligus menjadi inspirasi bagi pembaca, disamping poin bahwa dengan novel bergenre historical fiction ini, penulis mengajak kita merefleksikan salah satu fenomena sejarah. Definitely a recommendation!

Submitted for:

2 thoughts on “#140 Fever 1793

  1. Pingback: [Monthly Recap] October ’14 | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: #180 Catalyst | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s