#139 Station Eleven

Source: Emma Roberts's Instagram (emmaroberts)

Source: Emma Roberts’s Instagram (emmaroberts)

Title: Station Eleven
Author: Emily St. John Mandel
Release Date: September 9th, 2014
Publisher: Knopf
Format: ebook
Page Count: 352 pages
Status: Read from October 09 to 10, 2014
Genre: Adult Fiction, Science Fiction, Dystopia
Literary Awards: National Book Award Nominee for Fiction (2014)


One snowy night a famous Hollywood actor slumps over and dies on stage during a production of King Lear. Hours later, the world as we know it begins to dissolve.

Moving back and forth in time-from the actor’s early days as a film star to fifteen years in the future, when a theater troupe known as the Traveling Symphony roams the wasteland of what remains. This novel charts the strange twists of fate that connect five people: the actor, the man who tried to save him, the actor’s first wife, his oldest friend, and a young actress with the Traveling Symphony, caught in the crosshairs of a dangerous self-proclaimed prophet.


Satu dua kali saya membaca review tentang novel ini, review bernada apresiatif dan puas akan fiksi besutan Emily St. John Mandel ini (salah satunya, review dari skhrisnabooks.com). Beberapa waktu lalu pula, saya lihat Emma Roberts selfie dengan novel ini. Makin penasaran lah saya. BUT the most reason why I spare my time to read this is because I have a feeling that i’m going to like it.

Station Eleven sekilas bisa dikatakan termasuk distopia karena novel ini berkisah tentang penduduk North America di masa depan paska pandemik skala dunia bernama Georgia Flu. Tapi, Station Eleven tidak seperti distopia yang sekarang ramai digemari karena world-buildingnya yang menghebohkan atau aksi melawan tirani dan semacamnya. Nope. Station Eleven was captivating but without being intense. The kind of novel that’s character-driven without forgetting the plot but also suspenseful in some way.

Novel ini dibuka dengan meninggalnya seorang aktor ternama, Arthur Leander, akibat serangan jantung saat sedang mementaskan teatrikal King Lear. Di malam yang sama, Toronto saat itu kedatangan pembawa virus Georgia Flu yang lethal. Tak banyak yang selamat, mungkin hanya  2% populasi. Dan di antara yang selamat, adalah beberapa orang yang memiliki hubungan (langsung maupun tidak) dengan sang aktor, yakni: Jeevan (mantan paparazzo yang baru belajar menjadi paramedis dan berada di tkp meninggalnya sang aktor; memberikan pertolongan pertama), Kirsten (aktris yang bermain bersama Arthur dalam teatrikal King Lear), Clark (sahabat Arthur), dan Tyler (putra Arthur dari istri keduanya).

Chapter-chapter berikutnya, penulis menceritakan kisah kelimanya dengan alur maju mundur. Secara perlahan menarasikan yang terjadi pada kelimanya hingga terlihat benang merah yang mempertemukan mereka.

Station Eleven sendiri merujuk pada dunia buatan Miranda (mantan istri Arthur -istri pertama) dalam komik bergenre science fiction karangannya yang berjudul Dr. Eleven. Dunia post-apocalyptic yang kita nikmati dalam novel ini seolah merefleksikan rekaan Miranda itu, secara implisit. Station Eleven belum sempat (atau sengaja tidak) beredar secara luas kecuali ke tangan Tyler dan Kirsten (lewat Arthur) dan komik tersebut memiliki impact yang berbeda bagi Tyler dan Kirsten di mana impact itu nantinya mempengaruhi plot cerita.

“It just doesn’t make sense,” Elizabeth insisted. “Are we supposed to believe that civilization has just come to an end?”

Georgia Flu, the reason behind the collapse.

Of all them there at the bar that night, the bartender was the one who survived the longest. He died three weeks later on the road out of the city.

Narasi penulis saat menggambarkan merebaknya pandemik ini terasa quiet, but -however- gripping. Ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan dikisahkan dengan tidak tergesa-gesa tapi tetap berhasil menciptakan suspense.

Travelling Symphony theatre troupe.

The Traveling Symphony moved between settlements of the changed world and had been doing so since five years after the collapse. when the conductor had gathered a few of her friends from their military orchestra, left the air base where they’d been living and set out into the unknown landscape.

The Symphony performed music-classical, jazz, orchestral arrangements of pre-collapse pop songs-and Shakespeare. They’d performed more modern plays sometimes in the first few years, but what was startling, what no one would’ have anticipated, was that audiences seemed to prefer Shakespeare to their theatrical offerings.

Kirsten berhasil bertahan dalam badai pandemik dengan melakukan perjalanan panjang menghindari titik-titik yang telah terkontaminasi. Mulanya ia bersama kakaknya, namun kakaknya kemudian meninggal. Bukan karena Georgia Flu karena saat itu mereka sudah di luar jangkauan pandemik itu, melainkan karena infeksi luka luar yang tidak berhasil diobati. Melanjutkan perjalanan dan sendirian, Kirsten berpapasan dan akhirnya bergabung dengan rombongan Travelling Symphony.

Misi Travelling Symphony bisa dikatakan mulia. Mereka hadir dari kota ke kota (yang tersisa) dan menghibur sekelompok manusia yang masih bertahan hidup di kota itu dengan mementaskan karya Shakespeare. Secara internal, rombongan Travelling Symphony sudah terikat layaknya keluarga. Kirsten sendiri akrab dengan pemain flute bernama August, dan menjalin hubungan dengan sesama aktor bernama Sayyid.

Not only that, there’re scenes where we could see their bound -like surviving scene.

The Prophet

“You know how this … this time we live in, you know how it forces a person to do things.”

Kalau tidak salah, tahun ketiga setelah collapse, Severn City kedatangan sekelompok misionaris. Kecuali sepasang ibu dan anak yang akhirnya bergabung ke dalam sekelompok tersebut untuk berkeliling dan menyebarkan ajaran Tuhan, tidak terendus kemungkinan bahwa satu dekade kemudian muncul seseorang yang mengaku sebagai Nabi. Dengan lidah yang licin, senyum dan gesture yang meyakinkan, Sang Nabi berhasil memiliki pengikut yang signifikan. Masalahnya, Sang Nabi dan pengikutnya ini menjadi ancaman. Dan nanti, rombongan Travelling Symphonya (termasuk di dalam Kirsten) mesti berhadapan dengan Sang Nabi dan pengikutnya.

Museum of Civilization, Severn City.

Didirikan di bandara yang ada di Severn City dan merupakan gagasan Clark, sahabat lama Arthur. Mengabadikan teknologi Nantinya menjadi tempat diabadikannya salah satu volume komik Station Eleven. Tempat ini adalah asal sang Nabi dan merupakan tempat dengan populasi terbesar dibanding kota-kota lain.

Arthur Leander

He’s an important character without necessarily being in the story. He’s there but sometime not close enough for us to like him. Still, his existence is essential for the plot.

Over all, saya suka dengan novel ini. Suka karakterisasinya, idenya, jalan ceritanya, penulisannya. Bikin saya kepingin punya satu copy buku ini bertengger di rak buku meski sebenarnya kalau lihat genre apocalyptic-nya itu bukan my cup of tea. Ciri layered plot yang dipakai Emily St. John Mandel, sedikit banyak mengingatkan saya sama Liane Moriarty. Kini saya cukup tertarik untuk membaca novelnya yang lain (novel-novelnya yang lain sebelum novel ini beredar indie), bisa jadi dia adalah penulis favorit saya selanjutnya.


A fragment for my friend–

If your soul left this earth

I would follow and find you

Silent, my starship suspended in night


5 thoughts on “#139 Station Eleven

  1. Pingback: Scene on Three | 9 | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: New Authors Reading Challenge: September & October Update | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: [Monthly Recap] October ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s