#135 The Blazing World

Title: The Blazing World
Author: Siri Hustvedt
Release Date: March 11th, 2014 (First published January 1st, 2014)
Publisher: Simon & Schuster
Format: ebook
Page Count: 368 pages
Status: Read from August 31 to September 07, 2014
Genre: Art, Literary Fiction, Feminism
Literary Awards: Man Booker Prize Longlist (2014)


With The Blazing World, Siri Hustvedt tells the provocative story of the artist Harriet Burden. After years of watching her work ignored or dismissed by critics, Burden conducts an experiment she calls Maskings: she presents her own art behind three male masks, concealing her female identity.

The three solo shows are successful, but when Burden finally steps forward triumphantly to reveal herself as the artist behind the exhibitions, there are critics who doubt her. The public scandal turns on the final exhibition, initially shown as the work of acclaimed artist Rune, who denies Burden’s role in its creation. What no one doubts, however, is that the two artists were intensely involved with each other. As Burden’s journals reveal, she and Rune found themselves locked in a charged and dangerous game that ended with the man’s bizarre death.

Ingeniously presented as a collection of texts compiled after Burden’s death, The Blazing World unfolds from multiple perspectives. The exuberant Burden speaks—in all her joy and fury—through extracts from her own notebooks, while critics, fans, family members, and others offer their own conflicting opinions of who she was, and where the truth lies.


Saya suka blogwalking. Kebanyakan blog yang saya ikuti adalah blog buku. Tiap blogwalking, saya selalu mengantongi judul. Dan seminggu tiga minggu yang lalu, saya mengantongi longlist Man Booker Prize tahun 2014. Mungkin kesambet dan ditambah nggaya mau self-challenge, saya bertekad untuk membaca judul-judul yang ada dalam longlist. Alphabetically listed, The Blazing World ini adalah novel rasa longlist Man Booker Prize yang saya cicip pertama kali.

Rasanya? Bitter. Pahit. Kenapa? Karena level Man Booker Prize itu emang di atas rata-rata. Plotnya, narasinya, temanya, kekayaan literasi di dalamnya, harusnya saya mempertimbangkan itu semua sebelum masuk lumpur buatan saya sendiri (baca: Longlist Quest!). Saya terseok-seok baca novel ini hingga pertengahannya. Lalu saya rehat, dan membaca (dua) buku lain sebelum kembali siap melanjutkan kisah Harriet (Harry) Burden dan berhasil menyelesaikannya semalam dua minggu yang lalu.

Nah, tentang apakah novel ini?

Novel ini, secara singkat, adalah fiksi biografi seorang Harriet (Harry) Burden. Seorang seniman wanita yang karya seninya tak begitu dihargai, tak laku dan tak pernah jadi buah bibir di kalangan seniman. Harry percaya masalahnya ada pada kenyataan bahwa ia bergender perempuan dan pada masanya, dunia hanya mengakui seniman laki-laki. Boro-boro berkompetisi, hanya satu dua review yang mengenali kemampuannya saat ia menggelar karyanya. Padahal suaminya adalah art dealer. Kepada Harry, Felix (sang suami) beralasan bahwa ia bisa terjebak nepotisme bila ‘menjual’ karya istrinya. Lama kelamaan, setelah menjadi istri dan menjadi ibu bagi Maisie dan Ethan Lord, jiwa seninya terkubur. Sampai saat Felix meninggal secara tiba-tiba.

Harry mengalami mental breakdown yang cukup berat, hampir setahun dijalani dengan kesedihan, kemurungan dan kondisi fisik yang menurun. Hingga pada kalimat,’There’s still time to change things, Harriet’ yang ia dengar dari terapisnya setahun kemudian. Ia bangkit dan mulai membuat seni (sculpture -mostly).

Lebih dari itu, ia berusaha balas dendam kepada dunia yang tak pernah menyadari keberadaannya dengan cara menciptakan pseudonyms. Harry menjelma menjadi Anton Tish, Phinny, dan Rune Larsen dan keluar dengan mahakaryanya yang launchingnya selalu mendapat sambutan dan respon positif. Hingga saat ia membuka jati dirinya dan ternyata, sekali lagi, dunia tak menyambut seperti apa yang diinginkannya.

Tantangan banget deh menyelesaikan novel ini. Hal yang baru buat saya karena bahasan seni di dalam novel ini njlimet buat otak saya. Narasinya terasa banget literary fiction, dengan diksi yang kaya dan tema yang luas. Dan tentu saja, karakter-karakter buatan Siri itu lho! Ngga cuma Harry yang remarkable, tapi juga Felix, Rune, Maisie, Rachel, Bruno, The Barometer, hingga Sweet Autumn Pinkney (ini nama orang lho!). Seperti dikatakan di sinopsis (yang saya ambil dari Goodreads) di atas, narasinya adalah lewat jurnal Harry dan multiple point of view article. Lewat banyaknya karakter, sebagian yang saya sebutkan, cerita tentang Harry mengalir tanpa mengesampingkan kisah tiap POV yang punya warna tersendiri.

Tentang Harry; ia adalah wanita cerdas, berkarakter, dan seniman berbakat. Hanya, dunia menenggelamkannya. Harry merasa dirinya incompleted. Ia selalu tahu ada kepribadian lain dalam dirinya yang bukan seperti dirinya yang terlihat di permukaan. Kepribadian yang terbentuk atas luka yang disebabkan oleh dua laki-laki yang paling dicintainya: Ayahnya dan suaminya. Kepribadian lain itu yang akhirnya mengendalikan upaya balas dendam kepada dunia yang tak pernah mengakui kejeniusannya dalam seni. The Blazing World adalah novel feminist, lewat karakter Harry.

In her revenge, she’s lost.

Membaca novel ini, saya prihatin dengan Harry. Its like the world is especially cruel to her. She’s the victim afterall. Saya sedih untuk Harry, saat dua pria yang paling dicintainya; ayah dan suaminya, tidak menyambut cinta yang diberikan Harry. Saya rasa juga hal itu yang memantik sisi lain (yang merupakan akumulasi dari ketidakpuasan-ketidakpuasan) dalam dirinya keluar dan mengambil-alih ‘kewararassannya’.

Aneh sebenarnya, tapi saya menyukai (dalam artian, ingin lebih jauh tahu tentang diri) Felix. Apa yang membuat Harry tidak berkonfrontasi dengan Felix saat ia mendapati bahwa Felix berselingkuh. Harry begitu mencintai Felix, kenapa? Padahal cintanya itu yang pada akhirnya melukainya. Deuh.

Karakter pembantu yang saya suka, adalah Maisie -anak perempuan Harry- dan Rachel -seorang psychoanalist sekaligus sahabat Harry. Dari POV keduanya saya mendapati narasi tentang Harry diselimuti pengertian dan perhatian. Tentu aja sih, keduanya orang terdekat Harry.

Lalu, bagian akhir, adalah bagian yang paling remarkable. Mungkin karena lembar-lembar terakhir novel ini adalah narasi detik-detik kematian Harry (ia divonis kanker rahim). Saya selalu bisa untuk ‘tenggelam’ pada narasi demikian karena saya sendiri menyimpan ‘episode’ beralunan sama (meski tak serupa). Do you get what i mean? Ah, never mind.

Last but not least, saya ngga nyesel mesti struggling baca novel yang masuk Longlist Man Booker Prize untuk tahun 2014 ini. Karena pada akhirnya, novel ini memiliki kekuatan di banyak aspek: kedalaman tema yang diangkat, karakter yang kuat dan kisah yang sarat dengan penggambaran tabiat dunia serta manusia di dalamnya. Semua itu dikemas dengan penulisan yang professional.

Submitted for:

3 thoughts on “#135 The Blazing World

  1. Pingback: [Monthly Recap] September ’14 | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: #131 Of Mice and Men | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge: September & October Update | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s