#132 Don’t Call Me Ishmael!

Title: Don’t Call Me Ishmael!
Author: Michael Gerard Bauer
Release Date: 2007 (first published 2006)
Publisher: Omnibus Books (imprint of Scholastic)
Format: Paperback
Page Count: 277 Pages
Status: Read from August 20 to 26, 2014
Genre: Middle Grade, Coming of Age.
Literary Awards: Children’s Peace Literature Award (2007), Michigan Library Association Thumbs Up! Award Nominee (2008).


There’s no easy way to put this, so I’ll say it straight out. It’s time I faced up to the truth. I’m fourteen years old and I have Ishmael Leseur’s Syndrome. There is no cure. And there is no instant cure to not fitting in.

But that won’t stop Ishmael and his intrepid band of misfits from taking on bullies, bugs, babes, the Beatles, debating, and the great white whale in the toughest, the weirdest, the most embarrassingly awful…and the best year of their lives.


Siapa sangka sebuah nama bisa terasa begitu membebani?

Ishmael LeSeur, memiliki kisah kelahiran yang epik yang membuat sang ayah terilhami Moby Dick dan menamainya Ishmael. Nama tersebut mungkin tak asing bagi kita atau orang-orang Arab. Tapi bagi orang Australia berkulit putih, memiliki nama Ishmael adalah sesuatu yang tidak biasa.

Namanya menjadi bahan bualan teman sekelasnya, Barry Bagsley. Seperti umumnya objek bully yang kita ketahui lewat TV/buku, Ishmael memilih untuk tidak melawan. Hingga datang seorang murid baru, James Scobie, yang menjadi teman sebangkunya dan ternyata tak memiliki rasa takut terhadap Barry Bagsley. Berkat Scobie pula, Ishmael terjun ke kesibukan tim debat. Tapi kemudian, di semi final turnamen debat Scobie justru menghilang dan Ishmael harus mengandalkan dirinya sendiri untuk maju dan membantu tim debatnya di semifinal.


Yang saya suka dari novel anak ini adalah karakter-karakternya. Bukan Ishmael malah, karena menurut saya, Ishmael kalah terang dibanding karakter lain yang unik. Ishmael hanya punya kisah dalam namanya, dan ia membiarkan hal itu sebagai beban dalam kesehariannya. See? Ngga begitu like-able. BUT, he’s a good narator. Tapi beda halnya dengan Scobie, bahwa ia kehilangan rasa takut setelah ia menjalani operasi pengangkatan tumor otak, membuat Scobie jadi karakter yang menavigasi cerita (sekaligus menjadi faktor terjadinya perubahan perlahan di diri Ishmael). Kadang begitu ya, kita hanya butuh satu orang yang tepat untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Seseorang yang menjadi faktor, yang memancing bibit terbaik dalam diri kita.

Selain itu, buku ini fun. Setelah kedatangan Scobie dan terbentuknya tim debat yang terdiri dari ‘Razza’ Orazio Zorzotto, Bill Kingsley dan Ignatius Prendabel novel ini jadi berwarna dan seru.

Oia, gara-gara novel ini, saya jadi pengen baca novel klasik Moby Dick. Yah, mungkin nanti xD

Submitted for:

 

3 thoughts on “#132 Don’t Call Me Ishmael!

  1. Pingback: [Monthly Recap] September ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s