#131 Of Mice and Men

Title: Of Mice and Men
Author: John Steinbeck
Release Date: February 1st, 1994 (first published 1937)
Publisher: Penguin Classic
Format: Kindle
Page Count: 138 Pages
Status: Read -September 7th, 2014
Genre: Adult, American Lit, Classic


An unlikely pair, George and Lennie, two migrant workers in California during the Great Depression, grasp for their American Dream. They hustle work when they can, living a hand-to-mouth existence. For George and Lennie have a plan: to own an acre of land and a shack they can call their own.

When they land jobs on a ranch in the Salinas Valley, the fulfillment of their dream seems to be within their grasp. But even George cannot guard Lennie from the provocations, nor predict the consequences of Lennie’s unswerving obedience to the things George taught him.


Karena Lampau sempat menyinggung novel klasik ini, novel yang judulnya sebenarnya sudah tak asing, akhirnya saya membacanya. Juga karena novel ini pendek, saya rasa tidak ada salahnya mengetahui kisah George dan Lennie di sela membaca The Blazing World yang sulit dicerna.

Unlikely pair, George Milton pintar sedangkan Lennie Small berbadan besar tapi mentalnya bermasalah. Sepanjang bersama, Lennie berada di bawah ketiak George. Lennie patuh pada tiap perkataan George, bahkan saat George menyuruhnya terjun ke laut. Meski Lennie sebenarnya lebih menjadi beban bagi George, ia tidak bisa meninggalkan Lennie.

“They was so little,” he said, apologetically. “I’d pet ’em, and pretty soon they bit my fingers and I pinched ther heads a little and they was dead-because they was so little.”

Lennie memiliki kecenderungan untuk membelai sesuatu yang halus, sebuah fetish. Seperti membelai binatang kecil. Tapi yang lebih banyak terjadi, ia membunuh binatang yang dibelainya. Itu karena ia memiliki kekuatan (fisiknya) yang tidak bisa dikontrol oleh mentalnya. Dan fetishnya, selalu pada akhirnya, yang membuat Lennie (dan George -secara otomatis) terjerat masalah. Tapi selalu juga, George yang akan mengatasinya. Hingga di satu masalah besar yang disebabkan Lennie, George mengambil keputusan yang berujung pada tragedi.

Narasi John Steinbeck, mudah untuk saya nikmati. Meski penuh dengan accent. Lalu karakter-karakter ciptaannya yang membuat novel ini kuat. Terlepas dari George dan Lennie yang memang adalah duo yang takkan pernah bisa terlupa, karakter lain seperti Slim, Candy dan Crooks memperkaya cerita. Lennie adalah yang paling fenomenal, he was like a man that the world would crush him, no matter what. He’s a misfit, kind of someone who’s too soft to ever face the cruel world. Tapi dari semua karakternya, bias saya jatuh kepada George. Mungkin karena saya melihat kesamaan antara dirinya dengan saya, antara posisinya dengan posisi saya. Sort of.

Kadang buku atau cerita memiliki jejak karena saat kita membacanya, buku atau cerita tersebut seperti memiliki jawaban atas apa yang sedang kita rasakan. For the past couple days, I long for a friend. I hate to admit it but, sometime you fall into loneliness, and sometimes none other than friend(s) could heal it. Lalu saya membaca ini, di mana di dalamnya ada persahabatan yang unlikely but somehow enviably antara George and Lennie. They have each other is the most beautiful thing I’ve found in Of Mice and Men. *sob

Lalu terakhir, endingnya yang menyedihkan, berhasil membuat hati saya hancur berkeping-keping. But nothing could beat that kind of ending. It hurts, yet so likely only human could do.

Good classic, I should say. It makes me wander of so much things. Mostly about loneliness (quote 2) and friendship (quote 3)

Noted quotes:

“Books ain’t no good. A guy needs somebody-to be near him.” He whined, “A guy goes nuts if he ain’t got nobody. Don’t make no difference who the guy is, long’s he’s with you. I tell ya,” he cried, “I tell ya a guy gets too lonely an’ he gets sick.”

“But not us! An’ why? Because…because I got you to look after me, and you got me to look after you, and that’s why.”

Submitted for:

4 thoughts on “#131 Of Mice and Men

  1. Pingback: [Monthly Recap] September ’14 | Faraziyya's Bookshelf

  2. halo… :))
    aku baca buku ini waktu kuliah dulu, dan kalo menurutku sih narasinya agak berat walaupun plotnya ga sulit diikutin. kalo karakter aku lebih suka Lennie yg bermasalah, lebih unik aja gitu. badan gedhe tapi otaknya masih kayak anak kecil :)) btw, nice review.

    Like

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge: September & October Update | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s