#125 The Tiger Rising

Title: The Tiger Rising
Author: Kate DiCamillo
Translator: M. Raras Rumanti
Release Date: April 2005
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback
Page Count: 146 Pages
Status: Read from May 07 to 08, 2014
Genre: Middle Grade


Suatu pagi, saat berjalan-jalan di hutan Florida yang berkabut, Rob Horton sangat terkejut ketika menemukan seekor harimu. Harimau yang hidup, sangat besar, dan terkurung dalam kandang.

Pada hari luar biasa itu juga, Rob bertemu Sistine Bailey. Anak perempuan itu tidak segan-segan menunjukkan perasaannya, berbeda dengan Rob.

Seiring mereka belajar saling memercayai dan bersahabat, hidup Rob mulai berubah. Bersama-sama mereka mendapati bahwa beberapa hal, seperti kenangan dan luka hati-dan harimau- tidak bisa dikurung selamanya. 


Memang khas Tuhan, bukan, menyatukan kalian berdua begini? Anak laki-laki inipenuh kesedihan, menyimpannya jauh di bawah sana, di kakinya. Dan kau, kau dipenuhi rasa marah. Kemarahan menyambar-nyambar keluar darimu seperti petir. Kalian pasangan yang tidak biasa, itu yang pasti. 

Willie May, halaman 102.


Sudah enam bulan, Rob kehilangan ibunya. Karena ayahnya yang bersikap menghapus jejak sang ibu, Rob pun melakukan hal yang sama: menyimpan dan mengubur kerinduan dan lukanya. Tapi kemudian ia menemukan seekor harimau di hutan, dan harimau tersebut mengalihkan Rob dan kesedihan yang dirasakannya. Lalu ia juga bertemu dengan gadis yang baru pindah ke kota kecil tempat ia tinggal. Lewat sebuah insiden tak terduga dan melibatkan sang harimau, penyelesaian justru hadir dan membuat keduanya bertumbuh.

Novel dengan karakter utama anak usia pra remaja ini, ringan dan mampu dihabiskan sekali duduk karena tebalnya hanya 146 halaman. Namun, pesannya tidak ringan. Pesannya sudah disinggung di akhir sinopsis di atas yakni jangan menyelesaikan masalah dengan mengunci beban yang dirasakan. Karena hal itu sama sekali bukan penyelesaian.

But…Jujur, saya ngga menyelesaikan novel ini sekali duduk. Lihat aja di statusnya di atas, buku ini saya baca selama dua hari. Saya membacanya dengan jeda beberapa kali. Kebetulan, penulisannya juga terlalu sederhana. Mungkin karena ini adalah novel anak. Tapi novel ini juga terlampau singkat, sehingga meskipun novel ini memiliki pesan yang bagus, saya tidak merasa novel ini spesial untuk saya.

Lalu, sepertinya (imho) harimau di novel ini adalah karakter yang real sekaligus metafor. Harimaunya real, jelas, ia tampil sebagai hewan yang dimiliki Beauchamp; majikan ayah Rob. Dan harimau ini juga metafor, karena harimau ini layaknya ‘baggage’ yang dikunci rapat di kotak oleh Rob. Saat ia membebaskan harimau, tak lama setelahnya ‘baggage’ yang selama ini membuatnya kelabu, akhirnya luruh.

Trivia:

  • Gadis karakter utama di novel ini, diberi nama Sistine oleh orangtuanya karena keduanya bertemu dan jatuh cinta di bawah Kapel Sistine. Kapel Sistine adalah kapel yang cukup terkenal. Kapel ini terletak di dalam lingkungan Istana Apostolik, kediaman resmi Paus di Vatikan. Kapel ini terkenal karena arsitekturnya yang tampak melahirkan kembali Bait Salomo dari zaman Perjanjian Lama, dan akan dekorasinya yang seluruhnya dihias oleh seniman-seniman besar era Renaissance seperti Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli. Atas perintah Paus Yulius II, Michelangelo melukis langit-langit kapel seluas 12.000 kaki persegi antara tahun 1508 hingga tahun 1512. Meskipun ia jengkel dengan tugas ini dan berpikir bahwa tugasnya hanya untuk kebesaran Paus, kini langit-langit kapel ini dianggap sebagai mahakaryanya.

Bottom Line: Easy read.

Submitted for:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s