#121 Memoir of a So-Called Mom

Title: Memoir of a So-Called Mom
Author: Poppy D. Chusfani
Release Date: Maret 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Format: Paperback
Page Count: 152 halaman
Genre: Indonesian Lit, Slice of Life


Siapa yang berhak menentukan pilihan hidup kita?

Amelia, yang mendadak jadi ibu rumah tangga, berkeras mengatur hidupnya sendiri. Dia tidak mau orang lain ikut campur. Dengan bangga Amelia berkata lebih memilih cerdas ketimbang pintar. Namun saat dia tidak merasa pintar dan tindakannya tidak menunjukkan kecerdasan, Amelia mulai meragukan pilihannya. Apakah selama ini prinsipnya salah? Atau dia hanya tidak mampu berdiri tegak saat cobaan menghantam?

my thoughts

Rasa-rasanya 152 halaman tidak akan cukup mendokumentasikan pengalaman wanita dalam menjadi seorang istri dan seorang ibu. Tapi lewat novel ini, hal tersebut tidak mustahil. Dinarasikan dengan sederhana, pengalaman Amelia yang kedengarannya sudah general dan biasa kita dengar tetap saja menarik untuk dibaca. Ah, tiap momen yang dijalani seorang ibu memang tidak pernah hanya biasa. Iya tidak, bu? *ehem

Yang paling diangkat sebagai ironi dalam novel ini adalah turut campurnya pihak keluarga besar yang senantiasa melancarkan serangannya mengatur kehidupan Amelia. Hal tersebut rasa-rasanya bukan cuma Amelia saja yang merasakannya, betul? Karena fitrahnya kerabat memang seperti itu deh kayaknya: menilai dan memberi masukan ini itu semata karena telah berpengalaman. Hanya saja masukan/tanggapan/opini dari kerabat bisa sangat annoying bila terlalu memaksakan. Saya sendiri ikutan geram sepanjang membaca kisah Amelia yang sering terpojokkan oleh Uwak ‘mahatahu’nya saat kumpul-kumpul keluarga besar.

Seharusnya ada penghargaan khusus untuk bayi karena menjadi penghibur paling hebat di seluruh dunia. Mereka hanya perlu bergumam, mengucapkan “eh”, mengangkat kaki, bahkan buang gas, untuk membuat orang dewasa terhibur. Saat mereka tidur pun orang-orang dewasa bisa asyik menyaksikan mereka selama berjam-jam. Begitu mereka memutuskan untuk tertawa tergelak-gelak, seluruh dunia seakan-akan bebas dari peperangan dan kemiskinan.

Amelia adalah sosok wanita independen dan confidence, yang pada banyak kesempatan hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun, menjadi ibu mengubah itu semua. Secara alami, kepentingannya tidak lagi penting bila menyangkut Anika, putrinya. Fitrahnya seorang ibu terlihat di sini. Dan di lembar-lembar Amelia mulai menjadi seorang ibu, adalah bagian yang paling menarik dari novel ini. Amelia yang berpeluh tapi terhibur oleh kejenakaan bayi Anika. Amelia yang menanggapi keingintahuan balita Anika. Amelia yang mementingkan kecerdasan emosinal Anika. Amelia yang kadang kesulitan untuk berkomunikasi dengan tepat kepada Anika yang beranjak dewasa. Semuanya terasa familiar namun tetap selalu bisa memberikan pencerahan.

Sekarang ini orangtua punya sejuta pilihan yang bisa diberikan kepada anak-anak mereka. Namun, apakah semua harus diambil? Bagaimana jika bertanya kepada anak-anak, apa yang sebenarnya mereka inginkan? Bukankah memberi terlalu banyak kegiatan bermanfaat bagi anak justru akan melenyapkan manfaat itu sendiri? Aku tidak tahu. Aku tidak paham. Aku bukan ahli. Tapi, saat kudengar salah seorang keponakan dimarahi habis-habisan karena nilai ulangan matematikanya ‘hanya’ delapan puluh lima, aku yakin ibu dan ayahnya sudah melampaui garis batas hak asasi anak.

Amelia memilih untuk menjadi orangtua yang cerdas di tengah gempuran stereotip yang dipelihatkan kerabatnya bahwa pendidikan anak mestilah berujung prestasi yang kuantitatif. Inilah bagian menginspirasi dari sosok Amelia. Bahwa berprinsip menjadi orangtua yang cerdas juga bukan pilihan mudah dimana Amelia tidak jarang bertanya pada dirinya sendiri, sudah benarkah caranya? Mungkin memang keteguhan prinsip, apapun itu, mesti menghadapi ‘angin’ yang menggoyahkan.

Membaca Memoir of a So-Called Mom, ada saat di mana saya ikutan berpikir keras dan membandingkan cerita Amelia dengan kehidupan saya. Well, ya, saya memang belum menjadi seorang ibu tapi saya adalah seorang tante untuk 10 keponakan. Setidaknya ada  5 keponakan yang tinggal di dekat saya dan saya banyak berinteraksi dengan mereka. Menjadi tante, saya pernah berpikir bahwa memerankan tante adalah simulasi sebelum saya benar-benar menjadi ibu. Pada kenyataannya, ada beberapa yang memang sesuai. Namun, menjadi tante tidak sama dengan menjadi seorang ibu. Ini kaitannya dengan pertalian darah dan afeksi antara tante-keponakan yang jauh berbeda antara ibu-anak.

Saya juga  jadi membandingkan cara kakak saya mendidik anak-anaknya dengan kisah Amelia.  Dan menutup novel ini, saya jadi bertekad mengambil irisan terbaik dari keduanya. Mungkin inilah efek membaca kisah heroik menjadi seorang Ibu: timbulnya niat mengaplikasikan. Kisah Amelia pun memberi outcome demikian.

Bottom Line:  So much this book can give to you, women. Not really extraordinary, that’s why the title was ‘so-called mom’. But, as we know, there’s nothing just ordinary in every so-called mom’s life. Because being mom means holding a miracles but struggling with it. Yet you earned happiness you can’t really put into words to describe. Duh, am i exagerrating? Please read this light novel while you have spare time, it wont dissapoint you.🙂

One thought on “#121 Memoir of a So-Called Mom

  1. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | [Monthly Recap] April ’14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s