#110 Karma

Karma by Cathy Ostlere
Format: Ebook, 528 pages
Published: March 31st 2011 by Razorbill
Literary Awards: Booklist Editors’ Choice (2011), YALSA Awards for Best Fiction for Young Adults (2012)

It is 1984, and fifteen-year-old Maya is on her way to India with her father. She carries with her the ashes of her mother, who has recently committed suicide, and arrives in Delhi on the eve of Prime Minister Indira Gandhi’s assassination – one of the bloodiest riots in the country’s history. Then Maya is separated from her father and must rely upon the help of a mysterious, kindhearted boy, Sandeep, to safely reunite them. But as her love for Sandeep begins to blossom, Maya will have to face the truth about her painful adolescence . . . if she’s ever to imagine her future.

my thoughts

We cannot see how our lives will unfold. What is destiny and What is accident? And how can one ever be certain?

Cathy Ostlere menuliskan kisah Maya (atau Jiva) dalam bentuk Sajak. Dan ini adalah kali kedua, saya menikmati novel dengan model sajak seperti ini -setelah sebelumnya saya begitu menikmati Inside Out And Back Again. Kali ini pun, saya begitu menikmatinya. Meski bisa dibilang bahwa narasi sajak adalah alternatif dalam penulisan novel, sejauh ini yang saya dapati justru novel-in-verse selalu berhasil menampilkan estetika tanpa kehilangan ketegangan jalan cerita meski jalan cerita menjadi lebih padat dan ringkas.

Apalagi novel ini, mengambil setting kerusuhan dan pertumpahan darah di India paska ditembaknya PM Indira Gandhi oleh seorang Sikh. Terornya cukup tergambarkan, saya bahkan bacanya jadi ngeri sendiri. Dan sedih banget saat tahu Ayah Maya yang seorang Sikh, mesti mengorbankan identitasnya (janggut dan rambut panjang yang tertutup turban) demi menyelamatkan nyawa. Maya pun tak luput, ia membabat habis rambut indahnya dan berpenampilan laki-laki saat kabur dari New Delhi -terpisah dari sang Ayah.

Kesedihannya yang belum habis karena ibunya yang meninggal dengan cara bunuh diri, kehilangan jejak Ayahnya saat kerusuhan terjadi, ditambah dengan horornya menyaksikan langsung pembantaian terhadap kelompok Sikh saat ia berusaha kabur dari New Delhi, membuatnya memilih untuk menjadi bisu. Maya yang terdampar saat berusaha kabur, diselamatkan oleh Dr. Parvati Patel. Maya kemudian diungsikan ke Jaisalmer. Dr. Parvati Patel menitipkan Maya pada keluarganya dan mempercayakan adiknya, Sandeep, untuk melaporkan setiap perkembangan yang terlihat pada Maya.

Di titik ini lah, pembaca dibawa ke pov Sandeep lewat diari yang dituliskannya. Jujur, dibandingkan harian Maya yang dituliskan dengan gloomy dan melankolis, saya lebih menyukai bagian Sandeep. Lebih hidup, lebih riang, lebih enjoyable untuk di baca karena memang karakter Sandeep lebih berwarna dibandingkan Maya.

Terjalin kisah romantis di antara Sandeep dan Maya. Tentu saja. Karena sejak awal, Sandeep sudah mengagumi kecantikan Maya. Sedangkan bagi Maya, Sandeep adalah sandaran baginya dan merupakan seseorang yang mampu membuatnya memutuskan untuk berbicara kembali. Sandeep juga yang senantiasa mendampingi Maya saat ia mencari ayahnya.

Hal lain yang begitu diangkat oleh Cathy Ostlere adalah ‘perbedaan’. Yakni pembagian kasta dan kelompok sosial di India, pernikahan beda kasta agama yakni Sikh dan Brahman yang dimisalkan pada pernikahan orangtua Maya. Lalu, kenyataan bahwa Sandeep adalah yatim piatu membuatnya tak memiliki status sosial. Hingga perang saudara yang tergambar dari kerusuhan paska terbunuhnya Indira Gandhi. Mungkin kasus-kasus macam itu masih kental di tahun 80an. Sayangnya, saya tak tahu kondisi India saat ini dalam menghadapi kasus-kasus semacam itu di zaman sekarang ini hingga saya luput untuk membandingkannya.

Novel ini, indah karena dibalut dalam sajak. Novel ini juga kaya, Cathy Ostlere membuka informasi tentang kondisi kasta agama dan sosial di India dan digambarkannya dengan cukup meyakinkan. Konflik internal Maya, meski begitu mellow, namun saya bisa merasakan character development seorang Maya darinya. Lalu Sandeep, di luar masa lalunya yang kelam dan ketiadaannya dalam status sosial, adalah karakter yang refreshing dan kedewasaannya membuat kisah cinta Maya dan Sandeep tidak terasa ceroboh layaknya kisah cinta muda mudi yang naif.

Overall, novel ini adalah alternatif young adults dengan genre hitorical fiction dan setting dan kultur India yang digarap dengan sangat baik. Patut dibaca!

4 hearts

Submitted for:

d8a3f-yarc

7b8e6-nuauthor-2

banner RC Books In English 2014-600

3 thoughts on “#110 Karma

  1. Pingback: [Monthly Recap] February ’14 | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: NARC End of Year Wrap Up Post | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: 3 YA Novel in Verse You Should Add To Your TBR List | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s