#105 And The Mountains Echoed

Kulihat peri kecil muram,
Di keteduhan pohon kertas.
Kumengenal peri kecil muram,
Yang tertiup angin suatu malam.

(Sinopsis dari Goodreads) Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit sekaligus seluruh semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afganistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah.

Lalu, ayahnya menjual Pari ke pasangan kaya di Kabul, demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.

And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afganistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya.

my thoughts

IMG_20130922_161622

Source: faraziyya’s instagram

Saya membaca versi bahasa inggrisnya, tahun lalu. Jarak novel ini dengan novel Khaled Khosseini benar-benar lama hingga saya sendiri tak ingat persis tentang novel sebelumnya, dan tak yakin sendiri benarkah saya ini fans Khaled Khosseini? Yang jelas, saya turut mengantisipasi karya terbarunya ini. Sehingga saat rekan BBI (mba dewi) yang pergi ke luar negeri hunting buku- buku murah, saya titip dibelikan buku ini.

It turns out that i really loved this novel.

Saya menyadari bahwa Khaled Khosseini benar-benar master dongeng. Kisah yang dituliskannya begitu mengalir dan penuh perasaan (emosi) di saat yang bersamaan. Meski lagi-lagi karakternya adalah orang-orang Afghanistan, hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu disayangkan. Karena Khaled hendak meremukkan hati pembaca dengan cerita yang berbeda, bahkan beragam (dan dihadirkan dalam satu novel!).

Novel ini masuk ke dalam jenis novel dengan plot berlapis. Tiap lapisannya, kisahnya berbeda, namun tak pernah benar-benar keluar dari cerita utama. Novel ini menghadirkan drama keluarga terbaik yang pernah saya baca. Ah, saya lupa menyebutkan bahwa, novel ini memenangkan Goodreads Choice Awards untuk kategori fiksi terbaik. Tahu artinya apa? Kebanyakan pembaca berpendapat bahwa novel ini adalah karya fiksi yang epik.

Buat saya sendiri, saya beruntung membaca versi cetakan Bloomsbury dan cetakan Qanita (terjemahan). Karena meski membaca keduanya, sama saja dengan mengulang kisah Abdullah dan Pari, feel yang saya dapat tetap sama (bahkan mungkin bisa dibilang lebih dalam). Ya, itu artinya, terjemahan Qanita untuk novel ini sudah cukup bagus..

2013-12-31 07.58.43

Versi terjemahan Qanita, jadi bacaan pertama saya di tahun 2014!

Saya sudah katakan bahwa novel ini hadir dalam rupa lapisan fragmen cerita. Fragmen yang saya favoritkan adalah dua cerita terakhir. Di mana, membaca dua fragmen tersebut, saya benar-benar bisa mengaitkan diri saya dengan kisahnya. Dua fragmen yang sukses membuat saya sesak dan menangis. Dua fragmen penutup yang excellent. Fragmen yang akan menjadi bagian yang paling saya ingat dari novel ini.

Ya, mungkin hal tersebut kelihatan sangat personal, tapi biarlah. Ada saatnya kita menemukan buku yang sangat merepresentasikan kisah kita, dan novel ini (sebagiannya) masuk ke dalam kategori tersebut bagi saya.

Sebagai pamungkasnya, saya merekomendasikan novel ini kepada kalian. Novel ini (menurut saya) sangat ‘kaya’ dan sangat drama (dalam konotasi postif). Tidakkah kalian ingin membaca fiksi yang menampilkan rupa-rupa kehidupan yang, meskipun menyakitkan, memberi kita pelajaran?

5 hearts

And The Mountains Echoed (Bloomsbury India) | Khalled Khoseini | Paperback, 416 pages | ISBN: 978-9-3829-5100-1 | Published May 21st 2013 by Bloomsbury Publishing |

And The Mountains Echoed (Qanita) | Khalled Khoseini | 516 halaman | ISBN: 978-602-925-93-8 | Cetakan 1, Juli 2013 | Penerbit Qanita |

Some quotable lines:

A finger had to be cut, to save te hand.

(Seruas jari harus dipotong untuk menyelamatkan tangan)

People learned to live with the most unimaginable things.

(Manusia harus belajar untuk melanjutkan kehidupan walaupun dirundung oleh masalah yang tidak terbayangkan)

I learned that the world didn’t see the inside of you, that it didn’t care a whit about the hopes and dreams, and sorrows, that lay masked by skin and bone. It was as simple, as absurd, and as cruel as that.

(Aku menyadari bahwa dunia tidak melihat isi hatimu, sama sekali tidak peduli pada harapan dan impian, juga kesedihan yang tersembunyi di balik kulit dan tulang. Sesederhana, seabsurd, dan sekejam itu.)

J’aurais dû être plus gentille—I should have been more kind. That is something a person will never regret. You will never say to yourself when you are old, Ah, I wish I was not good to that person. You will never think that.

(Aku seharusnya bersikap lebih baik. Sikap baik adalah sesuatu yang tak akan disesali oleh seseorang. Kau tak akan berkata pada dirimu sendiri saat tua nanti, ‘Ah, seandainya saja aku bersikap tidak baik pada orang itu.’ Kau tak akan berpikir begitu.

3 thoughts on “#105 And The Mountains Echoed

  1. masih dalam daftar tunggu buku yang akan dibaca.. masih tergeletak rapi karena ada buku lain belum dibaca.. tapi kalau menurut ziyy bagus ya sepertinya jadi kepengen langsung mulai baca novel khaled nih… apalagi the kite runner dan thousand splendid suns itu jadi favorit saya🙂

    Like

  2. Pingback: [Monthly Recap] January ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s