#103 Inkspell

Meskipun satu tahun telah berlalu, tak sehari pun Meggie melupakan berbagai peristiwa luar biasa dalam Inkheart, cerita yang tokoh-tokohnya keluar dari buku lalu mengubah hidup Meggie selamanya.

Sedangkan bagi Staubfinger, kebutuhan untuk kembali ke dalam cerita yang asli sekarang berubah menjadi keharusan. Ketika ia menemukan pencerita jahat yang memiliki kemampuan magis untuk membuatnya masuk kembali ke cerita, Staubfinger pun meninggalkan Farid, muridnya yang masih muda, dan terjun ke Inkworld.

Farid lantas mencari Meggie, dan mereka menemukan jalan untuk ikut masuk ke cerita. Di sana keduanya bertemu Fenoglio, penulis kisah asli Inkheart, yang sekarang tinggal di dalam ceritanya sendiri—dan mendapati cerita itu berubah banyak, malah mungkin berkembang ke arah negatif yang tak pernah dibayangkannya.

Bisakah Meggie, Farid, dan terutama Fenoglio mengembalikan cerita ini ke jalur semula? (Goodreads)

Inkspell (Inkworld #2) | Cornelia Funke | Paperback, 680 halaman | September 2012 | Gramedia Pustaka Utama | Pernghargaan: Book Sense Book of the Year Award for Children’s Literature (2006) |

4-star-rating

~

Di sekuel Inkworld ini, pembaca akan dibawa ke Tintenwelt – fairy world ciptaan Fenoglio. Mulanya, karena Farid meminta Meggie untuk masuk ke dalam Tintenwelt ketika ia tak rela ditinggal Staubfinger yang sudah kembali terlebih dahulu ke sana. Tapi kemudian ternyata orangtua Meggie, Mo dan Resa, juga terseret masuk ke dalamnya setelah dengan tiba-tiba Basta dan Mortola muncul ke dunia mereka hendak melancarkan balas dendam.

Bila di buku pertama, selain Meggie dan Mo yang memiliki kemampuan silvertounge juga ada Darius. Di sekuel ini, muncul silvertounge lain -dengan kemampuan yang lebih terasah- bernama Orpheus. Ia, di samping menjadi silvertounge, mampu meramu plot yang baru dari buku yang ia baca dengan menggunakan kata-kata yang bersumber dari buku yang sama (dan sepertinya akan menggantikan peran Fenoglio di buku selanjutnya). Hanya saja tak seperti Meggie, Orpheus tak mampu membawa dirinya sendiriΒ  masuk ke dalam buku yang dibaca. Oia, Orpheus lah yang akhirnya meloloskan keinginan Staubfinger untuk kembali ke Tintenweltz.

Sekuel ini, yang sebagian besar cerita mengambil latar Tintenwelt, menawarkan cerita yang lebih menarik. Disesaki karakter-karakter baru -yang merupakan karakter fairy tale a la Tintenwelt. Dan ekplorasi kekuatan silvertounge yang dimiliki Meggie. Selain itu, dari sekian banyak karakter yang muncul, Fenoglio dan Staubfinger lah yang terasa dominan (imho).

Fenoglio menjadi karakter yang penting sejak dia lah Pencipta Tintenwelt, yang paling mengenal karakter-karakter ciptaannya, menguasai jalan cerita dan berkuasa untuk membolak-balikkan kisah. Lalu Meggie, yang ternyata kemampuan silvertounge-nya bisa dikatakan lebih profesional, membantu Fenoglio mewujudkan setiap kata menjadi nyata.

Lalu Staubfinger, mengapa saya katakan ia terasa lebih dominan di sini? Mungkin karena saya merasakan character development-nya. Ia yang pengecut dan lemah, di sekuel ini, berusaha sebaik-baiknya untuk setidaknya memperbaiki kesalahan di mana ia terlibat andil di dalamnya. Mungkin juga karena sekuel ini berlatar Tintenwelt tempat Staubfinger tinggal, menghadirkan pemandangan Staubfinger yang memiliki orang-orang yang dicintai dan dirindukan – Staubfinger yang terlihat lebih manusiawi. Bahkan di akhir cerita, pembaca akan dikejutkan betapa ternyata Staubfinger memang lemah untuk orang-orang yang disayanginya.πŸ˜₯

Oia, saya belum menceritakan villains yang muncul kali ini. Selain Basta dan Mortola yang muncul untuk balas dendam atas kematian Capricorn di buku pertama, hadir Raja Natternkopf. Pemilik tahta kerajaan Kegelapan dan suka menganiaya manusia. Meski sebenarnya musuh utamanya bukanlah Meggie, melainkan ketakutannya sendiri terhadap kematian, Natternkopf telah dihasut Mortola sehingga berpotensi untuk bisa menghabisi Meggie dan keluarganya.

Meski sekuel ini menghadirkan cerita yang lebih luas dengan karakter yang begitu variatif (dan kadang ceritanya terasa begitu bercabang), saya lebih menyukai buku ini ketimbang buku pertama. Eeh.. tapi mungkin lebih karena bias Staubfinger X)

Well done Cornelia Funke. You’re a good storyteller!

“Cerita tidak akan berakhir, Meggie,” begitu Mo pernah berkata pada suatu waktu, “walaupun harapan kosong seperti itulah yang kita dapatkan dari buku-buku. Cerita kan berlanjut, tidak tamat di halaman terakhir seperti halnya ia tidak berawal di halaman pertama.”

Indiva Readers Challenge 2014

Indiva Readers Challenge 2014

One thought on “#103 Inkspell

  1. Pingback: [Monthly Recap] January ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s