#102 Lustrum

Rome, 63 BC. In a city on the brink of acquiring a vast empire, seven men are struggling for power. Cicero is consul, Caesar his ruthless young rival, Pompey the republic’s greatest general, Crassus its richest man, Cato a political fanatic, Catilina a psychopath, Clodius an ambitious playboy.

The stories of these real historical figures – their alliances and betrayals, their cruelties and seductions, their brilliance and their crimes – are all interleaved to form this epic novel. Its narrator is Tiro, a slave who serves as confidential secretary to the wily, humane, complex Cicero. He knows all his master’s secrets – a dangerous position to be in.

From the discovery of a child’s mutilated body, through judicial execution and a scandalous trial, to the brutal unleashing of the Roman mob,Lustrum is a study in the timeless enticements and horrors of power.

Lustrum (Cicero #2) | Robert Harris | ebook | 464 pages | Published September 7th, 2010 by Cornerstone Digital |

4-star-rating

~

Buku ini adalah sekuel dari Imperium (Cicero #1), novel biografi Marcus Tullius Cicero. Terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia, menggunakan judul Conspirata.

Di buku kedua ini, kita dibawa ke dalam keseharian Cicero selama menjadi consul juga selama masa lepas jabatannya. Buku ini membuat pembacanya menjadi saksi bertebarannya intrik yang merintangi Cicero dalam menjalankan jabatannya sebagai consul. Memang sejak awal, bisa dibilang Cicero adalah public enemy bagi orang-orang politik di masanya. Bukan karena ia mempraktikkan politik yang kotor tapi justru sebaliknya.

Berat sekali apa-apa yang mesti dilalui Cicero. Mulai dari sekumpulan orang yang menumbalkan seorang budak demi bersumpah dengan darah untuk menghabisi Cicero; serangan frontal yang mengancam nyawa dan keluarga; suap dan berbagai intrik hukum peradilan. Sejauh ia menjabat consul, ia bisa menghindarinya. Tapi sampai sejauh mana ia bisa mengatasi niat jahat lawan-lawan politiknya itu? In my honest opinion, what Cicero beared was too much for a man to handle. But maybe it’s as it synopsis said: it’s horrors of power.

Membaca buku ini, saya ngga sabaran dengan ketebalan halamannya. Lebih-lebih saya membaca versi bahasa inggris. Alhamdulillahnya sih, saya tetap bisa mencerna jalan cerita dan menangkap emosi yang hendak disalurkan dalam narasi sang penulis.

Beneran deh, pembaca buku ini akan terbuka matanya terhadap ‘abu-abu’nya kehidupan politik dan kekuasaan itu. Betapa hal tersebut mampu menarik keluar sisi manusiawi dan sisi kelam seorang manusia sekaligus. Asli, di banyak bagian, intrik politik itu sungguh menyeramkan.

‘What is wicked about you, Caesar -worse than Pompey, worse than Clodius, worse even than Catilina- is that you won’t rest until we are all obliged to go down on our kness to you.’

Berkali-kali saya bertanya pada diri sendiri, sebegitu villain-kah Caesar itu? Saya hanya ingat sedikit dari filmnya yang pernah ditayangkan di tv lokal bahwa di akhir cerita Caesar meninggal ditusuk beramai-ramai oleh anggota senat (eh, benarkah ingatan saya ini? apa mungkin saya terkecoh adegan film lain yang agak serupa? cmiiw). Dan bila benar itu adalah akhir bagi Caesar sebagai pembayaran atas perbuatannya selama ia hidup, maka mungkin memang benar bahwa Caesar begitu dirasuki hasrat atas kekuasaan.

Eh, malah ke Caesar duluan, ini kan serial novel biografi Cicero, ziyy! -.-a

‘I have my faults, Tiro – you know them better than any man: no need to point them out – but I am not like Pompey, or Caesar or Crassus. Whatever i’ve done, whatever mistakes i’ve made, i’ve done for my country; and whatever they do, they do for themselves.’

Di sekuel ini, kita akan melihat bahwa kekuasaan memang, mau tidak mau, akan membuat orang yang memegangnya menjadi tak lagi benar-benar lurus dalam prinsipnya. Maksudnya, mereka perlu berimprovisasi dan menyesuaikan strategi yang bahkan perlu sedikit melenceng. Hal ini juga terjadi pada Cicero. Ada saat di mana ia bersekutu, atau mengambil suap. Tapi baginya, semua itu demi mempertahankan negerinya dari penguasa yang telah buta kekuasaan. Setidaknya ia tidak menyerahkan pada pihak-pihak yang hanya menginginkan kekuasaan dengan berpolitik (bahkan hingga akhir)!

Saya katakan sekali lagi, saya sempat kesal dengan panjangnya narasi Robert Harris dalam sekuel ini. Lebih panjang dari buku pertama. Tapi di saat yang bersamaan, saya takjub dengan keberhasilannya mendetailkan kisah hidup Cicero. Sangat kaya dan kuat di saat yang bersamaan. Belum lagi  akhir cerita yang membuat saya menitikkan airmata dan frustasi atas apa yang menimpa Cicero. Membalikkan semua keraguan saya untuk hanya memberikan novel ini empat bintang. It was amazing afterall. Though it’s still a work of fiction, Robert Harris’s effort worth to be praise!

Extras: Here are some good quotes -related to politics.

‘Problem’s do not queue up outside a stateman’s door, waiting to be solved in an orderly fashion, chapter by chapter, as the books would have us believe; instead they crowd in en masse, demanding attention.’

‘Unfortunately, politics is neither as clean as a wrestling match, nor played according to fixed ruled.’

‘The really successfull politician detaches his private self from the insults and reverses of public life, so that it almost as if they happen to someone else; Caesar had that quality more than any man i ever met.’

‘But in politics one cannot always pick and choose one’s enemies, let alone one’s friends. To save the republic, I must abandon and old dear companion. To save the republic, you must embrace the ally of your bitterest foe.’

‘Once a leader starts to be laughed at as a matter of routine, he loses authority, and then he is finished.’

‘There are no lasting victories in politics, there is only the remorseless grinding forward of events.’

‘Ambition and lust are often intertwined.’

‘Mark my words, Tiro: all regimes, however popular or powerful , pas away eventually.’

Indiva Readers Challenge 2014

Indiva Readers Challenge 2014

One thought on “#102 Lustrum

  1. Pingback: [Monthly Recap] January ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s