#99 Inkheart

Inkheart by Cornelia Funke

Inkheart | Cornelia Funke | Paperback, 536 halaman | Published January 2009, Gramedia Pustaka Utama | Literary Awards: Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Children’s Literature (2004), Zilveren Griffel (2006), Nene Award (2009), Flicker Tale Children’s Book Award (2006), ALA Teens’ Top Ten (2004) Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2004), Kirkus Reviews Editor’s Choice, USA Today Bestseller, New York Times Bestseller, ALA Notable Book, Publishers Weekly Best Children’s Book |

~

Ayah Meggieβ€”namanya Moβ€”memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya! (Goodreads)

Nah, mungkin kisah Meggie sudah ngga asing. Film Inkheart yang dibintangi Brendan Fraser ini bahkan sudah pernah ditayangin di salah satu stasiun tv swasta. Yap, persinggungan pertama saya dengan Inkheart memang berkat menonton film tersebut di TV (yang entah, saya tak ingat persis kapan). Tapi kemudian ternyata Inkheart adalah trilogi buku. Akhir tahun kemarin, saya (akhirnya) menyempatkan diri membaca buku pertama dan kedua dari trilogi inkworld demi tahu apa yang sebenarnya terjadi (di dalam buku). I can say that it was a lot better than the movie!

Terjemahan dari Gramedia ini sudah enak banget dibacanya. Tetap berhasil membuat buku ini page-turning. Lagi, buku ini memunculkan karakter seperti Mo, Meggie dan Elinor yang adalah pecinta buku. It’s a pleasure to meet them! Mo yang adalah ‘dokter’ buku (dan seorang silvertounge), lalu Meggie yang berteman dengan buku sejak kecil (tak terelakkan). Sedangkan Elinor, adalah representasi dari seseorang yang terlalu mencintai buku. She’s obsessed with books!

Kemampuan memunculkan karakter fiksi ke dalam kehidupan, adalah kemampuan yang enviable banget! Jujur, saya ikutan kepingin dan jadi berandai. What it feels like to have your bookfriend appear to your real life? #ehπŸ˜„. Dan ide ini yang rasa-rasanya yang membuat buku ini terasa menjanjikan.

Selain Meggie, Mo dan Elinor yang telah saya sebutkan, sebenarnya buku ini menghadirkan hal lain (di samping karakter villain dan fairy world bernama tintenweltz) yakni fragmen di mana penulis adalah orangtua bagi karakter dari cerita yang diciptakannya. Its so true, even sometimes the writer is the God for his (fictional) creature. Dalam serial ini, adalah Fenoglio yang memuluskan jalan cerita dan menjadi jalan keluar dari kekacauan yang disebabkan keahlian Lidah Ajaib.

And a little about the movie adaptation

In my opinion, the casts are okay. Well-suited for the characters of the book. But then, movie adaptation suppose to entertain people and yet for that the story could be improvised or cut or re-write in order to gain the number of people who’d watch. My final thoughts, the movie adaptation was okay. I can’t complain even though i would love if there will be the sequel just like the book did (with having Inkspell). I’m not satiesfied when i know its that easy for Dustfinger (or Staubfinger in the book) to return to his real world as easy as Mo read it out loud or how easy Resa get back her voice at the end of the movie. And now that i already read the sequel, i want more motion picture adaptation. The story, the written one, really was beautiful. You’d better read it too when you already have watch the movie adaptation because the book gives you more!

8 thoughts on “#99 Inkheart

  1. Pingback: Signor Fenoglio | Faraziyya

  2. Pingback: Telling Tuesday #6 | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: [Monthly Recap] January ’14 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s