#98 The (Sweet and Sour) Strawberry Surprise

The Strawberry Surprise | Desi Puspitasari | Cetakan Pertama, Mei 2013 | 270 halaman | Bentang Pustaka |

Dalam sekotak stroberi segar, rasa masam dan manis berpencar. Tak bisa ditebak, tidak dari warna tidak pula dari tekstur. Gigit saja buah yang kamu pilih, terima rasa masam maupun manis yang didapat. Seperti itu pula cinta, setidaknya itu yang ditawarkan dalam novel ini, bahwa cinta (dan bahkan kehidupan) bisa dianalogikan lewat buah merah kecil penuh bintik bernama stroberi.

~

Suatu hari, Aggi menerima paket yang datang ke alamatnya. Isinya sebuah buku berjudul Kisah Mata karangan Seno Gumira Ajidarma. Pengirimnya bernama Peter, beralamat di Bandung. Aggi tidak ingat ia pernah mengenal nama Peter dalam kehidupannya, apalagi yang berasal dari Bandung. Mencari Peter lewat mesin pencari daring pun percuma, terlalu banyak nama Peter untuk ditelusuri.

Mau tak mau Aggi penasaran, lalu bertanya pada atasannya kalau-kalau ada jejak seseorang yang mencari tahu keberadaannya lewat galeri tempat ia bekerja. Benar saja, ada yang hendak bermain tebak-tebakan. Tidak cukup memberi buku, sang pengirim memintanya pergi ke Taman Budaya dan kemungkinan Aggi akan bertemu sang pengirim paket di sana. Alih-alih langsung bertemu, kejutan dari sang pengirim paket bertambah. Empat contong es krim stroberi ia terima. Tentu saja, meski butuh waktu untuk memikirkannya, teka-tekinya semakin jelas. Ia tahu siapa pengirim paket yang mencomot nama Peter: Timur Angin!

Timur tiba-tiba saja muncul setelah lima tahun berselang sejak putusnya hubungan spesial di antara mereka. Jarak lima tahun itu pula, tenggat kesepakatan mereka untuk bertemu kembali bila keduanya masih sendiri. Tapi tak mudah buat Aggi menerima Timur kembali, apalagi dalam 5 tahun keterpisahan mereka, Aggi mendapati bahwa laki-laki adalah makhluk yang mengecewakan. Lalu Aggi terbersit ide, akan seberapa bertahan-kah Timur bila ia menawarkan kesepakatan lain. Kesepakatan berupa pertemuan di akhir pekan untuk mendengarkan cerita-cerita Aggi tentang beberapa laki-laki yang membuat ia menjadi wanita skeptis.

Timur menyanggupi. Sejak mendengar tawa dalam memori yang begitu saja mendesak masuk beberapa hari belakangan, ia merasa perlu untuk bertemu dan merajut kembali hubungannya bersama Aggi. Meski Aggi, sungguh bukan wanita yang hatinya mudah ditaklukkan. Perlu banyak kejutan, yang kebanyakan dihadirkan Aggi, untuk diterima oleh hatinya. Kebersamaan di akhir pekan tertentu yang dihabiskan di jalanan Yogyakarta dan kadang Bandung. Termasuk cerita tentang laki-laki lain yang singgah dalam kehidupan Aggi selama Timur tidak ada. Dan kali ini, Timur tahu bahwa ia akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang serius.

Tapi bagaimana reaksi Aggi? Kejutan apalagi yang menjadi jawaban untuk keseriusan Timur? Akan terasa ‘masam’ kah? Atau ‘manis’ kah?

~

Timur: Tambah satu lagi; kau mengejutkan. Sungguh. aku tidak mengira kamu akan bisa datang sore ini. Mencari informasi dan menemuiku diam-diam.

Aggi: Seperti rasa kecut yang tiba-tiba muncul dari setangkai stroberi? Kamu kira dia manis sekali tapi ada kecutnya.

Timur: Seperti itu.

Aggi: Kejutan yang menyegarkan?

Timur: Kejutan yang  manis

Aggi: Jangan sok dewasa seperti itu. Sok kebapakan. Tebar pesona dengan tersenyum tulus. Tatapan mata teduh. ‘Kejutan yang manis’? Kamu kira aku akan kelepek-kelepek begitu mendengar pujian itu? Jangan harap. Aku tidak mudah kepincut.

Timur bengong. Lalu, dia mendengus geli. Mendengus sekali lagi. Baru kemudian tawanya lepas.

Timur: Yang sinis itu karaktermu atau kejelian mata fotografmu?

Aggi: Dua-duanya.

Timur: Benar-benar kejutan yang menyegarkan!

~

The Characters

Aggi, adalah seorang kurator seni sekaligus fotografer analog yang mengendarai honda bebek merah antik keluaran tahun 70an. Menyukai stroberi dan menghidupkan asam-manis rasa stroberi dalam karakternya, seolah stroberi adalah representasi dirinya. Heroine dengan sifat-sifat di luar stereotip feminin, suka bersolek, dan manja. Penampilannya biasa, bahkan Timur mengategorikan penampilannya ‘masam’. Tapi Aggi memiliki senyum termanis yang pernah dilihat Timur.

Aggi menjelma wanita skeptis terhadap laki-laki di usianya yang mendekati 30 tahun. Tapi ini tidak terdengar seburuk itu kok. Karena pengalaman yang membentuknya, selain skeptis, toh Aggi menjadi lebih berhati-hati dan bisa lebih baik dalam menilai laki-laki. Lebih-lebih untuk menilai kesungguhan Timur yang kembali ke kehidupannya.

Lalu, Timur Angin. Laki-laki yang di waktu senggangnya bermain saksofon, memiliki keteduhan yang menggelayut di matanya yang coklat. Atraktif. Usianya terpaut 5 tahun di atas Aggi. Dan siapa menyangka kepada Aggi lah, dengan segala masam dan manis yang diperlihatkannya kepada Timur, hatinya benar-benar tertambat.

The Writing

Di salah satu review di Goodreads, saya menemui pembaca yang tidak sreg dengan bahasa agak formal untuk mengekspresikan percakapan dan bahasa lisan di novel. Tapi yang terjadi pada saya justru sebaliknya: saya menyukainya. Bisa jadi karena saya justru tidak menyukai format novel yang menggunakan bahasa formal untuk narasi lalu berganti bahasa verbal gaul untuk percakapan. Maafkan, sepertinya pengaruh novel luar dalam penulisan aku-kamu yang konsisten dalam i-you mendominasi selera saya dalam menikmati bacaan fiksi.

Kemudian, dalam penulisan, menurut saya variasi diksi merupakan unsur penambah estetika. Saya sangat mengapresiasi usaha penulis untuk membuat novel yang berbahasa indonesia dengan baik (dan kaya diksi!). Saya jadi menunggu, kira-kira kapan penulis mengeluarkan novel yang lebih dalam sastra literasi-nya. Dan saya juga berandai, bilamana sang penulis membuat novel untuk diikutsertakan ke even kompetisi novel tahunan DKJ dan menggali lokalitas budaya suatu daerah tertentu, akan segiat apa ia menghidupkan cerita miliknya?

Terakhir, penulisan latar tempat dan profesi tokoh dalam novel. Untuk latar tempat, jalanan Yogyakarta dan Bandung terasa kental betul! Sedikit banyak saya bisa mengerti, karena penulis memang tinggal di Yogyakarta sehingga kota tersebut terdeskripsi sefamiliar rumahnya. Lalu profesi, di mana dikatakan bahwa Aggi adalah seorang kurator di sebuah galeri seni. Gambarannya juga begitu meyakinkan. Asyik sekali, saya berkesempatan mengintip sisi Yogyakarta yang dipenuhi seniman.

Final Thought(s)

Secara keseluruhan, packaging novel ini, sudah sangat menarik. Cerita yang tidak begitu klise, karakter yang remarkable, dan penulisan yang tidak disesaki skenario kebetulan yang basi. Bacaan yang juicy dan menyenangkan, apalagi ditemani es krim mangkok rasa vanilla, eh, stroberi.

Selamat Membaca.

review ini diikutsertakan dalam Lomba Review Novel Love Flavour Series yang diadakan Bentang Pustaka

One thought on “#98 The (Sweet and Sour) Strawberry Surprise

  1. Pingback: Telling Tuesday #6 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s