#95 Everybody Sees The Ants

Everybody Sees The Ants by A. S. King

Everybody Sees The Ants by A. S. King

Everybody Sees The Ants | A. S. King | ebook, 254 pages | Published October 3rd, 2011 by Brown Books for Young Readers | Literary Awards: Cybils Award Nominee for Young Adult Fiction (2011), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), Andre Norton Award Nominee for Young Adult Science Fiction and Fantasy (2011), YALSA Best Fiction for Young Adults (Top Ten) (2012) |

5-star_rating_system_pcar_01-e1349540653866

If you were going to commit suicide, what method would you choose?

Kalau ada seorang siswa SMA yang melontarkan pertanyaan di atas untuk questionare yang sedang dikerjakannya, orang itu adalah Lucky Linderman. The question itself sounds threatening, anyone who heard it would think that Lucky has some issue.And yes, he has. But its not like he’s going to commit a suicide himself. Its not like that.

So what kind of issue he has?

Bullying.

Ever since he’s 7 years old, Nader McMillan always making Lucky as his target of bully. Dan puncaknya adalah saat ternyata pertanyaan ‘salah’ dalam questionare itu menyeret nama Nader, Lucky mendapat perlakuan terburuk (yang bahkan saya ngga sanggup baca kecuali dengan perasaan terluka dan tenggorokan tercekat). Apa kemudian Nader berhenti mengusik Lucky? Engga. Saat Lucky membela temannya yang jadi bulan-bulanan Nader, saat itu lah Lucky mendapatkan lagi ‘pelajaran’ berupa bogem yang membuat wajahnya menghantam dinding dan meninggalkan luka mengelupas kulit pipi membentuk peta Ohio!

Mengetahui hal tersebut, ibu Lucky menjauhkan Lucky dari Nader dan membawanya menghabiskan musim panas di tempat paman Dave dan bibi Jodi di Tempe -Arizona. Di sana tak lebih baik, karena bibi Jodi repot sekali mendesak ibu Lucky dan memvonis bahwa psikologi Lucky bermasalah. Paman Dave, yang awalnya begitu ia kagumi dan berharap bisa menggantikan sosok ayah, ternyata menyimpan rahasia yang membuat ia muak. Tapi di sana, ia bertemu gadis berambut indah bernama Ginny. Yang dibalik kesempurnaan (dan rambut indahnya) ternyata juga memberontak dan ingin ‘membebaskan diri’.

Di sepanjang hal yang dialami Lucky tersebut, ada hal yang membantunya tetap waras: teman imajiner. Mimpi-mimpi bertemu dan bertualang dengan sang kakek yang adalah veteran perang dan semut-semut yang menjadi saksi semua yang di alami Lucky. Adakah semut-semut ini hanya bisa dilihat Lucky atau kah setiap orang bisa melihat dan mendengar mereka?

~~~

Lucky Linderman

Why didn’t anyone think my life was precious when I told them Nader McMillan was pushing me around? That was… what? Second grade? Fifth grade? Seventh grade? Every freaking year of my life?

Tokoh utama kita yang satu ini, sungguh, malang sekali. Target bully selama bertahun-tahun. Bukan ia terus bungkam, karena saat awal ia mengalami bully dari Nader, ia pernah berterus terang. Tapi apa feedback yang ia dapat dari mengadukan hal itu kepada ayahnya? Tidak ada. Ayahnya meminta Lucky tidak melawan balik dan memintanya mengabaikan saja. Tapi Lucky tahu itu tidak cukup. Hanya, mau bagaimana lagi kalau bahkan orangtuamu tidak pernah benar-benar membelamu?

Dulu, yang  membela dan menjadi orangtua bagi Lucky adalah sang nenek. Tapi Grandma-nya meninggal saat usianya 7 tahun. Lucky has no one. It sounds like that, but he has his Grandpa (in his dreams) and the ants. Later we’ll find how Lucky finally work out and break all his misery that built in his self ever since he’s been bullied.

Nader McMillan

You’re mine, Linderman!

No one, who has read this book, not going to hate him. And i have no more words for him except i hate him.

Victor and Lori  Linderman

I like them, but I wish they did their job, you know?

Lori is a squid and Victor is a turtle, they’re Lucky’s parents. Lucky is the one who title them as squid and turtle. Lori, sang ibu, pelariannya adalah renang. Oh, scratch that. She can’t live without swimming 20 laps (at least) every day. Victor, ayah Lucky, menggunakan ‘cangkang’ untuk bersembunyi. Dan dia selalu menyalahkan kondisinya yang ‘tak berayah’ (well, sang ayah pergi sebagai tentara perang sejak Victor bayi) untuk hubungannya dengan Lucky yang tak pernah seperti hubungan ayah-anak.

As a reader, i was dissapointed. But then, they’ll find their way to be a better parents, later. So, let them be.

Grandpa and The Ants

They’re the witnesses. Meskipun ia tidak punya seseorang untuk bersandar, setidaknya Lucky berhasil ‘menciptakan’ mereka. Dan bila dengan menciptakan mereka, Lucky bisa memegang kewarasannya, maka hal itu acceptable (menurut saya). Kondisi ini, sebenarnya tidak hanya Lucky yang mengalaminya kan? Masih ada manusia di luar sana yang memerlukan ‘teman imajiner’. Just don’t be judgemental.

As for me, i found this idea is awesome. The ants, and why the ants? That tiny creatures and yes, in fact, they’re everywhere. Obvious witness. Like inanimate objects, silent but they’re always there. Everywhere.

Aftermath

Ginny, could be love of his life. Or his first love. But, Ginny was more than that. She has an important role just so Lucky will learn that he can fight back his bully-fate. And the truth is, Ginny was his first true friend that he shared his sad story. Tapi Ginny hanya memberikan Lucky ‘gagasan’, karena pada akhirnya, Lucky lah yang harus bertindak dan breakthrough.

I love the way the story lead to a clean retreat. I love the way Lucky arrive in his own aftermath that sounds like a happy ending. Still, hate is not necessary to be a payback. Because all Lucky need is (really) stand for himself.

Final thought

Saya belum menyebutkan bahwa saya menangis saat membaca setengah bagian akhir buku ini. Empati untuk Lucky timbul, dan sekali lagi saya ulangi, bahwa yang bullying yang Lucky alami itu terkadang terasa unbearable dan bisa saja Lucky memilih untuk bunuh diri. Tapi kemudian ia memilih untuk tidak, dan memegang kewarasannya. A standing ovation for him.

Dan buku ini memang layak mendapat penghargaan sebagai best fiction dan menjadi nominasi award lain karena kontennya padat. Tema bullying, broken family, Vietnam-war setting, moving on without hatred, and a little romance. Recommended? Of course. Will you consider my recommendation?

Untitled

6 thoughts on “#95 Everybody Sees The Ants

  1. Pingback: #95 Everybody Sees The Ants | Todd DeanTodd Dean

  2. Pingback: Telling Tuesday (12/17) | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Day 1: Top Five Book Boy Friends | Faraziyya's Bookshelf

  4. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

  5. Pingback: Mental Health Issues in Young Adult Novels | Faraziyya's Bookshelf

  6. Pingback: #178 Glory O’Brien’s History of the Future | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s