#93 Imperium

Imperiumย (Cicero #1) | Robert Harris | Alih bahasa: Femmy Syahrani | Paperback | 416 halaman | Tahun terbit: 2008 | Gramedia Pustaka Utama |

4-star-rating

Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan November yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

Dengan kecerdasannya, dengan kekuatan suaranya, Cicero mempertaruhkan kasus ini—dan seluruh hidupnya—demi ambisinya meraih jabatan tertinggi di republik Romawi. Imperium yang sesungguhnya.

~~~

Yap. Saya telat beud yak? Baru sekarang baca hisfic keren ini. Berhubung ini buku udah banyak dibaca, dan kayaknya sinopsisnya cukup padat, saya boleh ya ngeles dari bikin summary-nya?๐Ÿ˜›

‘Politik? Membosankan? Politik adalah sejarah yang bersayap! Wilayah kegiatan manusia apa lagi yang membangkitkan sifat termulia dalam jiwa manusia, sekaligus semua sifatnya yang terhina? Atau yang begitu menggairahka atau yang lebih gamblang mennyingkapkan kekuatan dan kelemahan kita?’

halaman 233-234

Buku ini keren banget, mencakup sosok Cicero dong tentunya. Idealismenya itu lho. Meski dia mengaku bahwa politik adalah profesi dan mengelak dengan berkata bahwa dia bukan pejuang revolusi. Dari membaca semi-biografi ini, pembaca luas bisa tahu bahwa karakternya lempeng. Dan ia menjalani karir politiknya dengan cerdas sekaligus taktis. Cicero sadar betul dan mengambil jarak dari kemungkinan korupsi. Meski menyangkal bahwa ia bukan pejuang revolusi, Cicero tetap merasa bertanggungjawab dengan keadaan konstitusi dan politik Roma.

‘Berjanjilah kepadaku,’ kata Lucius setelah beberapa lama, ‘jika suatu saat nanti kau meraih Imperium yang begitu kau dambakan, kau tak akan memimpin dengan kekejaman dan ketidakadilan seperti ini.’

‘Aku bersumpah,’ sahut Cicero, ‘Dan jika suatu saat nanti, Lucius terkasih, kau mempertanyakan mengapa orang-orang baik meninggalkan filsafat untuk mencari kekuasaan di dunia nyata, berjanjilah kepadaku bahwa kau akan selalu mengingat apa yang telah kau saksikan di Tambang Batu di Siracusa.’

halaman 152

Menjadi Cicero yang bergerak perlahan namun mantap ke Imperium yang dicita-citakan itu ngga mudah. Menjadi Cicero, sosok yang berprinsip dan bersih sudah pasti dalam perjuangannya banyak aral dan musuh. Naah, bahkan di buku pertama ini, perlawanannya terhadap Crassus dan sekutunya belum selesai kawan-kawan. Saya udah ngebayangin yang jauh lebih worse akan terjadi di buku kedua yang berjudul Conspirata. Ngerii.

Tentunya, banyak yang saya sukai dari buku ini. Pertama, good writing & translation. Well, saya emang cuma baca terjemahan, tapi saya yakin penulisannya di bahasa aslinya juga bagus. Lalu narasi latar tempatnya, tentang Roma dan kota-kotanya, sangat visual. Deskripsi fisik karakter-karakternya, pun. Tetep aja sih saya pusing dengan nama-namanya. Hahha.

Penggambaran intrik politik yang terjadi, intensitasnya berasa banget. Karakter-karakter villainnya, deuh, bikin gemes.

Plus banget dari saya itu hubungan Cicero dan istrinya Terentia. Ngga romantis, malah seringnya bertengkar, tapi mereka ini sangat mengenal satu sama lain. Dan mereka ada, takdirnya, untuk saling mendukung. Melengkapi. Adorable though in not romantic-way do.

Karakter favorit saya dari buku ini, tentu saja, Lucius!

‘Lucius sama sekali tidak memiliki ambisi duniawi. Dia hidup sendirian, di rumah kecil yangdipenuhi buku, dan tidak melakukan apa-apa seharian selain membaca dan merenung -pekerjaan paling berbahaya bagi manusia, yang menurut pengalamanku selalu mengarah ke kelainan dispersia dan melankolia.’

Mungkin karena kami sama-sama melankolis. Uhuk! Tapi sebenarnya sih lebih karena Lucius ini hatinya lembut, dan sosoknya ngga cocok dengan Roma yang (saat itu) cruel. Well, life is cruel. Sampai-sampai dia ‘menyerah’. Ah, saya nyesek banget di bagian ini.

Kalo ada karakter yang kayaknya bakal bisa (dan harapkan) saya peranin itu mungkin adalah Atticus. Bukan favorit pertama, tapi kedua. Hehhe. Atticus itu ngga heroic, tapi dibutuhkan sekali untuk ada. Atticus agak mirip Lucius, dengan perbedaan dia suka bersosialisasi hingga ia diterima banyak orang dan koneksinya bagus.

Overall, 4 bintang buat semi-biografi Cicero ini. Untuk Conspirata, kayaknya saya baca yang versi bahasa inggris yang judulnyaย  Lustrum. Semoga selesai di bulan ini seperti sudah saya rencanakan.

~~~

‘Kadang-kadang, jika kita menemui jalan buntu dalam politik, yang harus dilakukan adalah memulai pertempuran. Memulai pertempuran, sekalipun kita tak tahu cara memenanginya, karena hanya saat pertempuran berlangsung, dan segalanya bergerak, kita bisa berharap dapat melihat jalan keluar.’ -halaman 61.

‘Ketekunanlah, dan bukan kejeniusan yang mengantarkan manusia ke puncak. roma penuh dengan orang jenius yang tak dikenal. Hanya ketekunan yang memungkinkan kita maju di dunia ini.’ -halaman 96.

‘Seni kehidupan adalah mengatasi masalah ketika ia muncul, bukannya menghancurkan semangat dengan mencemaskan hal-hal yang telalu jauh di depan.’

3 thoughts on “#93 Imperium

  1. Pingback: Telling Tuesday (12/10) | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s