#83 Fortunately, the Milk

Fortunately, the  Milk | Neil Gaiman | ebook, 128 pages | Published September 17th, 2013 by Harper Collins |

4-star-rating

Ibu pergi untuk konferensi selama beberapa hari. Meninggalkan kami; aku dan adik perempuanku, dalam penjagaan Ayah. Tapi bahkan saat Ibu berpesan ini-itu untuk dikerjakan selama ia tidak ada dirumah, Ayah terus membaca korannya. Aku kira ia tidak memperhatikan, tapi saat Ibu meminta Ayah mengulangi pesan-pesannya sebelum ia berangkat, Ayah mengulangi dengan tepat semua yang dikatakan Ibu.

Malam pertama Ibu tidak dirumah, semua berjalan seperti  biasa. Tapi tidak dengan pagi ini, saat kami hendak sarapan sereal. Persediaan susu habis. Di kulkas hanya ada jus jeruk, tidak ada sampingan yang pas untuk sereal kami. Jadilah Ayah ke supermarket terdekat untuk membeli susu dan kami menunggu. Aku meminum jus jeruk dan adikku memainkan biolanya. Tapi mengapa Ayah lama sekali? Hampir saja aku menghabiskan sereal Toastios ini tanpa susu saat kami dengar ketukan di pintu dan menyadari bahwa itu adalah Ayah.

Saat kami bertanya mengapa ia pergi lama sekali, Ayah membalasnya dengan cerita panjang yang terdengar mengada-ada. Ya, menurutku Ayah membual dengan ceritanya. Kalian siap mendengarkan apa yang Ayah ceritakan padaku dan adik perempuanku?

Ayah bilang, saat ia berjalan kembali setelah membeli susu, ia melihat piringan UFO. Bayangkan, UFO di pagi hari?? Katanya, UFO tersebut bahkan mengeluarkan cahaya lampu yang berpijar bahkan di saat terang. Lalu alien yang terbang dalam UFO tersebut turun dan berhadapan dengan Ayah. Ayah bilang mereka terlihat seperti ini.Untitled

Alien-alien itu meminta Ayah untuk menyerahkan bumi kepada mereka. Mereka datang dari tempat yang sangat jauh dan ingin menduduki bumi untuk mereka renovasi! Sesuka hati mereka. Ayah menolaknya. Oh, tentu saja ia menolaknya, pikirku. Sejak kapan ia menjadi penguasa bumi?

Karena menerima penolakan, alien-alien itu mengancam Ayah. Tersudut, Ayah melihat sebuah pintu darurat dan ia bergegas ke pintu tersebut menghindari para alien. Ayah tak mendengar lagi peringatan para alien bahwa pintu itu adalah gerbang dimensi waktu. Saat ia masuk ke pintu tersebut, Ayah malah terjatuh ke lautan luas. Untungnya, botol susu digenggamnya kuat-kuat.

Ia terjatuh ke perahu besar milik seorang bajak laut wanita, yang rupanya seperti ini.

Untitled 2Mendarat di perahu bajak laut tanpa izin, sang ratu bajak laut memberi Ayah dua pilihan: ikut bersama menjadi kawanan bajak atau dibunuh dan jasadnya akan dibuang ke laut. Untitled 3Ayah memilih untuk berjalan di atas papan. Itu lho, seperti di film-film tentang bajak laut. Menurut Ayah, hanya dengan bagitu, ia mungkin akan diselamatkan.

Ayah berjalan di atas papan dan di permukaan laut telah menunggu para hiu dan kawanan piranha yang seolah siap mencaploknya. Ugh, bukankah piranha hidup di air tawar?? Dasar Ayah!

Ajaib, ia merasakan tangga tali jatuh dan menyentuh pundaknya. Tangga tali yang jatuh dari langit. Kamu tahu siapa yang menyelamatkan Ayah dengan tangga tali tersebut? Stegosaurus! Untitled 4

Stegosaurus yang kebetulan sedang melakukan perjalanan ke masa depan dengan balon udara dan mesin waktu inovasinya. Dongeng macam apa ini? Stegosaurus dari zaman purba berhasil berinovasi, membuat balon udara dan mesin waktu! Oh kawan, tak hanya itu, Ayah melanjutkan ceritanya dan berkata bahwa bersama dengan Prof. Steg (umm.. panggilan sang Stegosaurus), mereka mencari batu emerald hijau untuk menyempurnakan mesin waktu buatan Prof. Steg yang rusak. Karena hanya bila mesin waktu itu sempurna lagi, Ayah bisa kembali ke masa kini; kembali ke rumah kami.

(pause)

Ya ya, seperti yang aku dan (mungkin) kalian tebak, masih akan ada makhluk-makhluk lain yang akan bermunculan di cerita Ayah selama ia mencari batu emerald dan dengan mesin waktu kembali ke masa kini; ke rumah dan menyerahkan susu yang sudah kami tunggu-tunggu untuk memakan sereal kami. Ugh, tapi aku rasa aku harus stop di sini. Mungkin lain kali akan kuceritakan kembali. Atau begini saja, bagaimana kalau kalian baca saja buku yang berjudul Fortunately, the Milk. Kebetulan Paman Neil dan Paman Skottie berbaikhati dan sabar mendengarkan cerita ayah lalu menuliskannya kembali ke dalam buku itu.

Sebentar, sebelum aku pergi, aku akan membocorkan sedikit lagi. Yang pasti, sepanjang petualangan luarbiasa yang Ayah ceritakan itu, botol susu yang Ayah beli pada akhirnya selamat sampai kepada kami. Kata Ayah bahkan botol susu itu yang menjadi keberuntungan tersendiri, yang akhirnya membawa Ayah kembali ke masa kini dan berhasil mengusir para alien kembali ke tempat asal mereka.

Terakhir, kawan, aku serahkan pada kalian untuk percaya cerita Ayahku ini atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, Ayahku itu pintar sekali mendongeng dan imajinasinya di atas rata-rata😛

4 thoughts on “#83 Fortunately, the Milk

  1. Pingback: [Monthly Recap] November | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s