#77 The Giver

The Giver | Lois Lowry | 131 pages, ebook version | first published: January 1st, 1993 | Houghton Mifflin Books for Children | Literary Awards: Newbery Medal (1994), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Children’s Literature (1994), Garden State Book Award for Teen Fiction Grades 6-8 (1996), Rebecca Caudill Young Reader’s Book Award (1996), Grand Canyon Reader Award for Teen Book (1995), Pacific Northwest Library Association Young Reader’s Choice Award for Senior (1996), Horn Book Fanfare (1994), New Mexico Land of Enchantment Award (1997) |

4-star-rating

Jadi begini, yang dituangkan Lois Lowry ke dalam buku ini adalah masa depan distopia lewat point of view seorang anak berumur dua belas tahun bernama Jonas. Negeri tempat Jonas tinggal disebut Komunitas, ya, memang karena jumlah umat manusia saat itu sedikit. Jumlah umat manusia, terencana (lebih dari sekadar keluarga berencana lol). Komunitas adalah dunia rekaan yang sempurna dimana tidak ada rasa sakit, tidak ada kesedihan, tidak ada perang, tidak ada ironi di mana di kehidupan sekarang kita justru mengenal istilah ‘life is cruel’. There, in the community where Jonas live in, life is not cruel. But also, feeling-less; colorless; less happiness; controled; mono; and predictable.

Bayangkan saja, di Komunitas tidak ada keluarga, yang ada adalah family unit di mana anggotanya ditentukan oleh para Elders (yang membuat keputusan dan mengatur Komunitas). Tiap family unit beranggotakan ayah, ibu, putra dan putri tapi mereka sama sekali tidak berhubungan darah. Diksi yang diucapkan, diatur. Tiap berbuat kesalahan, kita mengucapkan apology. Semua anggota Komunitas memiliki label dan kehidupannya diawasi dan tercatat dengan rapi. Pekerjaan pun ditentukan, berdasarkan hasil pengamatan bertahun-tahun. Kemudian, di usia ke-12, para penduduk komunitas akan mulai dikenalkan dengan pekerjaan yang akan di lakukan seumur usia produktifnya, hingga nanti saat mereka tua mereka akan masuk ke dalam Rumah bagi Orang tua dan hingga saatnya tiba tiap-tiap mereka akan menjalakan ritual ‘pelepasan’.

Jonas berusia 12 tahun, dan pada Desember ini, ia akan mengetahui pekerjaan apa yang menantinya. Di hari perayaan terakhir tersebut, Jonas terpilih untuk meneruskan sebuah posisi yang sangat penting, yang tanggungjawab dan prosesnya sangat berat, yaitu: The Receiver of Memories. Yang menerima memori. Dan untuk pekerjaan tersebut ia menggantikan orangtua yang menjadi The Receiver sebelumnya yang kini ia panggil seterusnya sebagai The GIver. Karena orangtua tersebutlah yang kemudian mentransmisikan ingatan akan kehidupan sebelum kehidupan distopia yang Jonas tinggali terbentuk. Memori-memori yang berisi tentang kejayaan, kebahagiaan, juga kesedihan dan kesengsaraan.

Dengan menerima memori tersebut satu per satu, Jonas menjadi ragu untuk setuju dan tetap menjalani kehidupan ideal yang terjadi di Komunitas. Ia menjadi berpikir, bagaimana bisa manusia melupakan bagaimana rasanya melihat warna, merasakan siraman sinar matahari, merasakan harmoni deburan ombak di laut atau pelangi yang keindahannya menyejukkan? Bagaimana bisa manusia memilih melupakan semua kesenangan dan keindahan yang bisa dunia ciptakan hanya karena di saat yang bersamaan mereka tidak ingin merasakan kemungkinan akan kesakitan, kelaparan, perang, dan kesengsaraan yang menjadi wajah lain dari kehidupan yang seharusnya?

~

‘There’s much more. There’s all that goes beyond -all that is Elsewhere- and all that goes back, and back, and back. I received all of those, when i was selected. And here in this room, all alone, I re-experience them again and again. Its is how wisdom comes And how we shape our future.’

-The GIver.

Saya terkesima terhadap ide buku ini: people might freely choose to give up their humanity in order to create a more stable society. Dan Lois Lowry membangun dunia distopia ini dengan rapi. Misal, ia membuat Komunitas tersebut menggunakan kata-kata yang kurang ekspresif dan menghilangkan kata-kata powerful seperti Love yang diubah menjadi enjoy, starving dihilangkan karena hanya ada hungry dalam kosakata mereka. Lalu, Lois mengakali desire yang sudah built-in dalam tiap manusia dengan kenyataan bahwa tiap-tiap anggota komunitas yang merasakan sinyal kedewasaan akan diberikan pil yang mesti rutin seterusnya diminum setiap hari. Lalu, Lois membuat, however, ada sekelompok scientist yang dengan waktu yang panjang akhirnya berhasil merakayasa gen manusia hingga tidak mengenali warna. Tapi antitesisnya adalah keberadaan The Receiver of Memories, bahwa bagaimana pun idealnya sebuah dunia yang diciptakan nantinya mereka akan mengalami saat di mana mereka mesti mempertimbangkan perubahan. Dan untuk itulah memori-memori akan masa lalu dijadikan bahan tinjauan agar mereka bisa melangkah dengan ‘bijak’. Tapi kondisi yang seperti ini adalah pilihan mereka sendiri, dengan paradigma akan dunia ideal (yang sepertinya) sudah disamakan.

Lalu karakter Jonas adalah kunci, dan bukti bahwa manusia bisa saja memilih ‘kemanusiaan’nya daripada ideal yang hipokrit. Later, in this book, we’ll see how Jonas maturing and thinking thouroughly about his step and his plan to break the predictable world he’s living in. Sayangnya, buku ini adalah tetralogi. Jadii.. kisah perjuangan Jonas terputus hingga buku selanjutnya. Ggaahhh..

I love the idea, the story, the writing and even the name for our hero: Jonas. It seems perfect. Well, i give my final opinion about the Giver series later when i finish all the four books.

Please spare your time to read this Jonas story, it makes you think the worst possibility related to no existences of humanity in human kind. Definitely recommended. Happy Reading ^^

*review ini diikutsertakan Newbery Project (blog ka astrid) dan Reading Challenge Books In English (blog teh peni)

3 thoughts on “#77 The Giver

    • Kudu, ka! You’ll like it, well, everyone did like it. Ini kmrn aku jd baca buku ini stlh liat friday’s recommendation mb alv klo ga salah.

      Like

  1. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s