#74 Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku

Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku | Desi Puspitasari | 170 halaman | Juli 2013 | Penerbit Bunyan lini Bentang Pustaka

3-star-rating

Namanya Agus, seorang laki-laki tokoh utama kita yang suka menghabiskan waktu dengan balapan motor dan tak acuh terhadap kuliahnya. Agus punya sense of humor yang bagus yang akan membuatmu sedikit banyak senyam-senyum sepanjang membaca novel ini. Padahal ya, bisa dikatakan Agus ini berasal dari keluarga broken-home di mana hubungannya dingin dengan sang ayah dan sejak kakaknya Bayu meninggal, hubungan mereka semakin memburuk dan sang ayah jarang pulang. Bersyukur Agus memiliki Ibu yang rajin sholat dan berdoa, yang setia menunggu dan menaruh harap sekaligus tidak menuntut Agus.

Di suatu usaha penggagalan pencopetan, Agus kembali bertemu Airin. Gadis cantik nan sholehah dari masa lalunya. Gadis yang ia panggil Ai; cinta. Lepas pertemuan tak terduga tersebut, Agus mencari cara untuk kembali berkomunikasi dengan Airin. Tapi ada satu laki-laki yang selalu berusaha berada di samping Ai, namanya Dewa. Apa hal tersebut membuat Agus mundur? Nope. He heas all the confidence a man in love could have. But then, Agus berhadapan dengan kenyataan bahwa yang Ai kehendaki adalah seorang ‘imam’.

Agus, dengan karakternya, kita akan menyangka bahwa perubahannya nanti serta merta karena ingin mewujudkan sosok ‘imam’ dalam dirinya sesuai dengan yang dikehendaki Ai. Tapi, benarkah Agus menemukan Allah dalam tiap tahajudnya semata memenangkan hati Ai? Atau ..?

~

Kalau kata Mba ‘Dee’ Rahmadiyanti Rusdi di reviewnya di Goodreads, buku ini semacam Kiamat Sudah Dekat yang dulu filmnya dibintangi Andre Taulani dan Dedi Mizwar. Yah, mirip sih, keduanya mengambil tokoh utama seorang laki-laki yang jauh dari ibadah wajib padahal keduanya Muslim, istilah kata bad boy. Lalu ingin jadi ‘orang bener’ setelah bertemu seorang gadis cantik nan sholehah. Pun keduanya, kisahnya sama-sama bisa mengundang gelak tawa dan senyum karena diselipi humor-humor ringan.

Tapi keduanya tidak persis, sama sekali. Karena novel ini memberikan lebih. Menghadirkan perubahan tokoh utama yang sama sekali tidak instan dan, saya kasih bocoran sedikit ya, ada tragedi lain yang dialami Agus yang semakin mendorongnya berlari kembali kepada Allah dan menemukan hidayahnya di sebuah musholla melalui seorang bapak tua. Eh saya ngebocorin gini, maapkeun ya mbak Des ^^v

Kejadian mengecewakan biasanya baru akan membuat seseorang bertobat. Berubah ke arah yang lebih baik. Kembali mendekatkan diri pada penciptanya. Ya, tidak apa-apa. Lebih baik begitu daripada tidak sama sekali.

Cerita dalam novel ini dikisahkan dengan mengalir dan bahasanya sederhana. I can assure you the jokes in the novel would make you smile. Agus is funny, kind in heart and an eager person. Well, also a confident one. He met people and not underestimate them. Itulah mengapa nanti akan kita lihat bahwa hidayah sampai kepadanya lewat obrolannya dengan Bapak Tua di suatu dini hari di sebuah musholla kecil. Bapak Tua yang menghadiahinya sebuah ayat, QS Al Isra ayat 17, yang berisi perintah untuk tahajud.

Novel ini diceritakan dengan fast-pace, which i like but also dislike. No offense. Dan penamaan untuk tokoh utama kita ini; Agus, saya menyayangkan saja. Berharap namanya lebih kece, eh. Hehhe, ^^v mba Des.

Overall, its a light read. Wont occupy you a long time to finish but definitely has lightening content you’d wont regret. So, hope you enjoy the book like i did. Happy reading^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s