#69 Wonder

Wonder R. J. Palacio 315 pages first published February 14th 2012 by Knopf 5 out of 5 star

Wonder
R. J. Palacio
315 pages
first published February 14th 2012 by Knopf
5 out of 5 star

My name is August.

I won’t describe what i look like. Whatever you’re thinking, it’s probably worse.

~

August tidak akan menggambarkan dirinya, wajahnya, seperti apa. Tapi kalau kamu mau tahu atau sedikit mendapatkan gambaran penampakan August, mari kita dengar apa yang dikatakan Via, kakak perempuan August.

His eyes are about an inch below where they should be on his face, almost to halfway down his cheeks. They slant downward at an extreme angle, almost like diagonal slits that someone cut into his face, and the left one is noticeably lower than the right one. They bulge outward because his eye cavities are too shallow to accommodate them. The top eyelids are always halfway closed, like he’s on the verge of sleeping. The lower eyelids sag so much they almost look like a piece of invisible string is pulling them downward: you can see the red part on the inside, like they’re almost inside out. He doesn’t have eyebrows or eyelashes. His nose is disproportionately big for his face, and kind of fleshy. His head is pinched in on the sides where the ears should be, like someone used giant pliers and crushed the middle part of his face. He doesn’t have cheekbones. There are deep creases running down both sides of his nose to his mouth, which gives him a waxy appearance. Sometimes people assume he’s been burned in a fire: his features look like they’ve been melted, like the drippings on the side of a candle.

Several surgeries to correct his palate have left a few scars around his mouth, the most noticeable one being a jagged gash running from the middle of his upper lip to his nose. His upper teeth are small and splay out. He has a severe overbite and an extremely undersized jawbone. He has a very small chin. When he was very little, before a piece of his hip bone was surgically implanted into his lower jaw, he really had no chin at all. His tongue would just hang out of his mouth with nothing underneath to block it. Thankfully, it’s better now. He can eat, at least: when he was younger, he had a feeding tube. And he can talk. And he’s learned to keep his tongue inside his mouth, though that took him several years to master. He’s also learned to control the drool that used to run down his neck. These are considered miracles. When he was a baby, the doctors didn’t think he’d live

Sudah agak terbayang?😦

Novel ini membawa kamu ke sepenggal kehidupan milik August Pullman, Auggie, seorang bocah laki-laki yang menderita mandibulofacial dysostois . Yang kalau  kamu bertemu dengannya, mungkin kamu akan takut atau jijik. Setting waktu yang dipakai penulis adalah kehidupan Auggie di usianya yang ke-10, dimana saat itu kedua orangtuanya menawarkan Auggie untuk bersekolah di sekolah  umum. Sejauh ini ia dididik secara homescholling oleh Mom. Dengan pertimbangan yang tidak makan waktu lama, Auggie memutuskan untuk mengiyakan tawaran kedua orangtuanya: menjadi murid kelas 5 di Beecher Prep.

Bulan Agustus, sebelum tahun ajaran dimulai, Auggie di ajak mengunjungi Beecher Prep. Di saat ini lah, ia bertemu dengan Julian, Charlotte, dan Jack Will. Mereka yang menemani Auggie berkeliling mengenali bangunan sekolahnya. Tapi bulan berikutnya, saat tahun ajaran baru di mulai, yang akhirnya mau menemaninya hanyalah Jack. Charlotte memilih aman dengan tidak terlalu dekat tapi tidak mengabaikan Auggie. Sedangkan Julian, ia malah beralih menjadi seorang anak picik yang mengolok dan bersikap tak adil pada Auggie.

Bersekolah di sekolah umum adalah hal yang berat untuk dijalani Auggie. Menguras perasaan dan kadang membuatnya cengeng. Beruntung, ada sebayanya yang benar-benar mendekatinya dengan tulus. Seorang gadis bernama Summer yang selalu menjadi teman duduknya saat makan siang. Sebenarnya Jack juga baik terhadap Auggie, meski perlu friksi terlebih dahulu diantara mereka untuk kemudian pertemanan mereka menjadi lebih erat.

Lewat novel ini, kita akan masuk ke dalam diri Auggie yang dengan kekurangannya, ia berjuang menjalani kehidupan yang (bahkan bagi orang biasa) terasa cruel. Ya, kita akan melihat Auggie bertumbuh. Dan di saat yang bersamaan, ia juga membuat orang di sekitarnya bertumbuh.

~

“You really are a wonder, Auggie. You are a wonder.” -Mom

Dua kali saya baca novel ini, pertama versi terjemahan terbitan Atria lalu re-read versi bahasa inggrisnya terbitan Knopf. Dua kali membaca novel ini, dua kali saya dibikin mrebes mili. Salah satu kekuatan novel sick-lit itu begitu ya, membuat mata pembacanya terbuka dan menganjurkan simpati pada banyak realita kehidupan tak akan selalu menyenangkan. Setelah baca versi terjemahannya, saya coba googling gambar terkait mandibulofacial dysostosis. Reaksi saya? Ngga kuat ngeliatnya, kaget, dan ngeri. Pantas saja Auggie meminta pembacanya untuk tidak membayangkan wajahnya. Reaksi itu seperti tak bisa ditahan. Bahkan kadang Olivia (Via), kakak perempuannya, ingin menyembunyikan keberadaan Auggie. Kadang ia didera malu, karena memiliki adik seperti itu. Ah, tak usah jauh-jauh  membayangkan rasanya jadi Auggie, karena pasti rasanya akan sulit… sulit sekali.

Multi Point of View

Cara R.J Palacio menyajikan kisah Auggie, adalah dengan menyisipkan banyak POV yang beririsan. Antara lain, POV Via, Summer, Jack Will, Justin, dan Miranda. Setiap mereka, memiliki pikiran yang berbeda terhadap Auggie. Dan cerdasnya, penulis tidak memasukkan POV Mom atau Dad. Meski pasti akan begitu mengharukan melihat kehidupan Auggie dari POV mereka, menurut saya POV dari Mom dan Dad bisa berpotensi menjadi kelemahan novel. In my opinion.

“There are always going to be jerks in the world, Auggie,” she said, looking at me. “But I really believe, and Daddy really believes, that there are more good people on this earth than bad people, and the good people watch out for each other and take care of each other. Just like Jack was there for you. And Amos. And those other kids.” -Mom

Via, kakak perempuan Auggie, menerima Auggie saat bayi tanpa perasaan macam-macam. Via kecil menganggap Auggie sebagai ganti bonekanya, Tapi saat ia lebih dewasa sedikit, saat ia tahu bahwa betapa judgmental-nya orang-orang, muncul perasaan di mana ia ingin jauh dari Auggie. Apalagi saat ia melewati masa pubernya, Auggie adalah salah satu ‘cobaan’ untuk kedewasaannya.

Summer, teman perempuan Auggie. Summer termasuk anak yang matang di awal usia dan natural kind. Tak dipungkiri bahwa ia harus beradaptasi dengan wajah Auggie di awal interaksi mereka, tapi Summer menerima Auggie adanya.

Jack Will, teman laki-laki Auggie. Ada bagian kecil dari hatinya yang tidak ingin menghiraukan Auggie, tapi jauh lebih banyak bagian dari dirinya yang menyadari bahwa Auggie adalah anak yang menyenangkan. Dan bahwa ia lebih ingin menjadi anak baik yang bisa menerima keadaan Auggie daripada menjadi pihak yang mencibir dan mengolok ketidaksempurnaan Auggie.

‘the universe was not kind to auggie pullman. what did that little kid ever do to deserve his sentence? what did the parents do? or olivia? she once mentioned that some doctor told her parents that the odds of someone getting the same combination of syndromes that came together to make auggie’s face were like one in four million. so doesn’t that make the universe a giant lottery, then? you purchase a ticket when you’re born. and it’s all just random whether you get a good ticket or a bad ticket. it’s all just luck.

no, no, it’s not all random, if it really was all random, the universe would abandon us completely. and the universe doesn’t. it takes care of its most fragile creations in ways we can’t see. like with parents who adore you blindly. and a big sister who feels guilty for being human over you. and a little gravelly-voiced kid whose friends have left him over you. and even a pink-haired girl who carries your picture in her wallet. maybe it is a lottery, but the universe makes it all even out in the end. the universe takes care of all its birds.’ -Justin thoughts

Justin, pacar Via. Sama seperti Summer, ia perlu beradaptasi dengan Auggie. Tapi Justin memang remaja laki-laki yang baik, yang masih melihat bahwa Auggie beruntung dikelilingi oleh orang tua dan keluarga  yang harmonis dan menyayanginya dengan tulus. Ia percaya bahwa alam semesta pasti punya i’tikad baik dibalik kenyataan bahwa Auggie adalah satu dari sekian juta manusia yang mendapat kelainan gen itu.

Miranda, sahabat Via. Seperti Justin, Miranda suka dengan keluarga Pullman. Dan kadang, lebih dari VIa, Miranda sangat menyayangi Auggie dan menerima Auggir tanpa syarat.

Favorite character(s)

Summer dan Miranda. Mereka adalah perempuan-perempuan keren. Apalagi Miranda, ia tidak memiliki pertalian darah dengan Auggie tapi bisa begitu perhatian dan menyayangi Auggie.

Strength points

Tema mandibulofacial dysostosis yang digarap dengan apik lewat setahun pengalaman Auggie di Beecher Prep. Penulisan yang rapi. Multi POV yang nyaris sempurna tapi begitu manusiawi dan karakter-karakter yang hitam putih tapi dari dua kubu karakter itu masing-masing kita bisa banyak belajar. Konten yang kaya dengan life lesson,

Last comment.

‘Shall we make a new rule of life … always to try to be a little kinder than is necessary?’ -Mr Tushman

Di bagian akhir novel, lewat pidato Mr Tushman, kita diajak untuk menjadi manusia yang melakukan kebaikan lebih dari yang diperlukan, Ajakan yang ngena banget. Dan banyak bagian dari cerita Auggie yang ngena  banget. Saya pernah posting sidestory perasaan saya saat membaca novel ini saat pertama, di tautan ini. Novel ini tear-jerker dan bikin banyak merenung. Recommended untuk kalian. Semoga kalian merasakan betapa ngena-nya novel ini, seperti yang saya rasakan. Semoga review ini bermanfaat.

Happy reading ^^

17 thoughts on “#69 Wonder

  1. Aku baru selesai baca novel ini. Tokoh favoritku tentu saja August…dia benar-benar luar biasa!
    Dari teknis POV, aku suka sekali POV bagian Via. Aku suka penggambaran Via di awal tentang kehidupannya bersama August dan keluarga.

    Like

  2. ini buku kayaknya sedih banget yaa…ada di timbunan tapi belom dibaca….heran juga nggak masuk ke list newbery, padahal baca reviewnya kebanyakan bagus…

    Like

    • karena buku ini masuk kategori YA juga?
      itu POV Via, Justin dan Miranda.
      ada adegan ciuman juga, Via & Justin, ngaruh ngga ya?

      Like

  3. Pingback: [Monthly Recap] July | Faraziyya's Bookshelf

  4. Pingback: Bookish Top Ten: Tear-jerker Books | Faraziyya's Bookshelf

  5. Pingback: Book Kaleidoscope – Day 2: Top Five Most Memorable Quotes | Faraziyya's Bookshelf

  6. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s