#67 Bangkok: The Journal

Bangkok – Moemoe Rizal
436 halaman
Cetakan Pertama, 2013
Gagasmedia
3 out of 5 star

BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

10 tahun berlalu sejak Edvan memutuskan hubungan dengan ibu dan adik laki-lakinya, Edvin. Sebab sebuah perseteruan yang tidak berujung pada kesepakatan, Edvan memilih untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses dan hidup sendiri. Tapi hari itu, 10 tahun sejak berpisahnya ia dengan sang Ibu, ada yang berusaha menghubunginya: Edvin. Sayangnya, ia menyampaikan kabar kematian Artika, sang Ibu.

Meski telah begitu berjarak dengan Ibu dan adiknya, rindu masih ada di dalam diri Edvan. Ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menemui Edvin yang ingin berbicara padanya. Ternyata, tak hanya kabar meninggalnya sang Ibu yang mengejutkan, kabar lain membuat ia tak percaya: Edvin, adik laki-lakinya, berubah menjadi Edvina.

Tak bisa berlama-lama menyangkal kenyataan tentang adiknya, Edvina menyerahkan pesan dan clue pertama tentang ‘warisan’ sang Ibu untuk Edvan. Demi menemukan warisan tersebut, Edvan harus menyusuri Bangkok untuk menemukan 7 jurnal petunjuk warisan sang Ibu. Bersama Charm (gadis bangkok nan charming yang menjadi guidenya), Max (adik Charm), dan Edvina, pencarian ‘warisan’ sang Ibu dilakukan. Pencarian ‘warisan’ yang nantinya akan membawa pembaca pada jati diri Thailand, orang-orang dan kebudayaan Thailand, juga kisah cinta yang tak mulus-mulus amat yang mewarnai hari Edvan selama di Bangkok.

~

Side A

Saya suka dengan novel ini. Rasanya saya jarang menikmati novel Indonesia yang dibuat oleh penulis laki-laki, tapi saya suka dengan cara penulis membawa karakter cowok metroseks meski dengan banyak kata f**k dan umpatan/obrolan yang khas laki. Novel ini ringan dibaca, membuat saya senyam senyum sepanjang membaca perjalanan Edvan dan berhasil membuat visualisasi saya tentang Bangkok terasa dekat. Yah, seolah saya sedang mengekor Edvan kesana kemari keliling Bangkok mencari jurnal-jurnal sang Ibu.

Nampaknya ada hidden joke atau apa ya istilahnya itu, penulis menghadirkan karakter bernama phii Shone dan phii Top. Ya ampun, itu kan nama karakter dari film Thailand Crazy Little Thing Called Love (._.); Atau emang nama-nama itu ngga disengaja??

Kakak – Adik, Charm dan Max -khususnya Charm, adalah karakter yang adorable. Saya suka pemilihan nama ‘Charm’. Max, juga pribadi yang menyenangkan. A fun little brother. Dan dialog-dialog Inggris yang ngga sempurna dari beberapa karakter orang Thailand itu sendiri juga termasuk faktor yang bikin senyam-senyum sepanjang baca.

Side B

Saya ngga suka dengan topik ladyboy. Yah meski emang susah dilepasin sih kalo kita udah ngambil Bangkok sebagai latar tempat. Cuma saya ngga bisa menoleransi fenomena ‘menentang alam & Tuhan’ itu. Bener-bener ngga mampu.

Kisah sang ibu di Bangkok di tahun 1980 adalah kisah yang keren. How lucky she is, bertemu orang-orang Thailand yang berkarakter & memiliki kisah hidup yang begitu memberi pelajaran. Tapi, saya ngerasa ada yang ngga lengkap. Ada yang bikin ngga sreg. Salah satu elemen yang kurang itu sosok Ferry, sang ayah. Bukan pas kisah di tahun 1980 sih. Tapi affection antara sang Ayah dan Edvan, yang mestinya lebih sedikit ditonjolkan biar perseteruan antara sang Ibu dengan Edvan paska kematian sang ayah lebih relevan. Soalnya, beneran deh, konflik yang menyebabkan Edvan memutuskan hubungan dengan ibunya sendiri itu terasa maksa.

Lalu plot dimana  ada karakter yang, kenapa oh kenapa, mesti jadi orang yang sakit? Entah apa hati saya lagi bebal pas membaca novel ini tapi saya kurang bisa bersimpati sama sakitnya karakter itu. Sori.

Last opinion

Dari banyaknya novel serial STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang sudah terbit, saya baru baca PARIS dan BANGKOK ini. Jadi, bila saya bandingkan dengan PARIS, novel ini jauh lebih asik dan readable. Novel ini recommended buat siapa pun dari kalian yang ingin ikut menyelam bersama Edvan dalam menikmati Bangkok yang eksotik.

Happy Reading ^^

5 thoughts on “#67 Bangkok: The Journal

  1. Pingback: [Monthly Recap] July | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s