#66 Stardust

Book

Stardust by Neil Gaiman
ebook version, 160 pages
published June 13th 2009
HarperCollins Publishers
Literarty awards:
Locus Award Nominee for Best Fantasy Novel (1999)
Geffen Award (2000)
Mythopoeic Fantasy for Adult Literature (1999)
ALA Alex Award (2000)
4 out of 5 stars

Young Tristran Thorn will do anything to win the cold heart of beautiful Victoria—even fetch her the star they watch fall from the night sky. But to do so, he must enter the unexplored lands on the other side of the ancient wall that gives their tiny village its name. Beyond that old stone wall, Tristran learns, lies Faerie—where nothing, not even a fallen star, is what he imagined. From #1 New York Times bestselling author Neil Gaiman comes a remarkable quest into the dark and miraculous—in pursuit of love and the utterly impossible.

~ Kata sebagian besar pembaca yang telah mereview buku ini di Goodreads, novel ini termasuk dongeng orang dewasa. Dongeng yang karakter utamanya adalah Tristran Thorn. Menceritakan ia yang menembus pembatas desa Wall, menuju Faerie tempat yang tidak familiar bagi manusia pada saat itu, untuk mengambil bintang jatuh yang ia janjikan kepada Victoria. Gadis cantik kembang desa yang dipujanya. Yang tidak disangkanya adalah kenyataan bahwa bintang yang jatuh itu, bintang senja, berwujud wanita. Ya setidaknya bintang tersebut berwujud wanita di fairy land.

Bintang ini, Yvaine, jatuh ke bumi karena bertabrakan dengan topaz (semacam symbolic crown untuk raja) yang sengaja dilemparkan raja Stormhold ke-81 demi prosesi pemilihan raja berikutnya. Yang ‘mendapati’ jatuhnya bintang ini ternyata bukan hanya Tristran. Dua pihak lain yang juga mengejar Yvaine adalah, 3 putra raja Stormhold yang hendak merampas kembali topaz dari tangan Yvaine untuk mengukuhkan posisi raja dan tiga penyihir ‘lanjut usia’ yang mengharapkan jantung Yvaine demi mengembalikan mereka ke wujud awet muda.

Tristan yang pertama menemukan Yvaine, berkat bantuan candlelight yang di film adaptasinya disebut sebagai Babylon candle. Tapi membawa Yvaine untuk Victoria, yang artinya kembali ke desa Wall, tak semudah menemukan Yvaine. Perjalanan Tristan dan Yvaine kembali ke desa Wall inilah yang menjadi adventure dalam novel ini. Selain ahli waris Stormhold, dan penyihir The Lilims, masih banyak karakter fairy tale lain yang dikenalkan Neil Gaiman di novel ini.

**

In short, its a love story. A fairy tale love story. An adventure of a half-blood stormhold prince and a fallen evening-star in fairy land . And a little fact that stars here are the daughters of the moon.

Belakangan, saya sedang merasai personal hype terhadap Neil Gaiman. Sebelum menyentuh novel ini, saya menamatkan The Graveyard Book. Hasilnya, saya suka sekali The Graveyard Book. Selanjutnya, saya melihat list karya Neil Gaiman via Goodreads dan Stardust adalah novel grab-it-fast yang ebooknya mudah saya temukan secara gratis lewat internet. Hampir sama dengan The Graveyard Book, saya suka sekali dengan Stardust. Mungkin ini karena saya jarang baca fairy tale, eh tapi sepertinya lebih karena Neil Gaiman ini memang mahir sekali mendongeng. Benar-benar mahir.

Di bagian akhir, saat akhirnya Tristran sadar siapa cinta sejatinya, (aneh tapi) saya teringat potongan dongen di novel Supernova buku pertama dari Dee yang berjudul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Hm, apakah ada dongeng original tentang bintang jatuh? Ataukah dongen buatan Gaiman ini mengilhami Dee? Saya tidak menelusuri jawabannya sih. Hehhe.

Book vs Movie

Saat tahu bahwa di tahun 2007 telah hadir film adaptasi dari novel Gaiman ini, saya mencarinya dan mengunduhnya. Bahkan sambil membaca novel ini, saya curi-curi menonton filmnya saking saya ingin novel ini tervisualkan di benak saya. Lalu hasil dari membandingkannya? Saya lebih suka bukunya daripada film adaptasinya. Ada beberapa alasan, antara lain: Pertama, saya kurang suka dengan cast Yvaine. Raut wajahnya Claire Danes ini termasuk yang tough dan matang gitu. Saya ngga suka Yvaine ga beralis, karena jadi sedikit menakutkan. Di imajinasi saya Yvaine lebih anggun, sedikit fragile dan glowing di sepanjang cerita (sementara di film-nya, Yvaine glowing hanya saat ia bahagia).

Kedua, pada akhirnya film adaptasi selalu dipoles demi menjadi bentuk dramatisasi sang buku. Seperti bahwa di film, yang lumrah adalah villain akan selamanya menjadi villain. Padahal di akhir buku ini, ada satu villain yang ‘taubat’. Ketiga, mulanya, baik di buku maupun di film, singkat cerita keduanya menceritakan seorang pemuda yang rela melakukan apa saja demi cintanya. Bedanya, subjek cinta sang pemuda tokoh utama (Tristran). Kenapa sosok Victoria di filmnya dibuat tidak worth pengorbanan Tristran dan seolah Tristran itu awalnya benar-benar buta karena cinta?? Di buku, sosok Victoria lebih ‘tidak drama’ dan saya lebih suka sosok Victoria yang ‘bukan selfish blonde-girl‘ buatan orisinil Neil Gaiman. Terakhir, saya menyayangkan banyaknya karakter yang dihapus. Semisal, kondisi bahwa Dunstan menikahi Daisy Hempstock dan Tristran memiliki adik bernama Louisa. Di film, Tristan dibuat hanya hidup berdua dengan sang ayah. Yah, tapi mungkin karena film adaptasi dibuat sedemikian hingga porsi fairy land-nya lebih banyak. Etapi kenapa juga karakter the hairy man, yang ditemui Tristran di awal ia masuk Faerie dan yang memberikannya Babylon candle, dihilangkan?

Itu deh, sedikit perbandingan Book vs Movie versi saya. 4 out of 5 stars for the book and 7 out of 10 mark for the movie adaptation. Overall, its a recommended novel when you think you need fairy-tale as variation theme of your reading. Hope you’ll enjoy the book (and the movie adaptation) as much as i am. Happy reading ^^

13 thoughts on “#66 Stardust

    • neil gaiman ini emang unik,
      tapi mahir banget ndongengnya, yah itu sepanjang aku baca 2 novel dia. dan so far suka banget.
      kalo karyanya yg adult, mungkin lebih absurd.

      Like

      • hmm.. arrangementnya enaknya gini, karya Gaiman yang pertama dibaca The Graveyard Book. Bakalan suka deh. Lebih ringan, ya karena child-lit sih. udah diterjamahin GPU juga kok🙂
        terus, setelah itu, mungkin kena efek nagih-nya juga. mungkin sih X)

        Like

  1. Wah,, jdi tertarik untuk nyari buku ini. Saya suka dengan fiksi fantasi, tapi rada males kalo kebanyakan cinta2annya. Smga yang ini yummy untuk dibaca.

    Suka sekali dengan blog ini, memberi banyak referensi buku n pengarang yang oke. Keep reading n writing mbak fauziyyah arimi. :’)

    Like

    • yummy, lebih kaya unsur fairy-nya sbnrnya mski dy ini love story.

      makasih udh berkunjung, mb diara kusuma🙂
      aku bs dipanggil ziyy aja😉

      Like

  2. Pingback: [Monthly Recap] July | Faraziyya's Bookshelf

    • entahlah, mungkin karena kadang imajinasi yang kita ciptakan sendiri saat memvisualisasi cerita itu bisa jauh lebih hidup dari yang bisa diadaptasi kamera.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s