#65 Me Before You

Sebelum Mengenalmu
Jojo Moyes
656 halaman
Mei 2013
Gramedia Pustaka Utama
5 out of 5 stars

Hmm.. Bagaimana memulainya? ..

Kalau kamu, mirip dengan saya yang emosinya suka terlibat dalam cerita dari buku yang sedang dibaca maka sebaiknya kamu jangan membaca buku ini (mulai dari bagian tengah hingga akhir) di tempat umum. Karena kemungkinan kamu akan malu jika orang-orang mendapatimu menangis saat membaca novel ini.

~

Will Traynor, seorang lajang yang sukses dan memiliki kehidupan yang fulfilling, harus menerima kenyataan bahwa ia mengalami cedera tulang belakang karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Kursi roda mendefinisikannya, cidera tulang belakang yang ia alami merupakan quadriplegia C5/6. Tidak bisa menggunakan kedua kaki dan sedikit sekali bisa menggunakan lengan dan tangan. Bukan kelumpuhan total, rawan terkena penyakit dan tidak memiliki harapan untuk sembuh.

Dua tahun kemudian, di tempat yang tak jauh dari kediaman keluarga Traynor, Lou baru saja diberhentikan dari pekerjaannya. Ia yang hanya mengenal The Buttered Bun sebagai tempat kerjanya, karena alasan diberhentikan, ia perlu mencari pekerjaan lain. Keluarganya sedang dalam kondisi tidak bagus secara finansial, dan saat-saat itu, Lou -kurang lebih- menjadi tulang punggung keluarga. Bursa kerja mengantarkannya pada pekerjaan-pekerjaan remeh yang tak bisa dinikmati Lou, tidak seperti saat ia  bekerja di  The Buttered Bun. Sampai ia menerima tawaran menjadi asisten perawat untuk keluarga Traynor. Ya, Lou akan menjadi asisten perawat untuk Will.

Pada awal-awal interaksi mereka, bagi Lou, Will terlampau sinis dan terlihat pesimis terhadap dirinya sendiri. Lou tak ambil pusing melainkan menjalankan kewajibannya seadanya. Sampai suatu hari ia tak sengaja mendengar percakapan Camillia Traynor (ibu Will) dengan Georgina (adik Will). Sebuah kenyataan yang tak sengaja Lou dengar itu yang menjadi pengantar main-story yang akan terjadi di antara Louisa dan Will. Cerita yang  merangkum cinta, harapan, keyakinan, dan life-changing.

~

The writing

Baik novel dalam bahasa inggris maupun terjemahannya ini, Me Before You memang tersaji sebagai ‘buku bantal’. Padahal ‘hanya’ cerita Lou dan Will, apa saja ‘isi’ novel dengan tebal 656 halaman ini? Well, ceritanya memang tentang Lou dan Will dan kisah orang-orang di sekitar kehidupan mereka, dengan sudut pandang Lou. Namun, Jojo Moyes menambahkan 4 sisipan chapter yang berisi POV dari Camillia Traynor (ch.8), Nathan (ch.19), Steven Traynor (ayah Will -ch.21), dan Katrina (adik Lou -ch.25) . Those were good variation and nice improvisation. Karena pembaca seperti dibiarkan mengintip sedikit tentang apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang-orang terdekat Will, dalam mendampingi Will dengan kondisi yang seperti itu.

Saya sendiri tidak keberatan dengan ketebalan buku atau bahwa Jojo Moyes terlalu banyak ‘bercerita’ di novel ini. Karena meskipun tebal, novel ini enjoyable dan the thickness seems relevant in supporting the story. Selain itu, memang Jojo Moyes menuliskan novel ini dengan baik dan indah. Saat saya membaca novel ini, saya juga sambil mengintip baca ebook yang menggunakan bahasa inggris. Lalu terjemahannya? Bagus. Enak untuk dibaca bahkan emosi yang coba disampaikan Jojo Moyes berhasil disampaikan dengan baik oleh mba Tanti Lesmana.

The characters

Dua karakter utama yang akan saya sedikit ulas di bagian ini.

Has it ever occurred to you, Will, that believe it or not, this might not be just about you?

Will Traynor. Seorang yang awal kehidupannya, sebelum menderita cedera tulang belakang, memiliki cerita hidup yang fulfilling. Dalam waktu singkat, kehidupannya berubah. Lepas usia 33 tahun, kehidupan Will terdefinisi oleh kursi roda dan penyakit quadriplegia yang takkan menemui kesembuhan. Bagaimana rasanya, Will? 😥

Tapi ia tidak semenyedihkan yang kita kira. Karena justru, bagi saya, Will adalah jenis kekasih terbaik dimana ia adalah tipe yang selalu memberi (dengan kondisi keterbatasan yang ia alami dan pemberian-pemberian yang rupanya kadang implisit sekali bagi Lou) dan tak menuntut dalam menerima. Ya, itu yang saya rasakan (secara emosional), terhadap karakter Will. Saking emosionalnya perasaan saya untuk Will, kedua kalinya saya membaca novel ini saya masih saja menangis dan sulit move-on dari karakter fiksi satu ini. Bahkan sampai butuh waktu yang lama untuk membuat review ini (-.-)a

Some mistakes… Just have greater consequences than others. But you don’t have to let the result of one mistake be the thing that defines you. You, Clark, have the choice not to let that happen.

Lalu, Louisa Clark. Tanpa bermaksud apa-apa, saya merasa Lou ini sedikit banyak mencerminkan diri saya. Maaf. Lou yang ‘terperangkap’ di ‘dunia yang kecil’ tapi tak menyadarinya. Lou yang membosankan tapi merasa tak keberatan akan hal itu. Lou yang seharusnya ‘lebih hidup’ tapi malah tak berbuat banyak. And there comes Will.. who fixed her. Tapi Lou adalah pribadi yang ‘berwarna’, setidaknya selama 6 bulan bersama Will. Dan di akhir cerita she live bigger life.

Up till this line, can you see ‘the beautiful’ of this novel, yet?

The pointed issue brought by the author

Kalau kita dilontarkan ke dalam kehidupan yang sama sekali baru -atau setidaknya didorong kuat-kuat ke dalam kehidupan orang lain, sehingga ibaratnya wajah kita menempel di jendela mereka- kita jadi terpaksa berpikir ulang tentang siapa diri kita sebenarnya. Atau seperti apa kita kelihatannya di mata orang-orang lain. (bab 5)

Dignitas dan betapa berbedanya setiap manusia memandang kehidupan; betapa berbedanya setiap manusia ‘membuat penuh’ kehidupan yang ia miliki. Sayangnya, hanya sampai di situ saya bisa membaginya di sini, karena poin ini krusial dan bisa menguak keseluruhan cerita. Jadi baiknya, baca novel ini -sesegera mungkin-. Recommended! I assure you this novel wont dissapoint you. But at first, i have warned you, this novel definitely a tear-jearker.

Favorite scene(s)

Tidak biasanya saya mendapati ada bagian/kejadian yang tertulis di buku yang begitu membekas bagi saya. Tapi dari novel ini, selain saya begitu menyukainya (dan menyukai karakter Will, tentu saja), ada satu scene romantis yang saya favoritkan. Pernah juga saya bahas di sini, untuk meme Scene on Three besutan kak bzee.

Kupejamkan mataku dan kukalungkan kedua lenganku di lehernya, kusandarkan pipiku di pipinya, dan kuhirup keharumah sitrus aftershave-nya. Bisa kurasakan dia bersenandung mengikuti irama musik. (bab 18)

Scene itu adalah saat Lou berdansa dengan Will. Dengan cara Lou duduk di pangkuan Will yang ber-kursiroda, dan mereka berputar mengikuti musik dansa di malam pernikahan mantan kekasih Will. Kenapa saya menyukai scene itu? Baca aja ya di postingan yang saya taut di paragraf sebelum ini😛

Personal opinion

Saya memberikan lima dari lima bintang maksimal di rating Goodreads karena, tentu saja, saya sangat menyukai buku ini. Karakternya -terutama Will-, ceritanya yang bittersweet, penulisannya, pesan penulis dari isu yang debate-able tapi berusaha dikuak penulis untuk tujuan mulia dan saya akui bahwa penilaian sempurna ini begitu tidak berjarak. Tapi ya itu efek yang diberikan buku ini pada saya.

Di luar penilaian saya dan di luar review saya yang masih terlampau objektif, novel ini telah mendapat apresiasi oleh pembaca internasional dan mengambil hati banyak pembaca yang secara tidak langsung berada di kondisi yang sama dengan karakter-karakter dalam novel ini (seperti carer dan keluarga penderita cidera quadriplegia). Jadi memang novel ini cukup well-known and well-appreaciated, sehingga bisa menjadi pilihan yang cukup clear untuk bisa dinikmati tanpa perlu banyak pertimbangan.

Additional content

About the Writer

 Jojo Moyes was born in 1969 and grew up in London. After a varied career including stints as a minicab controller, typer of braille statements for blind people for NatWest, and brochure writer for Club 18-30 she did a degree at Royal Holloway and Bedford New College, London University. In 1992 She won a bursary financed by The

Independent newspaper to attend the postgraduate newspaper journalism course at City University, and apart from 1994 when she worked in Hong Kong for the Sunday Morning Post, she worked at The Independent for ten years, including stints as Assistant news editor and Arts and Media Correspondent.

She has been a full time novelist since 2002, when her first book, Sheltering Rain was published. She lives on a farm in Essex with her husband, journalist Charles Arthur, and their three children. (her profile, from here)

Her personal blog, http://jojomoyes.com/blog

And here’s a video; Jojo Moyes talked about this novel at Richard & Judy BookClub show.

15 thoughts on “#65 Me Before You

    • ga ada cara khusus kayaknya,
      kan yg diminta hanya buat resensi buku terbitan gpu.
      nanti mereka yang pilih.
      saranku, biar ada kemungkinan dipilih, konten review kamu yang mendukung untuk promosi buku-buku terbitan GPU.
      Terimakasih sudah berkunjung🙂

      Like

    • selain perlu siap mental, perlu waktu khusus juga kak *yaelah, mw baca aja banyak kondisinya*
      Enakan sih dibaca pas ngabisin wiken dirumah *my suggestion*😉

      Like

  1. Pingback: #71 Honeymoon in Paris (A Prequel Novella) | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: Bookish Top Ten: Tear-jerker Books | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Day 1: Top Five Book Boy Friends | Faraziyya's Bookshelf

  4. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | Book Kaleidoscope – Day 5: Top Five Most Favorite Books

  5. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | Liebster Blog Award

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s