Scene on Three |1

Di review-review yang saya buat, tidak pernah itu tercantum scene favorit dari buku yang saya review. Entah, mungkin belum kepikiran. Tapi anehnya, dua minggu yang lalu, saat saya selesai membaca Me Before You dari Jojo Moyes, kok ya saya yakin banget suka sama sebuah adegan dari novel tersebut. Meski review novel yang sudah selesai saya baca itu belum juga dikerjain dirilis #selftoyor. Hahha. Eh tapi ada ide ini, datang dari kak bzee, jadilah saya excited untuk ikutan. Kayaknya asik juga nanti untuk sengaja menemukan scene yang difavoritkan dari buku yang dibaca. Hihi.

So, di edisi pertama ini, saya akan mengambil sepotong cerita dari novel Me Before You – Jojo  Moyes. Here it is😉

Kemudian, ketika lantai dansa itu kosong sejenak untuk dansa berikutnya, tahu-tahu aku berkata, “Bagaimana menurutmu, Will? Mau berdansa denganku?”

“Apa?”

“Ayolah. Kita berikan bahan gosip untuk orang-orang payah ini.”

“Oh, bagus,” Mary menimpali seraya mengangkat gelasnya, “Bagus sekali.”

“Ayo. Mumpung musiknya slow. Sebab menurutku kau tidak bisa melompat-lompat di kursi itu.”

Aku tidak memberinya pilihan. Dengan hati-hati aku duduk di pangkuan Will, kurangkulkan kedua lenganku ke lehernya, untuk memantapkan dudukku. Sejenak dia memandang ke dalam kedua mataku, seperti sedang menebak-nebak bisakah dia menolak ajakanku. Kemudian, sungguh mengherankan… Will menggerakkan kursi rodanya ke lantai dansa dan mulai berputar perlahan-lahan di bawah kerlap-kerlip lampu disko.

Aku merasa amat sangat gugup dan agak histeris. Aku duduk menyamping, yang berarti gaunku terangkat cukup tinggi di pahaku.

“Biarkan,” Will menggumam ke telingaku.

“Ini…”

“Biarkan saja, Clark. Jangan mengecewakan aku sekarang.”

Kupejamkan mataku dan kukalungkan kedua lenganku di lehernya, kusandarkan pipiku di pipinya dan kuhirup keharuman sitrus aftershave-nya. Bisa kurasakan di bersenandung mengikuti irama musik.

“Apa mereka sudah terkaget-kaget?” tanyanya. Kubuka satu mataku dan memandang ke dalam cahaya remang-remang itu.

Beberapa orang tersenyum menyemangati, namun sebagian besar kelihatannya tidak tahu mesti bersikap bagaimana. Mary mengangkat gelasnya ke arahku. Kemudian kulihat Alicia tertegun menatap kami, sesaat wajahnya tampak kecewa. Ketika melihatku menatap, dia memalingkan muka dan menggumamkan sesuatu kepada Rupert. Rupert menggeleng, seolah-olah kami tengah melakukan hal yang memalukan.

So, isn’t that romantic? Am i a hopeless romantic to love that scene so much? Hahha. Ngga tau deh, yang pasti, di adegan itu akhirnya Will membuka dirinya. Yah, akhirnya ia ‘menerima’. (Ah ini harusnya masuk jadi bagian reviewnya nanti nih. Deuh, udah kayak teaser :-P). Dan saat membaca bagian adegan itu saya ikutan deg-degan. Hahha. #siapeloe (>~<)

So, thats it, my first post on meme Scene on Three. Would you like to join? Here are the rules:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

8 thoughts on “Scene on Three |1

  1. jadi makin gak sabaran mau baca di buku, sayang banyak PR *lirik timbunan buku2 lama*
    Mbak Ziy, saya perlu tissue ga pas baca buku ini? soal saya ini suka jadi “cry baby” kalau baca cerita sedih #lebay

    Like

    • perlu banget, kalo km tipe yg emosinya mengalir seiring buku yg dibaca. this book is a total tear-jerker.
      ga cuma aku dibikin novel ini jd mbrebes mili saat tengah malem baca buku ini, aku jg dibikin susah move-on dr karakter2nya X)

      Like

    • kadang suka gitu ya, ngga mood kadang berarti ngga siap untuk nangis,
      kayak pernah aku nunda baca buku apa gitu karena ngga siap sama impact-nya.
      tapi lupa waktu itu menghindari buku apa,
      hahha😄

      Like

  2. Pingback: #65 Me Before You | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: #65 Me Before You | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s