#57 The Boy in the Striped Pyjamas

Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis John Boyne Alih  Bahasa: Rosemary Kesauli 240 halaman Cetakan 1, Juli 2007 Gramedia Pustaka Utama My Rate: 3.5/5

Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis
John Boyne
Alih Bahasa: Rosemary Kesauli
240 halaman
Cetakan 1, Juli 2007
Gramedia Pustaka Utama
My Rate: 3.5/5

Tiba-tiba saja Bruno dan keluarganya harus pindah dari rumah lima tingkatnya di Berlin. Pindah ke sebuah daerah yang disebutnya Out-With (Auschwitz, Polland). Bruno tidak senang, rumah barunya sangat berbeda dari rumah mereka di Berlin dan dia tidak memiliki teman di lingkungan barunya ini. Out-With tidak ramai, tidak seperti Berlin, dan Bruno tidak bisa banyak bermain di sana. Suatu hari ia bertanya pada Letnan Kotler, bawahan ayah Bruno, apakah ada ban yang tidak terpakai karena ia ingin membuat ayunan dari ban. Letnan Kotler yang melihat Pavel, menyuruh pelayan berjas putih itu untuk menemani Bruno mencari ban dan membantu membawakannya. Kemudian dengan usaha sendiri, Bruno berhasil membuat ayunan yang diinginkannya.

Saat bermain ayunan di pohon, Bruno berayun terlalu tinggi lalu ia terjatuh karena tidak berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Pavel yang melihat Bruno terjatuh, membantu mengobati lukanya. Ia mengaku pada Bruno bahwa ia seorang dokter. Bruno yang masih tidak tahu bahwa Pavel adalah salah seorang Yahudi yang dipaksa diasingkan di Auschwitz kebingungan dan bertanya-tanya mengapa Pavel mengaku sebagai dokter padahal ia adalah seorang pelayan di rumah Bruno.

Pavel, adalah tawanan Yahudi pertama yang ditemui Bruno tanpa disadarinya. Berkat rasa penasarannya untuk menjelajah, Bruno menemui tawanan Yahudi lainnya. Ia tidak memakai jas putih seperti  Pavel, tapi ia mengenakan piama garis-garis. Dan ia adalah seorang bocah, yang kebetulan, seumur dan lahir di hari yang sama dengan lahirnya Bruno. Bocah berpiama garis-garis ini bernama Shmuel. Bruno senang sekali mendapat seorang teman setelah sekian lama merasa bosan di Out-With.

Setiap sore, Bruno pergi ke tempat ia menemui Shmuel. Tepatnya di sekitar pagar kawat besi di padang luas yang memisahkan rumah Bruno dengan daerah seberang yang dipenuhi orang-orang berpiama garis-garis. Di situ, Shmuel akan terduduk bungkuk, dan yang mereka lakukan adalah mengobrol. Dipisahkan dengan pagar kawat besi, mereka tidak mungkin bermain bersama. Shmuel sangat kurus, tidak terurus dan warna kulit wajahnya abu-abu. Dia jauh lebih kecil dari Bruno. Seringnya, Bruno membawa makanan untuk Shmuel saat mereka bertemu. Mereka berbicara banyak hal, hanya berbicara, mereka tak pernah berpegangan tangan atau bersentuhan apalagi bermain. Tapi Bruno merasa cukup dengan hal itu.

Kurang lebih setahun, pertemanan Bruno dan Shmuel terjalin. Bruno telah merasa kerasan di Out-With tapi situasi keluarganya tidak demikian. Ibu Bruno ingin mereka kembali ke Berlin, ia sudah tidak tahan dengan kondisi Out-With. Beberapa hari terakhir sebelum kembali ke Berlin, saat Bruno menemui  Shmuel, ia terlihat sedih. Ayahnya, dan sejumlah laki-laki berpiama garis-garis menghilang. Akhirnya Bruno berjanji untuk membantu Shmuel mencari ayahnya. Sayang, yang tidak diketahui Bruno adalah bahwa pada hari tersebut, ia tidak jadi berangkat ke Berlin bersama Ibunya dan Gretel.

~

Hpfh. Saya sudah nonton film adaptasi buku ini. Sudah cukup lama, dan saya tahu bahwa film tersebut  -dulu- berhasil membuat saya tercekat. Tapi saya tidak ingat betul detil ceritanya. Dengan membaca buku ini, semua adegan yang tidak yakin ingin saya ingat dari film tersebut, tiba-tiba menderas dalam ingatan saya. Seketika itu, mata saya berair dan tenggorokan saya sakit. Sesaat, saya tidak yakin akan menyelesaikan buku ini. Potongan-potongan film yang teringat tiba-tiba itu begitu mengganggu. Tapi akhirnya buku ini selesai juga. Karena ternyata buku ini tidak se-breathetaking film adaptasinya, but still, its satire.

Dibandingkan dengan film adaptasinya, yang saya lupa siapa yang memerankan Bruno atau pemeran lainnya, saya lebih menyukai filmnya. It feels so real. The pain feels so close and the ending really.. really.. heartbreaking. gasp

….

Apa saya akan merekomendasikan buku ini? Iya. Tapi tanpa saya rekomendasikan, buku ini sudah cukup terkenal. Dan filmnya, bahkan lebih terkenal. Jadi, terserah anda yang kebetulan membaca review saya ini, untuk membaca buku ini atau menonton filmnya. Dua-duanya patut menjadi sesuatu yang pernah kita ketahui. Fiksi sejarah, juga merupakan genre yang saya gandrungi, berefek menghadirkan kesadaran kita pada apa yang terjadi di masa silam. Baiknya, dengan fiksi sejarah, pembaca teringatkan pada hal-hal yang tidak boleh terulang. Dan salahsatu yang tidak boleh terulang adalah, yang diceritakan secara implisit melalui kisah Bruno: pemusahan massal manusia atas nama kekuasaan. Semoga dalam hidup seterusnya, kita tidak dihadapkan kembali pada hal setragis ini.

3 thoughts on “#57 The Boy in the Striped Pyjamas

  1. Pingback: [Monthly Recap] June | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s