#56 Comedy in A Minor Key

Sebenarnya tujuan divisi event BBI menetapkan tema sastra eropa adalah agar anggota BBI bisa menangkap karakter sastrawn Eropa dalam meramu karyanya. Tapi dengan sangat meminta maaf, saya harus melewatkannya. Karena tidak cukup dengan hanya membaca novella, saya bisa mengidentifikasi karakter sastrawan Eropa pada umumnya. Belum lagi buku yang saya pilih ini adalah sebuah historcal fiction, kental di sejarahnya daripada sastra.

Comedy in a Minor Key or Komodie in Moll by Hans Keilson 91 pages, ebook edition My Rate: 3/5 star

Comedy in a Minor Key or Komodie in Moll
by Hans Keilson
91 pages, ebook edition
My Rate: 3/5 star

Novella ini ditulis oleh Hans Keilson dalam bahasa Jerman. Di ebook yang saya pegang, novella ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Damion Searls. Pertama diterbitkan pada tahun 1947, tapi edisi ini baru diterbitkan pada tahun 2010. Diterbitkan ulang untuk merayakan 100 tahun Hans Keilson. Buku ini bercerita tentang sepasang suami istri di Holland, Wim & Marie, yang menyembunyikan seorang Yahudi bernama Nico. Keseharian Wim dan Marie jadi berubah dengan kedatangan Nico. Kurang lebih setahun, Nico tinggal bersama Wim dan Marie, sampai ia sakit. Demam dan batuk-batuk yang tak kunjung reda. Akhirnya Wim dan Marie memutuskan untuk memanggil Dr. Nelis, dokter yang dipercaya Marie yang mendiagnosa bahwa Nico menderita  pneumonia. Sayang, pneumonia yang diderita Nico sudah cukup parah dan lebih disayangkan lagi, Nico seperti tidak memiliki keinginan melawan penyakit tersebut. Setidaknya itu yang dikatakan Dr. Nelis, tidak ada semangat dalam diri Nico yang bisa membuat ia sembuh dari pneumonia yang dideritanya.

Lalu  Nico meninggal. Ya, meninggal. Meninggal seperti kebanyakan orang meninggal, karena sakit. Bukan meninggal seperti kebanyakan orang Yahudi meninggal pada saat itu, sebuah ironi. Lalu Wim dan Marie, juga Dr. Nelis, berdiskusi bagaimana mengatasi jasad Nico. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan membawa keluar jasad Nico seolah tewas di jalan dan disengaja untuk ditemukan oleh polisi. Yah, setidaknya polisi yang akan mengusut jasad Nico selanjutnya. Begitulah kesepakatan Wim, Marie dan Dr. Nelis.

~

Menyembunyikan seorang Yahudi, di dalam rumah mereka saat The Fury begitu antusias memusnahkan mereka, bukanlah gagasan yang datang dari Wim dan Marie sendiri. Itu adalah tawaran Jop, rekan kerja Wim. purely human act, Christian charity for the persecuted and patriotic duty, adalah istilah yang dipakai Jop untuk meyakinkan Wim agar mengambil salah satu dari ‘mereka’.

Its the only way we can fightback, the only way we can do anything at all to show that it isn’t all right. Civil disobidience.

Akhirnya begitu lah keyakinan Wim, dan Marie menyetetujui keputusan untuk menyembukan Nico di rumah mereka. Nico tinggal di kamar di lantai dua rumah Wim dan Marie. Menghabiskan lebih banyak waktu di  kamarnya, selain sesekali dipanggil ke meja makan untuk makan malam atau minum teh saat mereka sedang bertiga dan saat mereka yakin bahwa pada jam-jam tersebut tidak akan ada tamu yang masuk dan kemungkinan memergoki keberadaan Nico. Lalu bagaimana perasaan Nico selama menyembunyikan diri di rumah Wim dan Marie?

No one knew what battles raged inside him

Of the three of them, he was always the first to hear the airplanes

It was unbearable, It meant his annihilation, even if it -maybe- saved his life. The little thorn that grows invisibly in anyone who lives on the help and pity of others grew to gigantic proportions, became a javelin lodged deep in his flesh and hurting terribly.

Enough said. Not Wim, not Marie, and not even me could understand whats going on in his mind,  in his thought, in his heart. Ini lah yang ditinggalkan sang penulis, menebak sendiri apa yang sedang terjadi dengan arrangements Wim dan Marie sebagai helper dan Nico sebagai seseorang yang ditolong. Ada bagian dari novella yang berkata bahwa Nico merasa senang terselamatkan dan diurus oleh Wim dan Marie, tapi bagaimana dengan Yahudi-Yahudi lain? Mungkin itu yang membuat ia tidak begitu memiliki will  untuk melawan pneumonia yang dideritanya.

Perubahan apa yang dialami Wim dan Marie setelah Nico berada di tengah-tengah mereka? Bahkan setelah meninggal, Wim dan Marie tidak banyak tahu tentang  Yahudi, tentang Nico. Yang diketahui Wim dan Marie hanyalah apa yang diceritakan Nico, selebihnya disimpan dalam kebisuan Nico.

~

Saya menceritakan isi novella ini hingga bagian cerita bahwa Nico meninggal. Apakah itu spoiler? Entahlah, saya tidak yakin. Yang saya tangkap adalah kematian Nico, seorang Yahudi di zaman Nazi berkuasa, karena sakit adalah salah satu comedy in a minor key yang di tuliskan Hans Keilson. Dan novela ini tidak berakhir bersamaan dengan kematian Nico.

Saya suka dengan novel ini, mungkin karena saya menghabiskan The Boy in the Striped Pyjamas tepat sebelum memulai novella ini. Tapi selebihnya reaksi saya setelah membaca karya novel ini adalah blank. Empty.

~

About the Author (from Wikipedia)

Foto: Vincent Mentzel Click the photo for the original source link

Hans Alex Keilson (12 December 1909 – 31 May 2011) was a Jewish German/Dutch novelist, poet, psychoanalyst, and child psychologist. He was best known for his novels set during the Second World War, during which he was an active member of the Dutch resistance.

Keilson, having worked with traumatized orphans, mainly wrote about traumas induced by the war. His first novel was published in 1934, but most of his works were published after the war. In 2010, The New York Times ‘s Francine Prose described Keilson as “one of the world’s greatest writers”, notably honouring Keilson’s achievements in the year in which he turned 101 years old.

Much media attention, in both the United States and his native Netherlands, was given to the fact that Keilson received this acknowledgement at the age of 100. Keilson was invited to Dutch talkshow De Wereld Draait Door (“The World Keeps Spinning”), where he was interviewed by presenter Matthijs van Nieuwkerk. Many more articles and interviews would appear in the year following, world-wide. “Der Tod des Widersachers” (“The Death of the Adversary”) has been translated in 20 languages.

He died on May 31, 2011 in Hilversum, the Netherlands at the age of 101

Hans Keilson works;

  • Life Goes On [novel; Das Leben geht weiter], 2012
  • The Death of the Adversary [novel; translation of Der Tod des Widersachers: Roman]. 2010.
  • Comedy in a Minor Key [novel; translation of Komödie in Moll]. 2010.
  • Hans Keilson (100) Frankfurt am Main: Fischer. 2009.
  • Werke, Bd. 2 / Gedichte und Essays. 2005.
  • Werke, Bd. 1 / Romane und Erzaehlungen. 2005.
  • Sequentielle Traumatisierung bei Kindern: Untersuchung zum Schicksal jüdischer Kriegswaisen. Psychosozial-Verlag. 2005. (English translation: Sequential Traumatisation in Children. A clinical and statistical follow-up study on the fate of the Jewish war orphans in the Netherlands. The Magnes Press, The Hebrew University, Jerusalem. 1992. ISBN 965-223-806-6)
  • Probleme in der sexuellen Erziehung Essen: Neue Deutsche Schule Verlagsgesellschaft. 1966.

6 thoughts on “#56 Comedy in A Minor Key

  1. ahhh ironis ya…menyelamatkan diri untuk kemudian tetep mati. kayaknya salah satu gaya sastrawan eropa tuh emang seneng yang dark2 gitu ziyy (sotoy nih aku) hihihi…

    Like

  2. Pingback: [Monthly Recap] June | Faraziyya's Bookshelf

  3. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s