#55 Wonderful Radio

Lee Jae Ik 318 halaman Cetakan Pertama, September 2012 Bentang Pustaka My Rate: 3.5/5 star

Lee Jae Ik
318 halaman
Cetakan Pertama, September 2012
Bentang Pustaka
My Rate: 3.5/5 star

Jin Ah usia 20 tahun adalah seorang idol, bahkan leader sebuah girlband bernama ‘Purple’. Tapi itu 10 tahun yang lalu, kini masa tenarnya meredup dan ia berakhir menjadi seorang DJ sebuah acara radio berjudul ‘Wonderful Radio’. Seolah waktu ingin menambah redup kehidupannya, Wonderful Radio yang dibawakannya juga mendapat rating yang tidak memuakan sama sekali; rating yang tidak beranjak dari angka 2%.

Lalu muncul Jae Hyeok, PD Acara radio tengah malam yang kini menjadi PD Wonderful Radio. Jae Hyeok yang sedingin Ice Americano favoritnya, hadir di tengah-tengah tim Wonderful Radio dan menantang tim Wonderful Radio untuk membuat konsep sesi yang baru untuk me-refresh Wonderful Radio. Jin Ah yang tak suka dengan Jae Hyeok yang angkuh menerima tantangan Jae Hyeok untuk menghadirkan konsep baru untuk Wonderful Radio. Meski kesal, ternyata semesta berpihak padanya. Menjelang deadline, sebuah ide muncul: Lagu Untukmu.

Konsep sesi ‘Lagu Untukmu’ kurang lebih seperti ini, akan ada bintang tamu siaran langsung yang akan menyanyikan lagu yang bagi mereka memiliki kisah tersendiri. Disamping bernyanyi, tentu mereka akan menceritakan kisah dibalik lagu tersebut. Kisah yang bisa jadi mengharukan, lucu, bahagia, atau memalukan.

Dari sesi ‘Lagu Untukmu’ ini, nanti kita akan mendapatkan kisah tambahan tentang Da Hae belajar mencintai ayah tirinya, tentang seorang supir yang membacakan surat untuk istrinya yang telah meninggal dan meminta agar istrinya tidak cepat-cepat ‘mengambil’ anaknya yang menderita kanker karena ia masih ingin bersama hingga memiliki cucu, tentang lelaki muda bernama Gwang Tae yang dengan tidak tahu malu bernyanyi dengan nada dan suara yang parah demi seorang yang dicintainya. Sesi ini mendapat respon positif, bahkan ratingnya naik 3xlipat menembus 6%. Congratulations Jin Ah!

Tapi kadang, memang ada pihak yang tidak menyukai kejayaan yang dialami seseorang. Mi Ra, mantan anggota girlband ‘Purple’ yang menyimpan dendam kepada Jin Ah, menginginkan posisi DJ Wonderful Radio. Bersama In Seok, ia siap melakukan berbagai macam cara untuk menjatuhkan Jin Ah ke ‘neraka’ yang dulu pernah dialaminya setelah ‘Purple’ dibubarkan secara sepihak oleh Jin Ah.

Well, there are protagonist, antagonist, couples of teary story and happy ending. I told you.

**

Saya ingin membaca buku ini karena melihat movie adaptationnya terlebih dahulu, yang dibintangi Lee Min Jung. The Movie was really nice. Wrap as a romantic-comedy genre and has a nice story about learning-what-life-can-give-us-and-grow-with-it. Characters development yang dialami Jin Ah, juga Jae Hyeok, dituliskan dengan baik. The DJ-life and radio as setting was a good choice. I Love it.

Wonderful Radio The Movie

Wonderful Radio The Movie

Book vs movie

What i can tell you is that there’re lots of improvisation, lots of touch up for the movie adaptation. Pertama, Dae Geun, supir sekaligus fans Jin Ah paling setia diperankan oleh Lee Kwang Soo the idiot giraffe from Running Man padahal di buku Dae Geun lebih ke sesosok seorang Big Guy. Lalu, kekasih dan kisah masa lalu Jae Hyeok tidak diangkat di filmnya. In Seok, komplotan Mi Ra, bukanlah seorang manajer menyedihkan yang kecanduan judi  dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri tapi seorang manajer yang licik dan bisa berbuat apa saja demi hal yang dikira adalah ‘pride’nya. Dan beberapa improvisasi kecil lainnya yang tidak saya sebutkan satu per satu.

Overall, what i can say is that the book show what books can storytell the reader and the movie adaptation show what movie can entertain people in more dramatic ways. But both of them are good enough. I like both the book and the movie. 3.5/5 star for the book and 8/10 star for the movie.

Thats a wrap. I’m sorry if its written so little and may (possibly) not enough to entertain y’all but i hope you enjoy it. Happy reading~

21 thoughts on “#55 Wonderful Radio

      • That’s the thing with translated books. Makanya aku sekarang udah ga baca novel terjemahan lagi. Kecuali kalo mo buat semacam contrastive semiotics (apaan tuh???), hehe. ^_^ Tapi belom sempet juga.

        Like

      • hahha, iya, apa tuh contrastive semiotics?o_O
        oia, ud nonton Liberal Arts? atw jgn2 ud ngereview ya? hmm,

        Like

      • Udah nonton dooong. Ngereviu Liberal Arts? Itu bukan dari buku kan?
        Contrastive semiotics itu mata kuliah Translation dulu di kampus. Hehehe. Aku pengen belajar translation (lifelong) pake komparasi teks original & terjemahan gitu. Tapi ga sempet2 juga, hahaha.

        Like

      • iya, bukan dr buku. mxdku apa mb ngreview filmnya?
        duh, kayaknya itu film akan lebih asik kalo jd buku. hehhe😀

        Like

      • Ga sih. Karena cuman punya blog buku. Hehe. Jadi nantinya sih aku bakal ngereviu film2 yang diangkat dari buku gitu.
        Mungkin yah? Tapi kalo di sono, screen-to-book apakah cukup laku?

        Like

  1. Pingback: [Book's Stack] June | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: [Monthly Recap] June | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s