#50 Simfoni Dua: Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo Cetakan kelima, 1995 104 halaman ISBN: 9794072648 Penerbit Balai Pustaka My Rate: 3/5 star

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo
Cetakan kelima, 1995
104 halaman
ISBN: 9794072648
Penerbit Balai Pustaka
My Rate: 3/5 star

Akhirnya saya mengerti, membaca karya-karya sastra Indonesia atau membaca karya sastrawan yang dimiliki Indonesia adalah sebuah PR yang tenggat mengerjakannya mesti lah memerlukan waktu panjang. Belum lagi tak ada jaminan apakah cara kita menilai atau menghargai tiap-tiap karya sastra sudah benar adanya atau sudahkah menelanjangi pesan yang dimaksudkan para sastrawan tersebut. Kecuali kau begitu mencintai sastra dan perlu masuk ke dalam dunianya, maka kemampuan menilai karya sastra adalah hal yang penting. Demi menunjang obrolanmu  dengan para penikmat sastra atau menunjang langkahmu menjadi bagian dalam sejarah sastra. Tapi boleh kan kalau aku disini mengambil jalan samping saja: yakni jalan yang tidak mempermasalahkan perlakuanku terhadap PR yang aku singgung diatas adalah ‘menikmati dengan seadanya, sebisanya’.

Subagio Sastrowardoyo. Aku bahkan baru tahu keberadaan nama itu karena Dimas Suryo (Pulang – Leila S Chudori) menyebutkannya. Sehingga saat sore tadi mata ini menelusuri rak bertajuk sastra di perpumda, aku memutuskan mengambil kumpulan sajak ini dan sebuah kumcer dari SGA (reviewnya setelah review kumpulan sajak ini). Lalu kesanku setelah membaca sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo?

Karya beliau ini tidak indah-indah amat bahasanya. Tidak seperti Rendra, eh apakah mereka satu angkatan? Sajak-sajaknya berbicara dengan tidak rumit. Dan dari sekian sajak-sajaknya yang ada di dalam buku ini, aku menyukai sajak-sajaknya yang bertema kematian. Oh iya, kumpulan sajak ini bernama Simfoni Dua yang artinya ia memiliki ‘kakak’ yang terlebih dahulu lahir yakni Simfoni Satu. Berhubung di dalam deretan buku yang ada, Simfoni Dua tidak sedang bersama sang kakak, jadilah buku ini tetap ku embat seadanya. Lagipula kumpulan sajak ini bisa dinikmati terpisah kok. Tenang saja.

Balik lagi dengan apa yang ku katakan sebelumnya bahwa di antara sekian banyak sajak yang terangkum dalam buku ini, aku tertarik dengan sajaknya yang bertema kematian. Temanya kematian, tapi beberapa ada yang dieratkan dengan cintanya terhadap sastra atau kegiatan bersajak yang menjadi napasnya. Seperti contohnya sajak berjudul Wasiat ini:

Dalam menyesuaikan diri dengan

pergantian musim tidak perlu

gegap gempita. Gejala pancaroba

tidak selalu diiringi gejolak jiwa.

Semua perubahan harus berlaku

dengan diam seperti embun yang

hilang dari daun tanpa ada yang tahu.

Hanya sekali waktu ada anak yang

menjumpai nisan dan berkata:

“Orang ini pernah menyair dulu.”

Setiap kali nyawa gugur di bumi

di langit sebuah bintang melintas sepi.

Nikmati juga sajak Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Kembali, masih bertema kematian.

Jariku meraba buku yang berderet

sepanjang dinding.

Banyak yang belum selesai kubaca:

Iqbal, Wittgenstein, Ronggowarsito.

Kalau aku mati, kalau aku mati

aku akan menyesal tidak sempat

mengenal kebudayaan masa kini.

Dan negeri-negeri di dunia

begitu banyak yang belum pernah ku kunjungi:

Mexico, Rusia, Nepal.

Kalau aku mati, kalau aku mati

aku akan menyesal tidak sempat

memasuki daerah-daerah asing.

Dan gairah mencipta yang ajaib ini

yang belum habis menelanjangi tubuh,

ruh dan rasa.

Kalau aku mati, kalau aku mati

aku boleh kembali ke dunia ini.

Tapi bagi Subagio Sastrowardoyo, Sajak Tak Pernah Mati. Katanya begini:

Sajak menyuarakan puncak derita

yang pernah ditanggung manusia.

Injak, robek atau bakarlah

sajak, jerit sakit masih menyayat

malam sunyi.

Seperti berabad lalu anak Tuhan

sebelum ajalnya disalib berteriak:

“Allah, Allah, mengapa daku Kau terlantarkan?”

keluh itu terus berkumandang

sampai kini.

Kalau aku mampus, tangisku

yang menyeruak dari hati akan

terdengar abadi dalam sajakku

yang tak pernah mati.

Dan terakhir ini adalah sajak yang menyaratkan kepedihannya terhadap yang terjadi di sekelilingnya. Yang kepedihan atau kekesalan itu sangat wajar sekali karena sudah seberapa besar wajah dunia dipermalukan segelintir manusia yang tidak mengindahkan kemanusiaannya sendiri? Sajak berikut berjudul Aku Tidak Bisa Menulis Puisi Lagi.

Aku tidak bisa menulis puisi lagi

sejak di Nazi Jerman berjuta Yahudi

dilempar ke kamar gas sehingga

lemas mati.

Aku tidak bisa menulis puisi lagi

sejak di Afrika Selatan pejoang-pejoang

anti-apartheid disekap berpuluh tahun

tanpa diadili.

Aku tidak bisa menulis puisi lagi

sejak di Birma pengunjuk rasa

bergelimpangan dibedili tentara

secara keji.

Aku tidak bisa menulis puisi lagi

sejak di Jalur Gaza serdadu-serdadu Israel

mematahkan lengan anak-anak Palestina

yang melawan dengan batu.

Keindahan punah dari bumi

ketika becak-becak dicemplungkan

ke laut karena bang becak melanggar

peraturan DKI

ketika rakyat berbondong-bondong

digusur dari kampung halamannya

yang akan disulap jadi real estate

dan pusat rekreasi

ketika petani dipaksa tanam tebu

buat pabrik-pabrik, sedang hasil

padi dan kedelai lebih mendatangkan

untung dari rugi

ketika truk-truk di jalan raya dicegat

penegak hukum yang langsung meminta pungli

ketika keluarga tetangga menangisi kematian

anaknya korban tabrak lari.

Aku tidak bisa menulis puisi lagi

sejak keindahan punah dari bumi.

Well, sajak milik Subagio Sastrowardoyo terakhir yang ku kutip sepertinya adalah pamungkas yang tepat. Meski aku katakan sebelumnya bahwa sajak Subagio Sastrowardoyo tidak memakai kata-kata yang indah amat dibandingkan dengan Chairil Anwar, Rendra, SDD, atau seprofesinya (yang kusebut hanya sastrawan yang pernah aku baca karyanya dan entah apakah mereka semua satu angkatan, pardon me) tapi sajak Subagio Sastrowardoyo memiliki keindahan yang tidak begitu muluk ia sembunyikan dalam lema-lema yang cantik dan di saat yang bersamaan lema-lema rangkaiannya tidak terbatas pada lema-lema yang kita gunakan sehari-hari. Toh kita bisa merasakan melalui sajaknya bahwa Subagio Sastrowardoyo mengetahui banyak hal dan hal tersebut menunjang sajak-sajaknya yang bagus.

Give it a try, for your brain and you inner thought, pieces of literature writings. It’ll soften your heart, like once Umar ibn Khattab ever said.

Happy reading~

One thought on “#50 Simfoni Dua: Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo

  1. Pingback: [Monthly Recap] May | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s