#51 Linguae

Linguae: Sejumlah Cerita Seno Gumira Ajidarma 130 halaman Cetakan Kedua, September 2007 Penerbit Gramedia Pustaka Utama My Rate: 3/5 star

Linguae: Sejumlah Cerita
Seno Gumira Ajidarma
130 halaman
Cetakan Kedua, September 2007
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
My Rate: 3/5 star

 

“Apakah kamu masih akan mencintaiku kalau aku suatu hari bangun tanpa lidah dan tidak bisa lagi menyatakan cinta dan menyentuhmu dengan lidahku?”

“Kalau kamu?” Ia balik bertanya, sambil menjulurkan lidahnya.

Kalau ia tidak berlidah? Aku teringat cerita tentang Sasuke, seorang pelayan yang menjalin hubungan cinta terselubung dengan shunkin, perempuan majikannya. Suatu penganiayaan oleh saingannya dalam karir sebagai pemain shamisen telah membuat shunkin buta. Atas nama cinta, meski tidak pernah menyatakannya, Sasuke lantas membutakan matanya sendiri.

Menurutku itu memang kebersamaan cinta yang luar biasa. Kalau aku ingin seperti Sasuke, aku tentu harus  memotong lidahku. Sanggupkah aku?

Apakah sentuhan cinta terindah hanya bisa disampaikan oleh lidah? Tidak bisakah cinta disampaikan oleh tungkak?

Ketika satu pasangan dalam cerpen berjudul Linguae ini kerap menunjukkan cinta sekaligus menguji daya cinta mereka dengan lidah (baca: berbicara), bagaimanalah bila satu dari mereka kehilangan lidahnya?

Apabila kami bertemu dari kelahiran satu ke kelahiran lain, kami akan saling mengenali, meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Itulah yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi, kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Tetapi, tidakkah cinta itu tiada memandang wujud, dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa, maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku, sebagai manusia biasa, masih bisa mencintai kekasihku, jika kekasihku itu telah menjadi komodo?

Aku rasa, potongan dari cerpen Cintaku Jauh di Komodo ini agak senada maksudnya dengan potongan yang aku ambil di Linguae. Tapi kali ini pertanyaannya: bagaimanalah bila sang pacar terlahir sebagai Komodo sementara pasangannya adalah seorang manusia? Bisa kah mereka saling mencintai seperti di rekatnya perasaan cinta mereka yang telah terwujud di kehidupan-kehidupan sebelumnya.

Jujur, aku tidak bisa mengambil kesimpulan pesan dari dua cerpen ini dengan pasti. Buat apa lah, toh aku tidak sedang menganalisisnya😛 tapi dua cerpen ini masih bisa ku nikmati. Tidak seperti cerpen yang berjudul Joko Swiwi, atau Badak Kencana, atau Sebatang Pohon di Tengah Padang, atau Gerobak. Dan yang lebih parah, aku benar-benar tidak bisa mencerna cerpen berjudul Tong Setan dengan baik. Pasalnya, SGA banyak melakukan repetisi (meski sebenarnya pusaran kata-kata itu adalah nyawa cerpen tersebut) dan aku pusing membacanya. Semacam sedang mengendari motor yang berputar dalam Tong Setan di pasar malam saja @.@

Tapi selain cerpen-cerpen selain yang kusebut di paragraf sebelum ini, bisa ku nikmati. Sebut saja otakku tidak prima untuk karya sastra, tak apa. Toh aku akan tetap mencoba menyicip karya-karya sastra karena itu adalah ‘pekerjaan rumah’ buatku yang sotoy ini😀

Ada 14 judul cerita di dalam buku ini, ada 2 judul yang mengambil kata senja -yang menjadi ciri SGA selain Sukab, yakni: Senja di Pulau Tanpa Nama dan Senja di Kaca Spion. Dan mungkin memang berkat SGA, estetika senja terangkat (setidaknya di Indonesia) -meski aku sendiri jauh lebih memilih bulan daripada senja atau hujan. Oleh SGA, indahnya senja tidak hanya dimasukkan di cerpen yang berjudul senja, setidaknya di buku ini senja juga menjadi bagian dari cerpen berjudul Cermin Maneka, sebuah cerpen sureal (?):

Maneka beranjak dan melompat tanpa berpikir lagi. Baginya pemandangan senja adalah segala-galanya dalam hidup ini karena adalah senja yang memberi keyakinan kepadanya betapa hidup memang tidak akan pernah sama. Senja selalu menyadarkan Maneka, betapa perubahan adalah keberlangsungan setiap detik dan mesti betapa indah dan betapa penuh pesona senja itu, namun, akan selalu berakhir. Itulah sebabnya ia selalu memburu senja, seperti memburu cinta, betapapun tiada akan pernah abadinya cinta itu.

Di tangan SGA, sah-sah saja Maneka juga mencintai senja. Dan mungkin memang begitu ya daya tarik sastrawan: mereka selalu bisa menjadikan karya mereka tampan dan mengagumkan meski lema-lema mereka tujukan untuk mencipta cerita surealis. Di tangan mereka, kata-kata menjadi lincah saja. Kalau bukan aku yang mendapati ketampanan dari cerita atau sajak yang mereka rangkai, pasti ada orang lain yang akan memahaminya. Dan lebih kerennya lagi, mereka tidak betul-betul merasa perlu orang lain untuk memahami karya mereka. haduh gw ngomong apeu -.-a

Lalu ini satu lagi, cerita surealis yang dibuat SGA tapi begitu memikatku gara-gara dia memadu rembulan dengan kopi dalam cerpen yang berjudul Rembulan dalam Cappucinno. Hahha, siapa pula yang akan terpikirkan untuk memesan cappucinno dengan rembulan yang mengapung dalam buih putihnya? Tapi toh SGA membuat sepasang suami-istri memesan cappucinno dengan ‘toping’ rembulan. Rembulan yang diambil dan ternyata hanya sebesar bola basket, dan saat dicelupkan ukurannya menyusut jadi sebesar bola pingpong! Duh, pantas bulannya tak kelihatan😛

TIADA rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi
betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya,
siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?

“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan
itu kepada dirinya sendiri.

“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.

Hahha, so true~

Aku ini sangat menyukai bulan, terlebih purnama. Tapi apakah itu berarti aku ini tergolong orang romantis? Jangan-jangan aku ini emang sok-sokan romantis aja dengan menggunakan bulan (tanpa kusadari, ups!). Oke, enough. I wont say anything anymore because it turn out weird :-S

Last, i bet you’ll enjoy this book. And you may laugh in the middle of reading because some story can make a way for it. Yap, some feels laughable -not to degrade the estethic of the story.

I hope its a useful review one even if this review was not good enough to be compared to other review from ones who love literature (or love SGA pieces).

So then, happy reading y’all~ ^^

One thought on “#51 Linguae

  1. Pingback: [Monthly Recap] May | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s