#47 Pulang

Leila S Chudori viii + 484 halaman Cetakan Pertama, Desember 2012 Kepustakaan Populer Gramedia My Rate: 4/5 star

Leila S Chudori
viii + 484 halaman
Cetakan Pertama, Desember 2012
Kepustakaan Populer Gramedia
My Rate: 4/5 star

Lazimnya, atau baiknya, sebuah resensi diawali dengan ringkasan isi buku yang diresensi.Itulah seharusnya bagaimana sebuah ulasan dimulai. Setidaknya ya seperti itu yang disepakati banyak artikel yang terbit di dunia maya. Tapi justru itu masalahnya buat saya.

Saya telah menghabiskan buku ini kemarin sore, meski saya begitu ingin untuk menuliskan ulasan tentang buku ini di blog sesegera setelah saya menyelesaikannya, anehnya saya merasa tertahan. Karena buat saya, kadang ringkasan isi novel yang baiknya menjadi bagian sebuah novel malah menjelma sebuah beban untuk saya. Seringnya saya kesulitan. Bila pun saya menghadirkan sebuah ringkasan isi buku di awal ulasan-ulasan yang lalu, saya tidak percaya diri. Ringkasan isi cerita saya buat kadang tidak mewakili isi buku, kadang memberikan spoiler, kadang terlalu panjang. Dan di postingan ini, sepertinya saya akan melewatkan bagian ‘memberikan ringkasan isi buku’ itu.

Mengapa saya memberikan 4 bintang untuk buku ini?

Rerata penilaian terhadap buku ini di Goodreads adalah 4.15 dari 5 bintang. Sehingga bisa dikatakan buku ini berhasil menarik hati pembacanya, well, termasuk saya. Selain itu, saya berharap kalian tidak terlalu terpengaruh atau berharap sesuatu yang rekomendatif dari postingan ini. Karena yang akan kalian baca berikut ini hanyalah pendapat pribadi. Sorry for that.

4 alasan untuk 4 bintang yang saya sematkan.

Pertama, Lamanya proses pengerjaan novel ini. Mulai dikerjakan sejak tahun 2006 dan selesai di tahun 2012, itu yang dikatakan penulis di catatan yang ada di bagian akhir novel ini. I always appriciate the pieces that has a long journey for the process itself. It tells us how much the author dedicating his/her pieces for ‘some’ purpose. An honourable purpose, i bet. Selain itu saya merasa begitu terlengkapi, begitu puas dan menikmati novel ini, justru dengan catatan-catatan yang saya temui di belakang novel tersebut.

Kedua, karena Leila adalah seorang jurnalis, no wonder she put so much work for this book. Karena Leila adalah seorang jurnalis, instantly i fall for the writing. The writing from someone who has a journalistic background always have my respect any my like for them. Karena kita tidak akan menemui banyak hal yang tidak sinkron dalam penulisan, pun bahasa mereka indah dan diksinya tidak begitu terbatas. See my point?

Ketiga, karena tokoh Bang Amir dan Kapita Selekta M. Natsir. Diantara sekian banyak tokoh yang dihadirkan Leila dibuku ini, saya sangat menyukai kehadiran Bang Amir. Seorang protagonis yang muncul dan begitu dihargai Dimas.

 “Saya percaya Allah memberi rezeki kepada saya dengan menyisakan sepetak ruang kecil di hati hamba-Nya. Dalam sepetak ruang suwung, sebuah gelembung kekosongan yang hanya diisi antara saya dan Dia, di sini lah saya selalu mencoba memahami apa yang terjadi, Dimas.” -halaman 34

“Bang Amir bisa membuat saya berikir soal spiritualisme tanpa harus identifikasi dengan organisasi agama. Sesuatu yang lebih dalam dan mulia di dalam inti kemanusiaan. Ketika saya berbincang dengan dia lebih seperti dua manusia tanpa embel-embel warna, cap, partai, aliran, atau atas nama kelompok. Kami berbincang seperti dua kawan, dua wartawan, yang ingin mengetahuui hubungan manusia yang begitu kecil, begitu infinite ini dengan kebesaran alam.” -halaman 237

Sosok Bang Amir memiliki impact tersendiri di dalam Dimas, and i can see why. Bang Amir, dikatakan di novel ini, memihak pemikiran buya Natsir. Dan buya Natsir adalah sosok yang menarik bagi saya, seperti menariknya Hatta, Hoegeng dan buya Hamka yang saya kagum-kagumi.

Keempat, novel ini berhasil memompa mood saya untuk membaca buku-buku serius. Untuk membaca buku-buku sejarah lagi. Dan ingat bahwa tadi saya menyinggung bahwa saya merasa terlengkapi dengan catatan akhir di bagian belakang novel ini? Di antara catatan-catatan tersebut, Leila menyebutkan banyak sumber yang memenuhi cerita di novelnya. Dan sepertinya saya akan menggunakan catatan tersebut sebagai rekomendasi bacaan-bacaan saya berikutnya. I’ve ever say that i read history, i said it in my profile on Goodreads. And this reason number 4 make my turn.

Dan sungguh, saya suka sekali selipan kisah wayang Mahabharata dan penggambaran kisah Bima dan Ekalaya serta alasan kedua sosok tersebut tercermin pada Dimas. Well, i agree, Bima dan Ekalaya menguatkan karakter Dimas. Saya mencatat untuk diri saya sendiri agar nanti saya membaca kisah Mahabharata (meski saya juga mengasihani diri sendiri mengapa belum pernah terbaca oleh saya kisah besar pewayangan tersebut).

Sisi lain, yang mungkin akan saya komentari dari sudut yang bersebrangan dari alasan-alasan saya menyukai novel ini, juga ada.

Saya menyukai Leila yang mebuat novel ini terdiri dari banyak POV. Tapi pada akhirnya, POV terlalu banyak. Saya ngga ngerti kenapa POV Bimo dipaparka tapi tidak demikian halnya dengan Kenanga. Apa karena pada akhirnya ibu Bimo, Rukmini, menikah dengan letnan? Dan bisa terselipkan sosok orang-orang Soeharto di dalam cerita? Jika saya boleh meminta, saya lebih ingin tahu POV Kenanga dan Hananto lebih banyak lagi. Tapi sepertinya pemintaan itu hanya akan menyebabkan ceritanya lebih hitam dan sedih.

Lalu, kenapa Lintang mesti jatuh cinta dengan Alam? Kenapa oh kenapa? Kenapa Dimas, Hananto, Nug, dan Alam ini womanizer semua? -.-a i’m craving for more good-boy characters, dear author.

Sampai sini, saya baru keingetan, ada alasan suka lainnya untuk novel ini. Alasan itu adalah nama-nama karakter yang diciptakan Leila. Namanya bagus-bagus. Dan saya paling suka nama panjang Alam, meski saya tidak begitu jatuh cinta dengan dia di novel ini: Segara Alam. A really lovely name.

Lalu berikut beberapa potongan yang menarik bagi saya, dont ask me why

Dengan segera aku paham, Viviene, seperti juga aku adalah seorang pengembara. Dia ingin mengetahui dan memahami berbagai macam pemikiran yang lahir pada setiap masa yang penting tanpa harus mampir dan berhenti untuk menikmatii pesonanya. -halaman 25

Karena alam tidak bekerja demikian, -halaman 38

Kenapa kita harus bergabung dengan salah satu kelompok hanya untuk menunjukkan sebuah keyakinan? Lagipula, apa munkgin keyakinan kita itu sesuatu yang tunggal? Sosialisme, komunisme, kapitalisme, apakah paham-paham itu harus ditelan secara bulat tanpa ada keraguan? tanpa kritis? -halaman 43

Memilihara bahasa indonesia …

Berbahasa indonesia dengan baik dan memperhatikan setiap kata sebagai sebuah tubuh yang memiliki jiwa -halaman 82 & 83

‘Kata flanerie pada abad 16 menunjukkan sebuah kebiasaan orang-oran gyang menyusuri dan mengelus jalan, menikmati udara senja atau pucuk bunga yang mulai merekah di musim panas. Ada konotasi ini adalah aktivitas untuk kaum aristokrat yang kebanyakan waktu. Baru belakangan, kata flaneur memberi kesan ambivalen. Ada campuran arti citra rasa seseorang yang melakukan perjalanan untuk memenuhi keingintahuan dan keinginan mempelajari kebudayaan setempat. Ini kemudian berbeda dengan flaneur yang sebelumnya berarti pengelana yang berjalan kemana saja, tanpa tujuan. Menyaksikan flaneur, seperti melihat gambaran bergerak dari sebuah kehidupan urban.’

‘Tetapi, saya paling tertarik dengan penjelasan Charles Baudelaire, bahwa keramaian dalam perjalanan adalah rumah bagi flaneur, seperti ikan dengan airnya. Kegairahan dan pekerjaannya melebur menjadi satu di dalam keramaian. Seorang flaneur akan terus mencari, dan membangun rumah di dalam aliran dan gerakan perpindahan. Dia merasa telah meninggalkan rumah, tetapi berhasil membangun sebuah rumah di dalam perjalanan.’ -halaman 279-280

Last, may the odds be ever in this book favor ^^

3 thoughts on “#47 Pulang

  1. Pingback: Simfoni Dua: Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: [Monthly Recap] May | Faraziyya's Bookshelf

  3. Aku juga habis baca buku ini, dan masih bingung harus mulai nge-review dari mana >_<
    Awalnya aku agak ragu bisa menuntaskan "Pulang" dengan cepat, karena jarang baca novel sejarah. Tapi ternyata aku justru jadi suka!! Dan setuju sama poinmu yang keempat Ziy, abis baca "Pulang" aku jadi semangat pengen baca novel sejarah lainnya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s