#42 The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower ebook, 146 pages Published June 29th by MTV Books e-ISBN-13: 9781439122433 My Rate: 4/5 star

The Perks of Being a Wallflower – Stephen Chbosky
ebook, 146 pages
Published June 29th by MTV Books
e-ISBN-13: 9781439122433
My Rate: 4/5 star

I fell .. infinite …

Saat belum membaca buku ini, saya penasaran. Its not like i know the movie adaptation first then become curious about the books behind. nothing like that. its just that in one day, i had my blogwalking routine, i surf my Goodreads account and my book-blogger friend then this movie tie in book cover pop out; i’m curious. so i decided to find the ebook. i got it and start reading it.

Beberapa halaman saya lahap tanpa bertanya. Tapi saya tidak yakin apa saya menikmati halaman-halaman awal tersebut. Kemudian saya sadar bahwa gaya penceritaan diary yang dipilih oleh Stephen Chbosky tidak menarik perhatian saya. Tapi akhirnya saya lanjut membacanya, sambil didalam hati berniat mencari file filmnya. Lalu saya sampaike tengah buku, dan karena saya mendapatkan file film-nya, saya putuskan bahwa saya perlu membarengi membaca buku ini dengan menonton moie adaptationnya. Karena sepertinya hal itu akan memberi ‘pencerahan’ kepada imajinasi saya yang nampaknya sedang menumpul saat awal bagian buku ini. Then it works.

……

blank …

i dont know how to continue writingsob. Rrrr … actually its nothing like that. i type about 3 paragraphs just then but i decided to delete it. Those 3 paragraphs are nothing. i intend to tell others here about Charlie but i cant get it short-and-solid enough. Hmm…. let me try it again.

..

Charlie adalah seorang wallflower.

In social situations, a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn’t socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals. The term comes from the image of a person isolating themselves from areas of social activities at ballroom dances and parties, where the people who did not wish to dance (or had no partner) remained close to the walls of the dance hall.

Charlie mulai menulis surat kepada teman anonym sejak sehari sebelum ia memulai highschool-nya. Lewat surat-surat tersebut, ia bercerita tentang kehidupannya. Tentang ia yang sebulan berselang sejak hari pertama sekolah akhirnya berteman dengan Patrick dan Sam. Tentang Bill, guru english advance-nya yang memberinya buku-buku bagus di luar kelasnya. Tentang Sam yang begitu cantik dan Charlie jatuh cinta kepadanya. Tentang Patrick yang ternyata adalah seorang Gay yang berhubungan diam-diam dengan Brad. Tentang Mary Elizabeth, Alice, dan Bob; temannya selain Patrick dan Sam. Dan tentang Bibi Helen, seorang yang sangat ia cintai tetapi meninggal di malam ulang tahun Charlie karena kecelakaan mobil.

Meski hanya dalam beberapa kalimat saya menggambarkan cerita Charlie, tapi sesungguhnya cerita Charlie tidak sesederhana itu. Masalahnya adalah saya yang tidak bisa dengan baik mengungkapkannya. Charlie tidak hanya seorang wallflower tetapi ia memiliki mental-health problem sejak kematian Bibi Helen. Dan ternyata lagi, mental-health problem itu tidak semata disebabkan ia kehilangan sosok Bibi Helen yang begitu dicintainya tetapi ada ‘kisah’ lain. Mental-health problem tersebut kadang terasa begitu serius sampai kadang perubahan perilaku/emosi Charlie layaknya ‘roller-coaster’.

Dari surat-surat yang ditulis Charlie, kita bisa merasakan charlie keluar dari unsocialized person menjadi seseorang yang lebih dikenali dan memiliki teman. Dan tentu saja, dari surat yang diceritakan Charlie, kita bisa mendapatkan kisah persahabatan yang hangat, kisah cinta, dan kisah lain yang tidak manis tapi justru heart-breaking. Cerita-cerita yang manusiawi dan sangat erat dengan permasalahan remaja diluar sana. Juga tentang kehangatan keluarga. Dan yang lebih penting, satu tahun freshmen high school yang lewati dengan banyak hal dan pada akhirnya ia berhasil membebaskan dirinya dari mental-health problem yang sejak usia tujuh tahun dibawanya. Be proud of our Charlie.

Seperti saya katakan di awal, di tengah membaca buku ini, saya putuskan untuk menonton filmnya. Dan saya merasa sangat terbantu. berkat movie adaptation-nya, saya jadi lebih jauh menyukai buku ini. Lalu maafkan saya karena sekarangsaya mauagak membandingkan. Seperti kebanyakan movie adaptation lain, banyak bagian dari buku yang tidak terangkat di film. Seperti hal bahwa Charlie adalah seorang Crybaby. Di Film memang Charlie menangis, tapi tidak secengeng seperti diceritakan di buku. Di buku diceritakan bahwa Charlie merokok, mengikuti Patrick dan Sam, tetapi tidak dari ketiganya terlihat merokok di film. Di dalam buku, ada touching moment yakni saat Charlie membacakan poem yang ia buat di depan teman gengnya saat perayaan Secret Santa, tapi itu tidak ditampilkan di film. Lalu lainnya, dikatakan di buku bahwa kakak perempuan Charlie pernah hamil, tapi hal tersebut tidak terdapat di buku. Naah ini, keluarga Charlie kurang begitu ‘hidup’ di filmnya. Tidak ‘sehidup’ yang ditampilkan di buku. I love Charlie’s family.

Tapi dari semua perbandingan yang saya buat diatas, saya tidak yakin bisa membandingkan penggambaran adengan ‘tunnels’ dan ‘i feel infinite’ dari buku dengan movie adaptationnya karena saya manyukai adegan tersebut baik yang diceritakan di buku maupun dihasilkan oleh filmnya.

There’s something about that tunnel that leads to downtown. It’s glorious at night. Just glorious. You start on one side of the mountain, and it’s dark, and the radio is loud. As you enter the tunnel, the wind gets sucked away, and you squint from the lights overhead. When you adjust to the lights, you can see the other side in the distance just as the sound of the radio fades to nothing because the waves just can’t reach. Then, you’re in the middle of the tunnel, and everything becomes a calm dream. As you see the opening get closer, you just can’t get there fast enough. And finally, just when you think you’ll never get there, you see the opening right in front of you. And the radio comes back even louder than you remember it. And the wind is waiting. And you fly out of the tunnel onto the bridge. And there it is. The city. A million lights and buildings and everything seems as exciting as the first time you saw it. It really is a grand entrance

Last, you should enjoy both the book and the movie adaptation. It wont dissapoint you, trust me.

So, I guess we are who we are for a lot of reasons. And maybe we’ll never know most of them. But even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them. – the epilogue

*saya harap review ini tidak memusingkan, meski saya tahu review ini jauh dari memuaskan

See you with the next book

Happy reading

Emoji9-200

 

15 thoughts on “#42 The Perks of Being a Wallflower

  1. Novel yang lumayan mengaduk2 perasaan. Sedih banget bacanya pas bagian2 charlie lagi sendirian dan mikirin aunt helen.
    Aku baca novel ini di hp sebagai pengantar tidur. Mungkin karena sambil ngantuk, hampir nggak ngeh ketika membaca satu kalimat yang menjelaskan kenapa Charlie punya mental health problem. Habis penjelasannya cuma satu kalimat itu. Mana waktu itu belum nonton filmnya juga. Haha. Dan btw aku lebih suka sama kakak perempuan Charlie yang di film daripada di novelnya deh.
    Anyway, nice review!🙂

    Like

  2. Aku udah nonton filmnya tapi nggak pernah selesai baca bukunya kak ziy #tibatibacurhat. But I love Patrick, apalagi di filmnya yg mainin Ezra Miller ><

    Like

  3. Udah donlot e-book-nya tapi belom sempet baca. Bagus ya? Filmnya sih bagus. Aku suka Logan Lerman sejak dia nongol di The Butterfly Effect. Kayaknya dia agak underrated, so I’m really looking forward to him cast in bigger roles. #curcol
    Asik komparasi antara film dan bukunya ya. Jadi inget jaman kuliah. #curcollagi

    Like

  4. Pingback: [Monthly Recap] May | Faraziyya's Bookshelf

  5. Pingback: Faraziyya's Bookshelf | 2013 Reading Challenge Books In English: Wrap Up Post

  6. Pingback: Mental Health Issues in Young Adult Novels | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s