#40 Secangkir Kopi untuk Relawan

Muhammad Al-Azhir Cetakan I, Desember 2010 270 halaman Penerbit Semesta (Kelompok Pro-U Media) My Rate: 4/5

Muhammad Al-Azhir
Cetakan I, Desember 2010
270 halaman
Penerbit Semesta (Kelompok Pro-U Media)
My Rate: 4/5

Tiga hal yang membuatku membeli buku ini saat IBF lalu; Aceh, Kopi dan Relawan. Aceh memang selalu menjadi tujuanku (selama aku belum menjejakkan kakiku di sana). Kopi adalah kawan dan Relawan adalah sebuah kehormatan.

Skripsi Wahid Nugroho, seorang ‘anak mushalla’ mahasiswa UGM, memiliki judul yang provokatif; KONFLIK SEBAGAI LADANG BISNIS TENTARA: STUDI KASUS TENTANG ACEH. Saat mengajukannya ke Prof. Ibrahim, dosen pembimbingnya, ia tak menyangka bahwa judul tersebut ternyata perlu lebih dari sekadar penelusuran ilmiah tetapi membutuhkan studi lapangan. Itulah syarat persetujuan sang dosbing terharap skripsi Wahid.

Saat itu, Oktober 2004. Setelah mendapat tantangan yang cukup berat dari sang dosen, benak Wahid menjadi sedemikian berat. Untuk sementara ia tidak begitu memikirkan skripsinya dan terus aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Hingga pada akhir tahun 2004, ketika Tsunami menerjang wilayah paling barat Indonesia, ia memutuskan  menjadi relawan untuk bencana kemanusiaan di Aceh. Ia bergabung dengan sebuah lembaga kemanusiaan dan di sisi lain ia melakukan studi lapangan untuk skripsinya.

Di Aceh, ia menemukan banyak hal, menghadapi banyak situasi yang menggerus keprihatinan. Di Aceh ia mendapat kehormatan menjadi relawan. Di Aceh ia mendapat pengalaman dan pengetahuan antropologis penduduk Aceh. Di Aceh, ia menikmati kebersamaan dengan relawan yang sama-sama ingin menjadi bantuan bagi Aceh untuk bisa kembali berputar roda kehidupannya. Di Aceh bahkan, dia disuguhi kopi terenak yang disediakan oleh pasukan GAM. Dan di Aceh, ia mendapatkan jodohnya. Meski itu sungguh dilaluinya dengan jalan yang tidak mudah, ia bahkan hampir mati di tangan GAM.

Sosok Wahid sendiri merupakan sosok yang sangat adorable. Berakhlak baik, bisa diandalkan, sering dipercaya menjadi pemimpin kelompok, dan bertanggungjawab. Almost perfect, mungkin, tetapi buku ini juga menampilkan Wahid yang manusiawi yang memiliki kelemahan. Dengan setting pasca tsunami di mana di sana relawan dari beragam daerah dan bahkan  mancanegara berkumpul, buku ini juga menghadirkan warna kultur beragam yang bisa kita nikmati. Kearifan lokal tentang Aceh juga bisa dinikmati di buku ini. Kengerian kondisi darurat di Aceh juga dengan mudah tergambar dengan deskripsi yang apik dari sang penulis.

Saya suka buku ini, mengajarkan banyak tentang kemanusiaan. Menyentil dengan teguran untuk kembali meluruskan tujuan menjadi relawan. Deskripsinya juga sedikit-banyak menambah ‘informasi ta’aruf’ saya dengan Aceh, sebuah daerah tujuan yang selalu terpatri dalam hati. Saya tahu bahwa Aceh tak hanya memiliki kebaikan tetapi di sana juga ada kenyataan-kenyataan yang tidak begitu bagus tentag Aceh. Tapi apa mau dikata, saya sudah kadung jatuh cinta dan kadung begitu ingin  ke sana. Ah, semoga segera.

 

3 thoughts on “#40 Secangkir Kopi untuk Relawan

  1. Pingback: [Monthly Recap] April | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s