Wonder(ful)

Olivia

“Olivia? Yeah, dia baik. Apa kau tahu dia punya adik cacat?” Sejak dulu aku benci pada kata itu, tapi aku tahu begitulah orang-orang menggambarkan Auggie. Dan aku tahu mungkin percakapan semacam itu selalu terjadi saat aku tidak mengdengarnya, setiap kali aku keluar dari sebuah ruangan di pesta, atau berpapasan dengan sekelompok teman di kedai pizza. Dan itu tidak apa-apa. Aku akan selalu menjadi kakak perempuan dari seorang anak yang memiliki kelainan sejak lahir; bukan itu masalahnya. Aku hanya tidak mau selalu digambarkan dengan cara seperti itu.

Justin

Aku terus teringat pada ucapan Miranda: alam semesta tidak ramah pada Auggie Pullman.

Aku sering memikirkan ucapan itu dan semua maknanya. Miranda benar. Alam semesta memang tidak ramah pada Auggie Pullman. Apa yang pernah dilakukan bocah itu hingga pantas menerima hukuman itu? apa yang dilakukan orangtuanya? atau Olivia? Olivia pernah menyebut-nyebut soal dokter yang memberitahu orangtuanya mengenai kemungkinan seseorang yang memiliki kombinasi sindrom yang sama yang muncul bersamaan sehingga menciptakan wajah seperti Auggie adalah satu berbanding empat juta. Jadi kalau begitu alam semesta adalah sebuah undian lotere raksasa, ya kan? kau membeli sebuah tiket saat dilahirkan dan itu benar-benar acak, entah kau mendapatkan tiket yang bagus atau yang jelek, semua itu hanya keberuntungan.

Kepalaku berputar memikirkannya, tapi setelah itu ada pikiran lembut yang menenangkan, seperti interval rendah pada sebuah nada utama. Tidak, tidak, itu tidak acak, seandainya memang sepenuhnya acak, alam semesta akan menelantarkan kita seutuhnya. Dan alam semesta tidak menelantarkan kita, alam semesta menjaga makhluk ciptaan paling rapuh dengan berbagai cara yang tidak bisa kita lihat. Contohnya dengan orangtua yang memujamu secara membabi buta, dan seorang kakak perempuan yang merasa bersalah karena bersifat manusiawi terhadapmu. Dan seorang anak bersuara berat yang ditinggalkan teman-temannya karenamu. Dan bahkan seorang cewek berambut pink yang membawa fotomu di dalam dompetnya. Mungkin memang sebuah lotere, tapi pada akhirnya alam semesta membuat semuanya impas. Alam semesta menjaga semua burungnya.

August

“Mom, Apa aku harus mengkhawatirkan orang-orang berengsek seperti itu selamanya?” tanyaku/ “Maksudku saat besar nanti, apa akan selalu seperti ini?”

Mom tidak langsung menjawab, melainkan mengambil piring dan gelasku, lalu meletakkannya di bak cuci piring dan membilasnya dengan air.

“Di dunia ini akan selalu ada orang-orang berengsek, Auggie,” Mom berkata sambil menatapku. “Tapi aku benar-benar yakin, dan Daddy juga yakin, di dunia ini lebih banyak orang baik daripada orang jahat, dan orang-orang baik selalu saling melidungi dan saling menjaga. Sama seperti Jack yang membantumu. Dan Amos. Dan anak-anak lain.”

Dad (words)

“Ohh, Auggie, jangan marah. Maafkan aku. Aku hanya tak tahan melihatmu memakai benda itu di kepalamu, kau mengerti? menurutku, benda itu tidak baik untukmu.”

“Ayolah, Auggie, cobalah untuk mengerti,”

“Kau selalu memakaihelm itu. Dan kenyataan yang paling, paling, paling, paling jujur adalah; aku rindu menatap wajahmu, Auggie. Aku tahu kau tidak selalu menyukai wajahmu, tapi kau harus mengerti … aku menyukainya. Aku menyukai wajahmu ini, Auggie, seutuhnya dan sepenuh hati. Dan bisa dibilang aku patah hati saat kau terus-terusan menutupinya.”

Mr. Tushman (words)

“Maukah kita membuat sebuah aturan baru dalam hidup … selalu berusaha untuk lebih berbaik hati dari yang seharusnya?”

” ‘lebih berbaik hati dari yang seharusnya ‘… Kalimat yang luar biasa, ya kan? Lebih berbaik hati dari yang seharusnya. Karena berbaik hati saja tidak cukup. Kita harus lebih berbaik hati dari yang diperlukan. Alasanku menyukai kalimat itu, konsep itu, karena mengingatkanku bahwa kita, sebagai umat manusia, tidak hanya memiliki kesanggupan untuk berbaik hati. Dan apa artinya? Bagaimana cara mengukurnya? Kalian tidak bisa menggunakan sebuah tongkat pengukur. Seperti yang baru saja saya katakan, berbeda dengan cara mengukur pertumbuhan kalian selama satu tahun terakhir. Kebaikan hati tidak bisa dihitung, ya kan? Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita sudah berbaik hati?”

… …

“… tapi saya ingin kalian, murid-murid saya, mengingat sesuatu dari pengalaman sekolah menengah kalian. Yaitu kepastian bahwa, di masa depan yang akan kalian bangun untuk diri kalian, semua mungkin terjadi. Jika semua orang yang ada di ruangn ini berpegang pada aturan bahwa di mana pun kalian berada, kapan pun kalian bisa, kalian akan berusaha lebih berbaik hati dari yang seharusnya-dunia ini sungguh-sungguh bisa menjadi tempat yang lebih baik. Dan jika kalian melakukannya jika kalian lebih berbaik hati, di suatu tempat, suatu hari, bisa mengenali wajah Tuhan  -atau representasi spiritual atas ketuhanan universal mana pun yang kalian percayai- di dalam diri kalian, di dalam diri kalian semua.”

2 thoughts on “Wonder(ful)

  1. Pingback: #69 Wonder | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s