[bukan review] Wonder

2013-04-13 05.08.54mbrebes mili😥

Aku tidak berniat menangis membaca buku ini, awal hingga pertengahan pun aku ikut bergejolak dan emosinal dari beberapa POV karakter di dalam buku ini tapi aku tidak menangis. Tapi aku mengaku, aku hanyut. Beberapa kali menarik napas, beberapa kali tercekat. Hingga akhirnya aku telah berada di setengah bagian akhir dari buku ini. Dari tercekat, mataku memanas. Airmata mengalir. Terus saja mengalir sampai hidungku meler.

Seharusnya aku tidak memegang buku ini menjelang alphaku aktif. Seharusnya aku menyeduh campuran Goodday Vanilla Latte dengan Susu Jahe Sidomuncul. Dan Seharusnya aku tidak berbohong bahwa aku telah mematikan laptop dan terus menikmati lagu-lagu ringan yang menemaniku membaca buku ini.

Aku sudah kepingin membaca buku ini sejak lama. Sejak muncul review-review menyenangkan tentang buku ini. Karena kepingin membaca, aku mencari tahu apa itu sindrom Mandibulofacial Dysostosis. Setelah mengetahuinya, jujur aku -banyak cameo (dan bahkan karakter dalam buku ini)- kaget sekaligus takut. Dan sepanjang membaca buku ini, di kepalaku terbayang gambar-gambar hasil pencarian Google atas istilah Mandibulofacial Dysostosis. Tapi itu hanyalah mula, karena buku ini membawaku bergejolak bersama beragam Point of View yang berbeda. Yang menjadi orbit dalam dunia August. Bahkan aku dibuat terseret (sedikit) ke posisi Auggie.

Bagaimana proses penulisan buku ini, Palacio? Apa maksudmu dengan menghadirkan serangkaian kehidupan dalam dunia Auggie melalui berbagai macam kepala, karakter dan kepribadian serta penyikapan yang sama sekali tidak sama. Bagaimana rasanya saat kau melompat dan menjiwai karakter-karakter yang berbeda tersebut? Bagaimana bisa kau membuat sisi manusiawi mereka terlihat begitu normal disini? Juga, bagaimana rasanya saat kau menghadirkan sesosok Eddie yang bergitu jahat itu? Sungguh, meski bagian itu hanya sedikit saja dari buku ini, tapi aku kesal. Sama kesalnya dengan sikap Julian. Tapi kesal sekaligus sadar, memang akan selalu ada orang seperti itu. Sekaligus sadar bahwa ada kemungkinan aku memiliki potensi jahat seperti itu. tapi aku berdoa semoga Allah tidak mengujiku dengan karakter jahat seperti Julian atau Eddie.

Aku sengaja mencantumkan bahwa ini bukan review. Ini hanya luapan emosi setelah membaca buku ‘se-emosional’ Wonder ini. Aku berharap bisa membuat review-nya lain kali. Tentunya dengan kata-kata yang lebih jelas dan bisa dimengerti orang lain. Maka, dalam tulisan ini sisi melankolisku meluber dengan kata-kata yang berantakan di sini.

..

Ada Point of View Auggie, Via, Miranda, Summer, Jack, Justin. Dan saat membaca ksemuanya secara berurutan, setiap membalik halaman demi halaman dalam buku ini, di kepalaku berputar film yang jelas tentang kehidupan Auggie. Di saat yang bersamaan, di kepalaku ada pikiran Auggie, Via, Summer, Jack dan juga terasa emosi mereka. Semuanya mengalir, semuanya berbeda tapi jalan cerita tetap menjadi jalan cerita yang harmoninya tidak rusak. Dan semuanya, sangat manusiawi. Sungguh.

Yang juga ada dibenakku sesaat sebelum menghabiskan buku ini adalah betapa di dalam buku ini semua karakternya ‘bertumbuh’. Apa kau mengerti, maksudku? Dan proses itu lah, proses ‘bertumbuh’, yang menjadi sesuatu yang amazing dari buku ini; dari sekelumit kehidupan dan dunia Auggie.

Terimakasih, Palacio

Terimakasih mba penerjemah, Harisa

Terimakasih atas dongengnya dini hari ini.

3 thoughts on “[bukan review] Wonder

  1. Pingback: Wishful Wednesday #10 | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s