#34 Merentang Pelukan

Andi Gunawan, dkkCetakan I, November 2012x + 146 halamanMotion PublishingMy Rate: 3.5/5

Andi Gunawan, dkk
Cetakan I, November 2012
x + 146 halaman
Motion Publishing
My Rate: 3.5/5

Beruntung sekali mendapat buku ini secara gratis dari salah satu kontributor himpunan puisi ini. Thanks Mas UnguπŸ™‚. Tentang bersajak, berpuisi, berprosa, sungguh pengetahuanku sedikit sekali. Maka sepertinya pesan dari pemberi buku ini salah.

To: Ziyy

Terus Bersajak, ya!

-Toffan Ariefiadi

Karena pengetahuanku sedikit sekali, apalagi tentang menginterpretasi kata frasa berbunga yang menciri pada puisi. Tapi aku sendiri salut kepada mereka yang mencintai dan berekspresi melalui puisi. Mengapa? Karena aku menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat. Yang mampu memampatkan apa yang ingin mereka sampaikan dalam kata frasa yang selalu tidak banyak. Yang mampu memunculkan diksi-diksi yang tidak familiar tetapi begitu indah melihatnya menyelip dalam puisi yang dibuat. Apakah dalam kepribadian, mereka juga termasuk yang tidak berbasa-basi?

Himpunan puisi ini, ternyata adalah sebuah proyek. Dalam pengantarnya dikatakan bahwa tujuh hari sejak diumumkan adanya proyek Merentang Pelukan, katabergerak (pihak yang menghimpun) menerima 600 judul puisi yang masuk. Yang akhirnya dirampingkan menjadi 78 puisi dari 13 orang. Mereka adalah: Andi Gunawan, Andi Wirambara, Catur Indrawan, Dwi Krisdianto, Faisal Oddang, Fitrawan Umar, My DM, Muhammad Dirgantara, Pringabdi Abdi Surya, Pujanggi, Rafael Yanura, Rangga Rivelino, dan Toffan Ariefiadi. Diantara mereka adalah yang telah mempunyai karya dan ada yang baru lahir bersama himpunan puisi Merentang Pelukan ini. Dan puisi-puisi yang terbit di dalam Merentang Pelukan ini diseleksi oleh Aan Mansyur yang tersohor itu.

13 orang membawa puisi yang warnanya beragam, mengabarkan banyak diksi baru (bagi saya sendiri, khususnya), meski tidak dapat dipungkiri cinta dan rindu adalah diksi yang telah populer dan mudah ditemukan di puisi. Ada yang puisinyaΒ bold, ada yang santun. Ada yang singkat, ada yang memakai gaya prosa. Saya sendiri menyukai yang bergaya prosa. Karena lebih banyak menggunakan kata sehingga terasa lebih bercerita.

Ada banyak cerita yang belum selesai di antara kita. Namun, tenanglah. Kenangan akan mengulang sendiri cerita-ceritanya. Bisa saja di suatu hari yang baru. Di suatu tempat yang tak sama. Pada suatu perasaan yang berbeda.

Demi Kenangan yang Mengulang Sendiri Ceritanya

Fitrawan Umar – 2012

Dan berikut salah satu tentang rindu, kata yang selalu jadi primadona bagi para melankolisπŸ˜›

Tak perlu kau tahu seberapa banyak aku berdoa untukmu, kau cukup mengaminkannya agar Tuhan mau menjentikkan jari-Nya-lalu hilang segala nyeri di dada kita. Kautahu, rindu-rindu ini makin membangsat dan tidak tahu diri

Kepalaku Perekam yang Baik

Rangga Rivelino – 2012

Sedangkan berikut ini adalah puisi milik pemberi buku ini, Toffan Ariefiadi, sebelumnya pernah kulihat di-multiply-nya. Dan merupakan salah satu yang kufavoritkan.

di kamus

aku adalah ejaan yang terjalin

dari ramping huruf-hurufmu

lama mengendap di lembar-lembar bisu

menyesap sesak harum rindu yang dinanak

dengan tungku waktu dan jarak

 

di kamus

kau adalah bagian tak terpisah

dari tubuhku yang kian gelisah

jauntungmu yang tabah, hatiku yang gundah

menetaskan kata bernama kita

yang tercetak tebal pada naskah sejarah

 

di kamus

kita adalah sepasang lema

yang leluasa kembali ke tahun-tahun silam

saat kau dan aku saling diam

aku belum fasih melafazkan kau

kau masih samar membaca aku

Di Kamus Kita adalah Sepasang Lema

Toffan Ariefiadi – 2011

Aku sendiri merasakan suatu puisi itu bagus, selain dari pemakaian kata yang tidak terlalu umum tetapi maknanya tidak rumit ditemukan, adalah dari bagaimana puisi itu menceritakan dirinya kepada kita (pembaca) dan membuat kita merasa tidak perlu terburu-buru beralih ke halaman berikutnya. Sampai di titik di mana kita mulai berusaha menyama-nyamakan cerita kita dengan cerita yang baru disampaikan oleh puisi tersebut. *imoΒ 

10 thoughts on “#34 Merentang Pelukan

  1. huwaaa…

    “Yang mampu memampatkan apa yang ingin mereka sampaikan dalam kata frasa yang selalu tidak banyak.”

    ..memampatkan; lucuu… tapi suka. soalnya krasa banget. pengen memampatkan rasa atau apapun peristiwa kalo lg bikin puisis ;d

    Like

      • πŸ˜€

        tin suka memampatkan, karena kalau memampatkan seperti ada rasa yang disengaja agar tersamar segala yg diceritain

        *pdhl harusnya mah kan yg mudah dipahami yak, kalo tulisan ituh ;d

        Like

  2. Pingback: [Monthly Recap] April | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s