#33 Baju Bulan

Joko PinurboCetakan I, April 201390 halamanGramedia Pustaka Utama

Joko Pinurbo
Cetakan I, April 2013
90 halaman
Gramedia Pustaka Utama
My Rate 3/5

Ah, lihatlah. Sampulnya begitu cantik. I really fall for the cover. I fall for the full moon, always. Itulah mula ketertarikan pada buku ini. Selain memang (sebelum membacanya), aku mengantisipasi apa yang akan Jokpin tampilkan disini.

Sayang, aku tak memperhatikan apa pengantar yang ada dibelakang buku ini bahwa buku ini merupakan kumpulan puisinya yang dia hasilkan direntang tahun 1991-2012. Sehingga, saat membaca buku ini aku menemukan banyak puisi yang familiar. Semisal, aku kembali menemukan Surat Malam untuk Paska. Aku menemukan banyak lagi kata-kata ‘celana’.

Bahkan, sepertinya puisi dibawah ini merupakan twitnya. Kalau ingatanku tak salah, aku pernah melihatnya ditimelineku

Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku -2012

Sedangkan Baju Bulan yang menjadi judul kumpulan puisi ini berisikan ini:

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

Yang aku sendiri rasakan dari puisi ini adalah bahwa banyak orang sepakat, termasuk Jokpin dan mungkin saya, bahwa tabiatnya bulan yang bertengger di langit itu seperti menjadi saksi dan selalu punya caranya menjadi pelipur kesedihan (untuk sesiapa yang memandangnya). Menjadi obat bagi sesuatu yang haru dan tidak menyenangkan. Yang dari cahaya pantulan yang selalu dipertontonkannya itu, ia seolah menyerap kesedihan dan disaat yang bersamaan memantulkan kebahagiaan (atau perasaan ‘ringan’).

Seperti pada puisi ini, bulan menanggalkan ‘baju’nya, demi seorang anak kecil yang tak tahu kemana orangtuanya sementara dia begitu ingin mengenakan baju baru saat Lebaran. See, anak kecil itu mengadu kepada bulan. See, bulan memang paling mudah menjadi tempat peraduan bagi hati hati yang memiliki pengharapan.

Haduh, jadi kebawa suasana nih. Yang dijual Jokpin adalah bulan sih, dan memang aku selalu excited tentang bulan. Hehhe.

Ulasanku tentang karya Joko Pinurbo yang lain, di sini.

9 thoughts on “#33 Baju Bulan

  1. Pingback: [Monthly Recap] April | Faraziyya's Bookshelf

  2. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Day 3: Top Five Best Book Covers | Faraziyya's Bookshelf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s